Rabu, 22 Juli 2026

Tahun 2020, Target Sumut Bebas dari Malaria

Rabu, 27 April 2016 18:27 WIB
Tahun 2020, Target Sumut Bebas dari Malaria
Beritasumut.com/Ist
Nyamuk malaria
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut Afwan Lubis mengaku hingga kini pihaknya terus berupaya untuk menekan jumlah kasus penyakit malaria.Pada tahun 2020 mendatang, Sumut ditargetkan sudah terbebas dari penyakit tersebut.

"Penyakit malaria masih ditemukan, biarpun sejumlah daerah di Kabupaten/Kota sudah eliminasi. Target kita pada 2020 Sumut terbebas dari penyakit ini," ungkapnya kepada wartawan, Rabu (27/04/2016) di kantornya.

Afwan menjelaskan, saat ini sudah ada 16 daerah yang eliminasi penyakit malaria ini. Daerah tersebut adalah, Kota Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Siantar, Tanjung Balai, Sibolga, Sidempuan, Labusel, Humbahas, Simalungun, Karo, Sergei, Deli Serdang, Tapsel, Samosir serta Tobasa.

Untuk daerah yang banyak ditemukan kasus malaria di Sumut, terang Afwan ada di 3 daerah, yakni Kabupaten Madina, Batubara, serta Asahan. Namun daerah tertinggi berasal dari Madina dengan jumlah sebanyak 2.995 kasus."Pada tahun 2015, kasus malaria yang ditemukan sebesar 7.311 kasus. Sementara pada tahun 2016, bulan Januari ada 244 kasus dan Februari 206 kasus," paparnya.

Namun begitu, untuk Anual Parasit Insident (API) angka yang ada tersebut masih berada di bawah standart nasional.Sumut, API-nya masih berada di angka 0,51 sedangkan batasan standart nasional adalah 1,0."Pada tahun 2020 seluruh Kabupaten/Kota harapannya sudah eliminasi. Kalaupun ada terbawa dari daerah lain, API nya hanya sekitar 0,01," sebutnya.

Untuk melakukannya, Dinas Kesehatan kata Afwan melakukan sejumlah upaya. Antara lain ialah menguatkan petugas laboratorium di daerah supaya mendiagnosa kasus.Selain itu, pemberian kelambu juga diberikan untuk daerah yang banyak ditemukan kasus malaria. Kelambu itu berasal dari pusat langsung ke daerah.

Penyakit malaria ini selain mematikan, sambung Afwan juga sangat berbahaya bagi ibu hamil. Karena efeknya pada bayi bisa menyebabkan cacat kelahiran, prematur hingga berat badan lahir rendah (BBLR)."Tanda klinisnya ialah berkeringat, jantung berdetak lebih cepat serta tempratur panas sesuai parasit dari malarianya. Jadi diharap dapat segera ke pelayanan kesehatan supaya bisa mengetahui kepastiannya," pungkasnya.(BS01)

Tags
beritaTerkait
Delapan Orang Meninggal, Nias Selatan Darurat Wabah DBD dan Malaria
Sumut Dorong Sepuluh Kabupaten/Kota Eliminasi Malaria
Medan Bukan Daerah Endemis Malaria, Dinkes: Sebagian Besar Kasus Adalah Rujukan
Kasus Malaria di Medan Meningkat Dalam Tiga Tahun Terakhir
Sejumlah Daerah Kekosangan Stok Obat Malaria, Termasuk Sumut
Gencar Cegah Malaria, Satgas Yonif 126/KC Laksanakan Pengasapan Keliling Kampung di Perbatasan Papua
komentar
beritaTerbaru
hit tracker