Sabtu, 09 Mei 2026

Tahun Ini, 160 Hektar Lahan di Sumut Budidayakan Padi Organik

Jumat, 20 Oktober 2017 03:30 WIB
Tahun Ini, 160 Hektar Lahan di Sumut Budidayakan Padi Organik
BERITASUMUT.COM/BS03
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Salah satu masalah utama yang dihadapi dalam pertanian dengan sistem konvensional adalah terjadinya proses degradasi lahan pertanian lahan pertanian secara terus menerus karena dibebani dengan pemberian pupuk kimia yang over intensive sehingga menurunnya kesuburan tanah. Di samping itu juga berdampak jangka panjang pada kesehatan masyarakat selaku konsumen. 
 
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia dalam budidaya pertanian, maka pengembangan pertanian organik menjadi menarik perhatian baik ditingkat produsen maupun konsumen. Selain itu para konsumen yang mulai memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan semakin meningkatkan permintaan terhadap produk organik. 
 
"Bahkan Pola hidup sehat yang ramah lingkungan sudah menjadi trend baru dan telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food savety atributtes), memiliki kandungan nutrisi tinggi (nutritional hight atributtes) dan ramah lingkungan (enviromentally friendly)," ujar Gubernur Sumut Dr Ir H Tengku Erry Nuradi MSi saat membuka seminar nasional Refleksi 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, 1000 Desa Organik atau Organik di 1000 Desa yang digelar di Hotel Danau Toba, Medan, Kamis (19/10/2017).
 
Hadir dalam kegiatan tersebut Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Kemendagri Dody Edward, Kasubid Padi Tadah Hujan dan Lahan Kering Kementan RI Ir Dewi Taliroso MSi Kementan RI, Bupati Sergai Ir H Soekirman, Presiden AOI Wahyudi S Sos, Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Provsu Azhar Harahap, perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kota se-Sumut,perwakilan perguruan tinggi dan para perwakilan Lemabag Pertanian se Indonesia. 
 
Saat ini Provsu telah mengembangkan pertanian organik terutama untuk padi dan hortikultura. Bahkan pada tahun 2016 terdapat lima desa di Kabupaten Deli Serdang, Serdangbedagai dan Karo yang telah memperoleh sertifikat untuk tanaman padi dan palawija serta buah dan sayuran (semangka dan kacang kuning) dari lembaga sertifikasi organik seloliman (Ledsos) yang berpusat di Jawa Timur. Untuk tahun 2017 melalui dukungan pembiayaan dari kementrian Pertanian sedang dirintis kegiatan fasilitasi penerapan budidaya padi organik di lima desa dari Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Simalungun dan Serdang Bedagai dengan total luas lahan 160 hektar. 
 
Untuk mewujudkan desa organik lanjut Gubsu dibutuhkan pendampingan yang intensif dari berbagai pihak terkait, termasuk didalamnya pemerintah melalui para penyuluh pertanian di lapangan dan pemerhati bidang pertanian seperti Yayasan BITRA Indonesia yang tujuan keberadaannya di masyarakat dalam mengembangkan sumber daya alam sumber daya manusia untuk meningkatkan taraf hidup, kesejahteraan sosial dan martabatnya. 
 
Oleh karena itu Gubsu mengharapkan SKPD lingkup pertanian baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten Kota agar terus menerus mendorong pengembangan budidaya pertanian organik sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang sudah mulai mengarah kepada produk-produk yang bebas bahan kimia dan ramah lingkungan. 
 
Sebelumnya Presiden Indonesia Organic Alliance (AOI) Wahyudi S Sos menyampaikan bahwa 1000 Desa Organik adalah salah satu program andalan pemerintahan saat ini sebagai wujud dari Nawacita Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Program ini menargetkan terbangunnya 650 desa organik dengan basis utamanya sektor tanaman pangan, 250 desa dengan basis hortikultura dan 150 desa dengan basis tanaman perkebunan di tahun 2019. 
 
Gagasan membangun desa organik ini sangat diapresiasi oleh para penggiat pertanian organik tidak saja di kalangan dalam negeri  maupun di level internasional. Adapun tujuan digelarnya seminar nasional kali yakni memberikan gambaran yang lebih jelas kepada peserta seminar khususnya dan masyarakat pada umumnya tentang program 1000 desa organik, perkembangan sejauh ini, tantangan dan peluang yang dihadapi dalam melaksanakannya. 
 
"Acara ini diikuti oleh 300 peserta yang berasal dari Aliansi Organis Indonesia, Akademisi, Anggota Isodar, instansi pemerintah, ALGOA, masyarakat umum, LSM dan jurnalis," ujarnya.(BS03)
 

Tags
beritaTerkait
Wujudkan Tanam Padi Tiga Kali Setahun, Gubernur Sumut Minta Bantuan ke Presiden untuk Perbaikan Tanggul
Goodby Gangguan Seismik! Teknologi Baru Pengolahan Data dengan Kualitas Terbaik
Kemenhut Cabut Izin 18 Perusahaan, Berikut Daftarnya
Prabowo Bakal Sikat Penggilingan yang Beli Gabah di Bawah HPP
Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penataan Lahan Perkebunan Sawit
Google Buka Suara soal Dolar AS Tiba-tiba Jadi Rp 8.170
komentar
beritaTerbaru
hit tracker