Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Semoga anda salah satu pencinta olahraga di negeri ini dan setuju bahwa prestasi olahraga bangsa ini sedang melempem. Pada sektor sepakbola, timnas sepakbola kita banyak kalahnya daripada menangnya. Kalaupun menang, itu karena bertemu dengan tim tim lemah seperti timnas Philipina, Timor Leste. Kalau sudah berhadapan dengan tim sekelas Irak, Arab Saudi, Australia, Valencia, Malaysia, rasanya dapat dipastikan akan kalah.
Pada sektor boxing, hanya Chris “Dragon” Jhon yang tetap berhasil mempertahankan kejuaraan dunia setelah pertandingan yang diputuskan no contest dengan Satoshi Hosono asal Jepang. Dan Daud Cino Jordan kalah KO dari Simpiwe Vetyeka pada 15 April yang lalu. Jauh sebelumnyadi Tahun 1980-an bangsa ini pernah punya Elyas Pical yang menjadi juara dunia dan terkenal dengan pukulan KO. Namun, sekarang, bangsa ini tidak lagi dapat melahirkan petinju sekelas Elyas Pical.
Belakangan, bulu tangkis, yang juga menjadi andalan, sudah melempem. Pada pertandingan tingkat dunia, sudah tidak tidak lagi di perhitungkan. Di Tahun 2012, RRC akhirnya menyandingkan Juara Tomas dan Uber tunggal putra dan putri. Di jamannya, siapa yang tidak kenal dengan Rudi Hartono, Susi Susanti, Alan Budi Kusumah, Ardi Bernardus Wiranata, Haryanto Arbie, Mia Audina, Rexi Mainaky, Ricky Subagya, dan sederet nama lainnya. Mereka adalah raja dan ratu bulu tangkis dunia, bukan hanya Indonesia. Namun, sekarang, bangsa ini tidak lagi dapat melahirkan nama nama sekelas mereka.
Mengurut masalah melempemnya prestasi olahraga nasional, kata seorang kawan mirip-mirip seperti kita sedang berkeliling dalam satu lingkaran, tidak jelas pangkalnya dimana, dan ujungnya dimana. Semakin kita banyak berkeliling menganalisisnya, semakin tidak jelas pangkalnya. Namun demikian, adalah keharusan untuk menentukan pangkal soalnya ada dimana. Sehingga dapat memulainya dengan baik. Kita tak harus bersepakat menentukan pangkal masalah utamanya. Diperlukan satu perubahan mendasar pada setiap diri pelaku, bangunan sistem, dan mental dan semangat positif. Ada hal besar yang telah menyebabkan prestasi olah raga nasional saat ini melempem dan jatuh pada titik nadir paling rendah.
“Tidak ada lagi proses normal, keras, semangat tinggi untuk menjadi yang terbaik”. Ketika timnas melawan Intermilan di Tahun 2012 lalu, persiapan dan latihan timas hanya sekitar dua minggu. Dengan waktu seringkas ini, lebih tepat disebut sebagai “sekadar melepas dan melakukan karena sudah terjadwal”. Tentu, waktu yang ringkas seperti ini bukan hal dapat disebut persiapan baik. Kalo mau jujur, praktis 80 persen energi sepak bola Indonesia dihabiskan pada masalah pertengkaran kepengurusan. Ada lagi info menarik, latihan fisik timnas sangat rendah kualitasnya, cepat capek, dan infonya banyak pemain timnas adalah perokok, wow …….. ini luar biasa. Sewaktu melawan Valencia tahun lalu, kabarnya persiapan timnas hanya seminggu, dan memang hasilnya pun tampak adil; 5-0 buat kemenangan Valencia. Pada saat timnas lawan Intermilan, hasilnya pun 4-2 buat kemenangan Intermilan.
Kabarnya, pada awal Juni mendatang, Timnas Belanda akan datang lawan Timnas Indonesia. Bila seandainya saya pelatih Timnas Indonesia, syarat utama yang saya pilih untuk masuk sebagai tim adalah: mampu berlari sekencang-kencangnya selama 20 menit tanpa henti (paling tidak lari sekencang larinya Andik Vermansyah - ini bertujuan mengukur ketahanan nafas/speed berlari – agar tidak seperti selama ini, berlari kencang beberapa saat/detik, udah pada loyo). Memiliki akurasi sepakan tingkat tinggi, baik tendangan bebas, tendangan sambil berlari kencang, tendangan dalam ruang sempit (ini untuk menjawan masalah yang selama ini maksud hati nendang ke gawang lawan, larinya bola entah kemana, kalo tidak jauh di sisi kanan dan kiri gawang lawan, bola lari tinggi ke atas gawang).
Memiliki attitude positif, pekerja keras, tidak cepat menyalahkan kawan (ini menjawab selama ini bila timnas sudah kebobolan duluan, sangat sulit untuk bangkit kembali). Memiliki skill memainkan bola (pengusaan, umpan lambung, umpan jauh, umpan silang, operan pendek, operan panjang, mampu berbagi – selama ini, banyak kejadian, maksudnya mengoper ke kawan, eh nyatanya ngoper ke musuh, bahkan sangat minim kombinasi umpang silang jauh). Inilah sarat utama yang saya berlakukan, urutan nomor satu adalah terpenting dan sampai seterusnya. Sejak saat ini, timnas harus latihan bersama setiap hari. Kebutuhan ketahanan fisik adalah yang utama saat ini, soal bermain menyerang atau bertahan dan serangan balik, menurut saya nomor belakangan. Dengan fisik lemah, nafas pas-pasan, tak usah berkhayal menerapkan serangan balik cepat.
(Kamal Pane)
Tags
beritaTerkait
komentar