Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Pemerintah Provinsi Sumut (Pemprov Sumug) akan menanggung biaya sekaligus mencari tempat penampungan terhadap seorang anak berinisial MD (8), warga Jalan Sidomulyo, Dusun 4, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Kecamatan Deli Serdang yang dianiaya keluarga Yasmi Laila hingga membuat tubuhnya mengalami 25 persen luka bakar.
Kepala Biro PP Anak dan KB Provsu, Nurlela bersama Ketua KPAID Sumut, Zahrin Piliang yang menjenguk MD di RS Bhayangkara, akhir pekan kemarin, kondisi MD terlihat sudah semakin membaik. Bahkan, sudah terlihat bermain boneka dan makan dengan lahap. Meski ketika akan duduk ataupun bergeser dari tempat tidur, punggungnya masih terasa sakit akibat luka bakar siraman air panas yang dideranya. “Aduh sakit,” ujarnya merintih.
Suster RS Bhayangkara yang ditemui sedang merawat MD, Mika bersama pengawas RS Aipda Ani Ariani mengatakan dari hasil diagnosis dokter MD mengalami luka bakar di seluruh badanya sebesar 25 persen. Luka bakar yang dialaminya juga berada pada daerah vital yakni punggung dan selangkangan. “Makanya MD jadi kesulitan untuk duduk dan mengenakan pakaian,” ujar Mika.
Selain mengalami luka bakar, MD juga didiagnosis mengalami anemia juga mengalami hypo alubumen yakni kekurangan cairan di tubuh. “Selain itu kami juga menemukan bekas-bekas luka lama di seluruh badannya, juga luka bekas sayatan pisau. Di kakinya juga kami temukan seperti bekas ikatan dan ketika masuk ke RS mata sebelah kanannya memar karena dipukul pakai kayu,” jelas Mika.
Tak hanya itu, lanjut Mika tangan sebelah kiri MD juga didiagnosis patah dan kedua kakinya bengkok atau tidak bisa lurus. Sejak sepekan berada di RS Bhayangkara yakni Sabtu (17/09/2016) lalu, MD sudah menerima perawatan mulai dari pemberian transfusi darah, juga perawatan untuk luka bakar.
Kondisi MD yang sudah berangsur membaik tak jauh beda dengan HL (28) yang juga merupakan korban penganiayaan yang dilakukan keluarga Yasmin Laia (38). Di sekujur tubuh HL juga terlihat banyak bekas luka akibat dipukul dan dihantam pakai benda keras.
Penganiayaan yang dilakukan terhadap dirinya dikatakan HL hanyalah disebabkan hal-hal yang sepele seperti tidak bersih mencuci piring, tidak mencuci baju atau hal lainnya. “Kami dipukulnya karena hal sepelenya, contoh kalau kami tidak bersih mencuci piring, kalau si MD disiram air panas karena dia ketahuan mengambil susu,” ujar HL yang mengaku pernah dipukul kupingnya hingga sobek, dadanya dihantam dengan gilingan cabai, dan mulut serta kepalanya yang dipukul pakai bambu.
Kepala Biro PP, Anak dan KB Sumut, Nurlela mengatakan dirinya sangat prihatin terhadap kondisi MD dan HL, oleh karena itulah pihaknya akan berupaya sekuat tenaga untuk mencari solusi kepada kedua korban.“Setelah kita menjenguk korban maka untuk biaya perawatannya dan penanganannya pasca keluar dari RS akan kita upayakan untuk tangani bersama. Hari Senin (26/09/2016), kami akan melakukan rapat antar instansi terkait untuk mencari solusi untuk korban,” ujar Nurlela.
Ketua KPAID Sumut, Zahrin Piliang mengapresiasi respon yang dilakukan Kepala Biro PP, Anak dan KB Provsu, diharapkannya dengan hal ini menunjukkan ke depan usaha untuk mengatasi persoalan anak bisa ditingkatkan.“Pasca perawatan kita harapkan Dinas terkait seperti Dinkes dapat memberikan trauma healing kepada MD, sebab traumanya ini akan sulit untuk disembuhkan hingga dia besar nanti, selain itu Dinsos juga kita harapkan dapat mencari tempat penampungannya, jika hingga saat ini aparat kepolisian tak juga menemukan pihak keluarga MD di Gunung Sitoli,” jelas Zahrin.(BS03)
Tags
beritaTerkait
komentar