Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Walikota Medan Dzulmi Eldin diminta untuk melakukan evaluasi kepada Kepala Dinas Kesehatan Medan Usma Polita. Hal tersebut diungkapkan oleh anggota Komisi E DPRD Sumut Nezar Djoeli, menyikapi masih tingginya kasus gizi buruk di Kota Medan tahun 2016 yakni sebanyak 115 orang.
Nezar mengungkapkan, Kadinkes Medan jangan beralasan dengan nilai ambang batas 0.058 itu. Apalagi, dalam kunjungannya baru-baru ini ke daerah Belawan, menemukan kasus anak yang menderita gizi buruk. “115 orang gizi buruk itukan yang terdata. Contohnya di Kampung Nelayan yang saya temui anak penderita gizi buruk. Kalau dicari lagi mungkin masih banyak yang mengalami gizi buruk,” terang Nezar.
Senada dengan Nezar, anggota komisi A DPRD Medan Rajuddin Sagala meminta Walikota Medan untuk melakukan evaluasi Kadinkes Medan Usma Polita.Menurutnya, banyaknya jumlah kasus gizi buruk di Medan dikarenakan pengawasan yang kurang terpadu dan SKPD terkait kurang menyentuh seperti melakukan pengawasan di wilayah perbatasan Medan dengan Deli Serdang, Medan dengan Pancur Batu.
“Ini yang kurang dimonitor. Kurang gencar turun ke masyarakat terutama ke masyarakat berpenghasilan rendah. Kurangnya sosialisasi, jadi masyarakat kalau ada gizi buruk tau harus melapor kemana. SKPD terkait buat spanduk kalau ada kasus gizi buruk kemana masyarakat harus melapor. Ini tidak ada,” ujarnya.
Anggota DPRD dari PKS ini juga menilai, kasus gizi buruk dari tahun ke tahun tetap ada, ini harusnya jadi pengalaman berharga. “Kasusnya dari tahun ke tahun tetap ada. Kalau dicari betul betul kasusnya banyak tidak hanya yang terdata. Perlu di evaluasi Kepala Dinas Kesehatannya,” tegasnya.
Sebelumnya, Kadinkes Kota Medan Usma Polita mengaku, meski kasus gizi buruk yang ditemukan tahun 2016 berkisar sebanyak 120 kasus. Namun, menurut dia angka tersebut masih berada di bawah batas ambang endemis.Usma mengatakan, jumlah tersebut yakni berkisar 0,058 persen. Sedangkan suatu kota baru dinyatakan endemis jika penduduknya bergizi buruk ketika sudah mencapai 3,6 persen. "Jadi untuk kasus gizi buruk di Medan sebetulnya masih di bawah ambang endemis," ungkapnya.
Karenanya, Usma membantah jika kondisi gizi buruk di Medan tinggi. Pihaknya mensinyalir kemungkinan ada data yang tidak valid dalam penentuan jumlah kasus tersebut."Dari data Medan nomor dua gizi buruk se-Sumatera Utara (Sumut) mungkin datanya tidak valid. Tetapi yang penting bagaimana kita menangani pasien gizi buruk atau gizi kurang ke depannya," jelasnya. (BS03)
Tags
beritaTerkait
komentar