Selasa, 26 Mei 2026

Prof Didik J Rachbini Ungkap 5 Masalah Ekonomi Politik Masa Pandemi Covid-19, Salah Satunya Ketergantungan pada Tiongkok

Jumat, 13 Agustus 2021 23:00 WIB
Prof Didik J Rachbini Ungkap 5 Masalah Ekonomi Politik Masa Pandemi Covid-19, Salah Satunya Ketergantungan pada Tiongkok
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung

Beritasumut.com - Universitas Paramadina dan Paramadina Public Policy Institute (PPPI) mengadakan diskusi publik dengan tema “Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Fondasi Ekonomi & Agenda Pembangunan di Indonesia.” Diskusi tersebut dilaksanakan secara virtual pada Jumat (13/08/2021).

Dalam diskusi tersebut, Rektor Universitas Paramadina Prof DIdik J Rachbini menyampaikan lima masalah ekonomi politik pada masa pandemi Covid-19. Masalah tersebut yaitu: fisikal rapuh dan utang besar, tidak memadai dalam kepemimpinan dan kebijakan mengatasi Covid-19, jatuh menjadi negara menengah bawah, income trap, ketergantungan ekonomi politik terhadap Cina dan kehilangan prinsip bebas aktif.

Kemudian Prof Didik menilai, kepemimpinan Indonesia dalam masyarakat internasional terutama ASEAN sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan pada masa Ali Alatas seorang diplomat Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia tahun 1988 - 1999. “Saya melihat bahwa kepemimpinan Indonesia di dalam masyarakat internasional terutama ASEAN saja itu jauh sekali dibandingkan dengan masa-masa Ali Alatas walaupun income waktu itu sangat rendah, belum terlalu tinggi,” ucap Didik melalui siaran pers, Jumat (13/08/2021).

Baca Juga:

Baca Juga : Rektor Universitas Paramadina Sarankan Penerapan Kampus Merdeka

Senada dengan itu, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin juga menyampaikan enam komorbid utama dalam perekonomian Indonesia, yaitu tingkat utang pemerintah, korporasi dan rumah tangga yang tinggi, kapasitas fiskal pemerintah yang terus melemah, current account deficit yang terus meningkat, ketimpangan pendapatan, kekayaan dan penguasaan tanah, tingkat pengangguran yang tinggi dengan kualitas pekerjaan yang rendah dan regulatory uncertainty and inconsistency.

Baca Juga:

[br] Wijayanto menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya dalam keadaan yang tidak fit, namun sebetulnya ekonomi Indonesia dalam kondisi yang sehat. “Ekonomi kita itu sebenarnya tidak fit tapi sehat. Tidak fit dengan sehat itu begini, kita ini barangkali minoritas sehat, tapi ya fine-fine saja dalam kehidupan normal. Tapi kalau tiba-tiba disuruh lari 300 meter saja atau renang 50 meter saja atau kerja lembur, maka kesehatan kita menjadi terkendala,” jelasnya.

Selanjutnya, diskusi tersebut dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh para pembicara yaitu Faisal Basri (Ekonom Senior INDEF & Universitas Indonesia) dan Muhammad Faisal (Direktur Eksekutif CORE Indonesia). (Rel)

Editor
:
Tags
beritaTerkait
Universitas Paramadina Gelar Paramadina Leaders Camp untuk Pengembangan Kepemimpinan Mahasiswa
Menlu Sugiono Tepis Anggapan RI Gabung BRICS Melenceng dari 'Bebas Aktif'
Kuliah Kebangsaan Anies Baswedan "Lentera Demokrasi Jalan Menuju Keadilan Sosial"
Diduga Lakukan Politik Uang Jelang Pencoblosan Pilkada, Tiga Orang di Humbahas Ditangkap
Presiden Prabowo dan Presiden Xi Saksikan Penandatanganan Sejumlah Kesepakatan Kerja Sama Indonesia-Tiongkok
Pjs Bupati Toba: Suhu Politik Boleh Memanas, Tapi Jangan Sampai Kita Terpecah
komentar
beritaTerbaru
hit tracker