Senin, 15 Juni 2026

Berlatih, Mengulang & Kerja Keras

Selasa, 23 April 2013 11:19 WIB
Berlatih, Mengulang & Kerja Keras
Ist
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Disebutkan dalam banyak catatan, bahwa Thomas Alva Edison, penemu, ilmuan dan pengusaha asal Negeri Paman Sam adalah seorang yang gemar mencoba, mencoba dalam hanyak hal. Sekalipun bukan seorang yang lahir dari pendidikan formal, namun ketekunan mempelajari, praktek, mengulang dan melakukan percobaan telah memberinya pengetahuan yang luar biasa. Capaian besar yang ditelah didapat oleh Thomas, ternyata lahir dari praktik sendiri, dan Thomas adalah seorang siswa yang mendapat nilai buruk di sekolah formal, itulah sebabnya ibunya akhirnya mengajar sendiri anaknya di rumah. Thomas hingga dapat menemukan lampu modern, gromofon dan menjadi pendiri General Electric adalah hasil kerja keras luar biasa. Thomas dengan segala kemampuannya telah meninggalkan umat manusia yang sesuatu yang luar biasa, yaitu lampu listrik modren yang dinikmati semua umat manusia saat ini. Dia juga meninggalkan manusia adigium luar biasa, “jenius adalah, 1 persen inspirasi dan 99 persen keringat, tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras”.
 
Cristiano Ronaldo, pesepakbola profesional asal Portugal, mantan pemain Menchester United, dan kini berlabuh di Real Madrid, memperoleh capaian sekarang dengan kerja keras luar biasa. Lari yang sangat cepat, akurasi tendangan bebas yang paling akurat, umpan lambung dan overan dengan akurasi tinggi, ketahanan fisik yang luar biasa, didapat dengan cara yang luar biasa. Semua itu tidak datang dalam mimpi, melainkan dari kerja keras, latihan, mengulang dan mengulang. Rekan setimnya, Coentrao menjelaskan bahwa Ronaldo sering menghabiskan waktunya sendiri hanya untuk melatih skill tendangan bebas. Bayangkan, untuk menunjang ketahanan fisiknya, kabarnya Ronaldo melakukan 3.000 kali sit up setiap hari, latihan beban luar biasa (mengangkat, mendorong, berlari dengan beban seperti latihan binaragawan). Hal yang sama hampir dilakukan oleh olahragawan profesional yang keluar sebagai juara.
 
Saya mencoba menarik kerja keras diatas kedalam tradisi kita, kebiasaan kita, sejauh manakah keinginan kita dalam melakukan sesuatu, untuk mencapai prestasi tertentu, tanpa harus dengan cara gampang, lintas, dan pragmatis. Inilah yang sudah menjadi rahasia umum Bangsa Indoensia: mau masuk pegawai  juga harus bayar, pengaturan skor olahraga, perekrutan tim olah raga bersifat kolusi. Akumulasi daari semua permasalah tersebut, menyebabkan sulitnya prestasi olah raga nasional bangkit.

Bangsa ini memang terlanjur tidak memiliki tipikal budaya seperti Jepang, pekerja keras, malu bila gagal dalam tugas, dan malu bila berbuat salah. Itu jugalah sebabnya, biarpun seseorang sudah ditetapkan sebagai tersangka, tetap tidak malu menyandang jabatan tertentu. Mantan pejabat intelijen Amerika, diketahui publik memiliki Wanita Idaman Lain (WIL) langsung mundur dari jabatannya. Namun di  Negeri Nusantara ini, punya WIl 2-3 orang adalah hal lumrah dan tidak masalah. Di Jepang dan Cina, pejabat yang diketahui menerima suap, langsung mengundurkan diri dari jabatannya. Pekerja keras, teguh, tidak mencari cara mudah, wajib kita buang dari bangsa ini. Sekali lagi, berlatih, mengulang, dan kerja keras pada setiap bidang kita masing-masing menjadi hal utama. (Kamal Pane)

Tags
beritaTerkait
Melempem, Kok Lama Kali…
UN dan Kecakapan Kerja Kita
komentar
beritaTerbaru
hit tracker