Sabtu, 24 Oktober 2026

Menelusuri Sumur Tua, Mencari Minyak yang Tersisa

Kamis, 17 September 2026 21:10 WIB
Menelusuri Sumur Tua, Mencari Minyak yang Tersisa
BERITASUMUT.COM/IST
Sejumlah pekerja PT Elnusa Tbk saat mengecek pipa pengerjaan.
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung

beritasumut.com- Pagi belum tentu menjadi tanda dimulainya pekerjaan bagi Rawinder Singh asal Medan dan Aditya Prabhaswara asal Yogyakarta. Keduanya lebih akrab disapa Mas Rey dan Mas Prabhas.

Mereka bekerja di bagian Wireline Services, pekerjaan yang membuat keduanya harus siap ketika sebuah sumur minyak membutuhkan layanan. Jadwal kerja mereka 20 hari bekerja dan 10 hari beristirahat. Namun, waktu istirahat tidak selalu berarti benar-benar lepas dari pekerjaan.

"Wireline tuh salah satu servis yang on call. Artinya, bisa dipanggil kapan aja dan nggak kenal waktu," kata Adi, saat diwawancarai, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga:

Bahkan ketika baru satu atau dua hari menjalani masa off, panggilan untuk kembali ke lapangan masih mungkin datang. Pekerjaan Wireline mengikuti kebutuhan operasi di lokasi sumur. Ketika pekerjaan dibutuhkan, orang dan peralatan harus siap.

Lokasi yang harus mereka datangi pun tidak selalu dekat. Mereka yang telah bekerja sebagai Wireline meninggalkan keluarga di kota asalnya sudah hampir mengelilingi Sabang hingga Merauke.

Baca Juga:

Selama belasan tahun bekerja sebagai Wireline, perjalanan tiga jam, enam jam, sebelas jam, hingga 20 jam pernah menjadi bagian dari pekerjaan mereka. Jarak tersebut menjadi salah satu risiko yang harus diperhitungkan bersama pekerjaan yang berkaitan dengan bahan peledak dan sumber radioaktif.

Karena itu, perjalanan ke lapangan tidak sekadar persoalan mencapai lokasi. Kondisi pengemudi dan sistem keselamatan juga menjadi bagian dari persiapan sebelum pekerjaan dimulai.

Rey dan Adi mungkin lebih sering berada di balik pekerjaan yang tidak banyak terlihat dari permukaan. Ketika produksi sebuah sumur turun, orang di luar mungkin hanya melihat angka yang berubah. Tetapi angka itu belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi beberapa kilometer di bawah tanah.

"Sederhananya, kalau permukaan ini hanya menunjukkan bahwa produksi sebuah sumur itu turun atau naik, nah kita dari Wireline itu membantu mencari tahu apa sih yang sebenarnya terjadi dalam sumur itu," ujar Rey.

Untuk mengetahuinya, instrumen diturunkan menggunakan kabel ke dalam sumur. Kabel Wireline yang digunakan dapat mencapai sekitar enam kilometer dalam satu drum. Dalam pekerjaan tertentu, instrumen bahkan pernah diturunkan hingga sekitar lima kilometer.

Dari kedalaman itu, informasi mengenai kondisi sumur dikumpulkan.

Pekerjaannya dapat berupa logging untuk melihat karakteristik formasi, pengambilan data dan sampel fluida, pembacaan temperatur, hingga pekerjaan yang berkaitan dengan perforasi. Setelah casing terpasang dan disemen, Wireline juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi sumur, termasuk memastikan integritas semen.

Semua informasi tersebut membantu menjawab satu persoalan: apa yang sebenarnya masih terjadi di dalam sumur?

Sebab produksi yang menurun tidak selalu berarti minyak di bawah tanah telah habis.

Sumur minyak memiliki cerita yang panjang

Ada yang telah berproduksi selama puluhan tahun. Tetapi usia bukan satu-satunya alasan sebuah sumur berhenti. Yang perlu dilihat adalah apakah masih terdapat zona reservoir yang mengandung hidrokarbon dan memungkinkan untuk diproduksikan secara ekonomis.

Artinya, sumur tua tidak otomatis menjadi sumur mati.

Produksi dari zona yang selama ini diandalkan bisa saja telah menurun. Air mungkin semakin banyak ikut terproduksi. Aliran minyak bisa semakin kecil. Namun kondisi tersebut belum selalu menjadi akhir dari sebuah sumur.

Ahmad Syibli, Business Manager Pressure & Pumping Services PT Elnusa Tbk, melihat persoalan tersebut dari sisi lain: sebuah sumur perlu dipelajari kembali.

Selama bertahun-tahun berproduksi, sebuah sumur mungkin baru mengambil sebagian dari potensi yang tersedia. Ketika produksinya menurun, sejarah produksi dan kondisi bawah permukaan perlu kembali dipelajari. Data baru dari dalam sumur kemudian digunakan untuk memperbarui gambaran mengenai potensi yang masih tersisa.

"Data historinya seperti apa, produksinya seperti apa, kita ambil data lagi, sehingga kita tahu, oh sumur ini masih ada potensial," ujar Syibli, Kamis (17/9/2026).

Data tersebut kemudian mempertemukan pekerjaan Rey dan Adi dengan pekerjaan tim lain.

Apa yang mereka dapatkan dari dalam sumur tidak berhenti sebagai hasil pembacaan alat.

Informasi tersebut menjadi bagian dari pertimbangan untuk menentukan tindakan berikutnya.

Sebab zona yang dulu menghasilkan minyak belum tentu menjadi satu-satunya zona yang masih memiliki potensi.

Syibli memberi gambaran, sebuah sumur yang sebelumnya diproduksikan pada kedalaman tertentu dapat saja memiliki potensi pada interval lain.

"Misalnya tadinya kedalamannya seribu, ternyata potensinya ada di 800 meter di atasnya. Kita akan perforasi lagi," katanya.

Dengan begitu, menghidupkan kembali sumur lama bukan perkara menyalakan kembali pompa atau peralatan yang pernah digunakan.

Ada data yang harus dibaca. Ada kondisi yang harus diperiksa. Ada perhitungan yang harus dilakukan. Dan ada keputusan apakah sumur tersebut memang masih layak diberi kesempatan.

Jika Wireline membantu mendapatkan gambaran mengenai kondisi sumur, pekerjaan berikutnya dapat bergerak ke tahap intervensi.

Di bagian Pressure & Pumping, salah satu pekerjaan yang dilakukan adalah stimulasi. Chemical tertentu diinjeksikan ke dalam sumur dengan mempertimbangkan karakteristik sumur dan batuannya. Tujuannya adalah membantu mengoptimalkan kembali aliran produksi. Namun, chemical bukan jawaban yang bisa diberikan kepada semua sumur.

Sebelum dipompakan, persoalan di dalam sumur harus diketahui terlebih dahulu. Penurunan produksi bisa disebabkan oleh kondisi yang berbeda, sehingga perlakuannya pun tidak dapat disamakan.

Salah satu teknologi yang dibahas Syibli adalah formulasi chemical dengan mekanisme acid delay. Berbeda dengan asam yang bereaksi cepat pada titik awal kontak, formulasi tersebut dirancang untuk menunda reaksi sehingga penetrasinya dapat menjangkau bagian formasi yang dituju.

Teknologi tersebut telah diuji pada salah satu sumur. Menurut Syibli, produksi meningkat dan bahkan melampaui perkiraan tim subsurface.

Salah satu contoh yang disebut adalah Sumur Lembak 5 di Zona 4. Di sumur tersebut, stimulasi menggunakan chemical yang dikembangkan tim dilaporkan menghasilkan produksi di atas target sebelumnya. Sebab teknologi pada akhirnya tidak cukup hanya terdengar baru.

Pertanyaannya kembali ke sumur: apakah produksi meningkat, seberapa besar peningkatannya, dan apakah hasil tersebut bertahan secara teknis maupun ekonomis?

Dalam kasus lain yang diceritakan Syibli, sebuah sumur bahkan pernah disemen dan ditutup. Setelah tim subsurface melakukan kajian, potensi yang masih tersisa ditemukan. Sumur tersebut kemudian diaktifkan kembali, diuji dan disimulasi sebelum kembali diproduksikan.

Kisah itu menunjukkan keputusan mengenai sebuah sumur tidak selalu berhenti pada kondisi terakhir ketika sumur tersebut ditutup.

Ada kemungkinan untuk memeriksanya kembali. Tetapi ada pula kemungkinan hasil pemeriksaan justru menunjukkan intervensi tidak lagi layak dilakukan. Pekerjaan semacam itu berlangsung dalam skala yang lebih besar.

Sepanjang 2025, Elnusa mengerjakan program workover dan well intervention pada 51 sumur milik Pertamina EP Zona 4. Program tersebut dilaporkan memberikan tambahan produksi minyak sebesar 432 barel per hari. Sumur-sumur tersebut tersebar di sejumlah lapangan, antara lain Prabumulih, Limau, Pendopo, Adera dan Ramba.

Angka 432 barel per hari tidak berasal dari satu pekerjaan yang seragam

Kondisi setiap sumur berbeda. Ada yang membutuhkan evaluasi. Ada yang membutuhkan intervensi. Ada yang memerlukan stimulasi. Ada pula yang harus melewati pemeriksaan terlebih dahulu sebelum diputuskan layak dikerjakan.

Di balik angka produksi tersebut, ada rangkaian pekerjaan yang dimulai jauh sebelum minyak kembali terlihat di permukaan.

Wireline mengumpulkan data dari dalam sumur. Tim subsurface membaca dan menganalisisnya. Kemudian pekerjaan intervensi dirancang berdasarkan kondisi yang ditemukan. Pressure & Pumping menjalankan pekerjaan sesuai kebutuhan sumur.

Setiap tahap membawa konsekuensi terhadap biaya, waktu, risiko operasi dan hasil produksi. Sebab menemukan potensi hidrokarbon saja belum cukup. Potensi tersebut harus dapat diproduksikan dengan biaya dan risiko yang masuk akal.

Elnusa Tbk memaparkan terdapat sekitar 4.500 idle wells dan 24 idle fields/structures yang menjadi bagian dari peluang pengembangan aset. Materi tersebut juga menempatkan efisiensi, riset dan pengembangan, teknologi serta inovasi sebagai bagian penting dalam menghadapi meningkatnya biaya bisnis hulu minyak dan gas.

Angka tersebut tidak berarti ribuan sumur lama dapat begitu saja dihidupkan kembali. Justru sebaliknya.

Setiap sumur perlu diperiksa satu per satu. Masih adakah hidrokarbonnya? Di zona mana? Bagaimana kondisi sumurnya? Berapa biaya intervensinya? Apakah peralatannya masih memadai? Bagaimana risiko operasinya? Dan yang tidak kalah penting, apakah hasil yang diperkirakan sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan?

Syibli mengatakan, ketika potensi masih ada dan secara ekonomi layak, memproduksikan kembali sumur yang sudah ada dapat lebih murah dibandingkan membuat sumur baru.

Dengan demikian, umur sumur hanya menjadi salah satu informasi. Keputusan akhirnya tetap ditentukan oleh gabungan data bawah permukaan, kondisi teknis dan keekonomian.

Di lapangan, proses itu berlangsung melalui pekerjaan yang sering kali tidak terlihat dari permukaan.

Ada Rey yang membantu mencari tahu kondisi di dalam sumur. Ada Adi yang harus tetap siap ketika panggilan pekerjaan datang, bahkan ketika masa istirahatnya baru berjalan beberapa hari. Ada kabel yang turun hingga ribuan meter serta instrumen yang membawa kembali data.

Tim kemudian membaca data tersebut untuk menentukan apakah sebuah sumur masih memiliki kemungkinan. Bahkan ada pekerjaan intervensi ketika data menunjukkan bahwa kesempatan itu memang layak dicoba.

Semua bertemu pada satu tempat yang sama yakni lubang sumur. Dari permukaan, yang paling mudah dilihat memang angka produksi.

Tetapi bagi orang-orang yang bekerja di sekitarnya, angka itu bukan akhir dari cerita. Ia justru menjadi alasan untuk mencari tahu apa yang terjadi di bawahnya. Sebab sebuah sumur tua tidak otomatis berarti sumur yang selesai.

Selama data menunjukkan masih ada kemungkinan, sumur itu dapat diperiksa kembali. Teknologi membantu memperoleh informasi yang sebelumnya belum tersedia, sementara keputusan untuk mengintervensinya tetap bergantung pada kondisi teknis, risiko dan keekonomian.

Bagi Rey dan Adi, proses tersebut dimulai dari perjalanan menuju lokasi, menyiapkan peralatan, lalu menurunkan instrumen ke dalam sumur.

Setelah itu, jawabannya datang dari data yang mereka bawa kembali. Hingga pada akhirnya, dari apa yang kembali keluar ke permukaan.

Tags
beritaTerkait
Mahasiswa Dibegal di Lahan Garapan Deli Serdang, Pelaku Sembunyi dalam Sumur
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM untuk Nelayan di Nias Utara
Percepat Hilirisasi, Pemerintah Akan Bangun Refinery 1 Juta Barrel
Produksi Minyak PHE Tembus 553,67 Ribu Barel/Hari
Mentan Temukan Minyakita Kemasan 1 Liter Disunat, Isi Hanya 750 ML
Penjelasan Pertamina soal Impor Minyak Mentah yang Tersangkut Kasus Korupsi
komentar
beritaTerbaru
hit tracker