Kamis, 21 Mei 2026

Jelang Pendaftaran Capres dan Cawapres, Pembentukan Poros Ketiga Baik untuk Demokrasi

Kamis, 12 Juli 2018 23:10 WIB
Jelang Pendaftaran Capres dan Cawapres, Pembentukan Poros Ketiga Baik untuk Demokrasi
BERITASUMUT.COM/BS07
Ikhyar Velayati Harahap
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasatu.com-Menjelang masa pendaftaran Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) pada 4-10 Agustus 2018, suasana politik terus mencair. Komunikasi antara pimpinan partai politik (Parpol) pun terus terjalin, segala sesuatu masih sangat mungkin terjadi, termasuk poros baru dengan mengusung Capres dan Cawapres alternatif di luar Jokowi maupun Prabowo.
 
Ketua  Aliansi Santri Nasional (ASN) Provinsi Sumut, Ikhyar Velayati Harahap menyebut poros baru akan berdampak positif  kepada dinamika politik yang ada, termasuk kemungkinan koalisi Partai Golkar dan PKB.
 
“Pertemuan Golkar-PKB sangat positif bagi demokrasi Indonesia, karena situasi politik terkini sangat tegang dan rentan membuat perpecahan di tingkat akar rumput. Dua poros politik yang muncul saat ini tidak bisa mengakomodir aspirasi politik yang beragam di akar rumput," ujar Ikhyar kepada wartawan, Kamis (12/07/2018).
 
Menurutnya, sebagian masyarakat, khususnya akar rumput islam tradisional dan islam salafi kecewa dengan kepemimpinan Jokowi tetapi juga tidak memilih Prabowo. Kata dia, dengan munculnya alternatif poros ketiga bisa membuat politik lebih mencair dan terhindar dari konflik politik, karena dua poros yang saling berhadapan membuat pesta demokrasi menjadi pertarungan politik , ini tidak sehat bagi konsolidasi anak bangsa pasca Pilpres 2019.
 
Ia menyebut sesuai dengan PT 20-25 % untuk mengusung capres/cawapres telah dimiliki oleh Golkar-PKB bahkan melebihi. Hasil pemilu 2014 Partai Golkar meraih 18.432.312 (14,75 %) plus Partai Kebangkitan Bangsa 11.298.957 (9,04 %) 
 
"Koalisi Golkar-PKB akan menjadi lawan yang tangguh bagi Jokowi ataupun Prabowo. Karena kedua partai ini mempunyai basis tradisional yang loyal dan mengakar hingga ke tingkat desa dan lingkungan. PKB punya NU sementara Golkar punya sayap dari berbagai sektor yang sudah mapan selama puluhan tahun, hantaman dan pukulan paska reformasi terhadap Partai Golkar saat pemilu 1999 saja Golkar masih mampu meraih posisi kedua dari 48 partai yang ikut pemilu saat itu," paparnya.
 
Kemudian faktor krisis ekonomi saat ini, daya beli rendah, harga harga naik, pengganguran bertambah menjadi kredit point bagi koalisi Golkar-PKB untuk meraih simpati pemilih."Ada romantisme sejarah yang terbangun di masyarakat Indonesia  yang merindukan kembali era Orde Baru yang di anggap lebih sejahtera dan lebih aman di banding era saat ini," tutupnya. (BS07)
 

Tags
beritaTerkait
Hadiri Bukber Fraksi PD, AHY: Suarakan Aspirasi Rakyat, Sukseskan Pemerintahan Prabowo
Kongres VI Demokrat Bakal Pilih Ketum hingga Pengisi Posisi Bendum
Jawaban Prabowo Saat Diminta Gerindra Maju Capres Lagi di 2029
Rapimnas Berubah Jadi KLB, Prabowo Tetap Jadi Ketum Gerindra 2025-2030
Dirgahayu ke-17 Partai Gerindra, Walikota Medan: Selalu Dukung Pembangunan yang Dilakukan Pemko Medan
Yusril Bahas Peluang MK Hapus Ambang Batas DPR, Golkar: UU-nya Belum Diubah
komentar
beritaTerbaru
hit tracker