Minggu, 31 Mei 2026

Retakan Tanah Meluas Disertai Bunyi Gemuruh Ancam Ratusan Warga

Selasa, 11 April 2017 20:25 WIB
Retakan Tanah Meluas Disertai Bunyi Gemuruh Ancam Ratusan Warga
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Retakan tanah yang kian meluas dengan bunyi gemuruh membuat warga di sekitar Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo terancam. Warga pun mengungsi untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.Jika pada awalnya pengungsi dari Dusun Watuagung, Desa Dayakan berjumlah 249, saat ini bertambah menjadi 341 jiwa menyusul retakan tanah tersebut. Bahkan dentuman suara  gemuruh sangat keras sebanyak 21 kali terjadi pada Senin (10/4/2017) kemarin. 
 
Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilisnya menyebutkan, lebar tanah yang retak mencapai sekitar panjang 300 meter, lebar 40 centimeter dan kedalaman 3 meter di Watuagung. Warga terdampak sebanyak 91 orang yang berlokasi di Dukuh Kliur RT 8 yang berada langsung di bawah Dusun Watuagung ikut mengungsi sehingga keseluruhan  pengungsi berjumlah 341 orang.
 
"Sebanyak 22 unit rumah rusak dari total 69 unit rumah yang terdampak sehingga penghuninya dikosongkan seluruhnya. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di rumahnya dan di sekitar daerah terlarang untuk mengantisipasi kemungkinan longsor," himbau Sutopo, Selasa (11/04/2017).
 
Sutopo menambahkan, seluruh pengungsi ditempatkan di dua tenda pengungsi, SD 2 Dayakan dan rumah penduduk yang ditunjuk sebagai tempat pengungsian yakni rumah Mariman, Sriyono, Nyaman, Mujoko, Siman, Giyanto. Sementara itu, BPBD Ponorogo telah mendirikan Posko di Balai Desa Dayakan. Pemantauan dan koordinasi dilakukan bersama dengan Muspika dan Perangkat Desa. BPBD bersama TNI, Polri, Tagana, PMI, SKPD, relawan dan masyarakat memberikan bantuan logistik, tenda, tikar, selimut, terpal, kebutuhan air bersih, MCK dan lainnya. BMKG Tretes Malang telah memasang seismograf untuk mendeteksi gempa dan getaran tanah.
 
"Kebutuhan mendesak adalah kebutuhan keperluan balita, keperluan mandi, pakaian layak pakai, pelayanan kesehatan, sanitasi dan lainnya," jelas Sutopo.
 
Di tempat terpisah, pencarian 24 korban hilang yang tertimbun longsor di Desa Banaran Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo telah dihentikan. Kondisi medan yang berat dan adanya ancaman longsor susulan menyebabkan semua pihak menyepakati bahwa pencarian korban dihentikan. Masyarakat telah mengikhlaskan anggota keluarga  yang belum berhasil ditemukan menyusul adanya longsoran susulan yang cukup besar pada Minggu (9/4/2017) lalu.
 
Dengan demikian, dari 28 korban jiwa yang tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo pada 1/4/2017, 4 jenasah berhasil ditemukan dan 24 orang dinyatakan hilang. Saat ini sebanyak 300 jiwa masih mengungsi. Kebutuhan dasar bagi pengungsi mencukupi. Nantinya sebagian besar dari mereka akan direlokasi. Pemda Ponorogo masih mencari lahan yang aman untuk relokasi warga nantinya.
 
"Masyarakat dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaannya mengingat potensi longsor masih tinggidi wilayah Ponorogo. Hujan berintensitas tinggi masih berpeluang hingga awal Mei. Kondisi tanah sudah jenuh air. Apalagi kondisi batuan sudah banyak yang mengalami pelapukan sehingga mudah longsor," pungkas Sutopo.(Rel)

Tags
beritaTerkait
Resmikan Desa Siaga Bencana, PLN UID Sumut Serah Terima Bantuan Program
Sarana Air Bersih dan 1.577 Tabung Bright Gas Disalurkan ke Warga Terdampak Bencana di Pidie Jaya
Yayasan IKAL Peduli Nusantara Salurkan Bantuan Banjir di Pangkalan Susu dan Tanjung Pura
Bank Sumut Rayakan Natal: Semangat Kasih Perkuat Empati Sosial, Etos Kerja, dan Persaudaraan
Peduli Korban Banjir Bandang, Anindya Bakrie Salurkan Bantuan Kadin ke Aceh, Sumut, dan Sumbar
Arman Chandra Salurkan 500 Paket Makanan ke Korban Banjir Medan dan Langkat, Komitmen Bantu Pengungsi
komentar
beritaTerbaru
hit tracker