Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Pemberian antibiotik, khususnya kepada anak sering dianggap sebagai hal yang biasa di kalangan masyarakat. Namun kebiasaan ini harus dihentikan, sebab penggunaan antibiotik secara sembarang justru merupakan tindakan yang sangat berbahaya, karena dapat memicu resistansi.
Apabilan sudah resisten, maka akan sulit mencari antibiotik yang sesuai bila suatu saat anak terinfeksi bakteri. Selain itu, pemberian antibiotik yang tidak tepat dan tidak rasional juga akan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit-penyakit alergi."Jadi jangan sembarangan memberi antibiotik pada anak. Antibiotik diberikan hanya kalau ada bukti infeksi, artinya ada indikasi karena terbukti infeksi," ujar Dokter spesialis anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik dr Rita Evalinaina Rusli MKed (Ped) SpA(K) kepada wartawan, Selasa (01/08/2017).
Untuk membuktikan ada atau tidaknya infeksi, jelas Rita, dapat dilihat dari keluhan anak. Selanjutnya, dapat dilihat dari pemeriksaan fisik dan juga pemeriksaan penunjang, seperti cek darah di laboratorium."Salah satunya, kita bisa curiga infeksi kalau ada demam yang tidak respon dengan obat penurun panas. Tetapi memang tidak untuk semua sakit demam," terangnya.
Rita menjelaskan, tidak semua demam yang tidak respon dengan obat penurun panas juga mengindikasikan infeksi. Ada juga kondisi demam tidak respon obat penurun panas, misalnya demam berdarah dengue (DBD), demam yang timbul jika anak dalam kondisi kekurangan cairan seperti diare, dan demam karena infeksi virus.
"Banyak kerugian jika antibiotik diberikan dengan tidak rasional.Demam sedikit antibiotik, batuk sedikit antibiotik. Jika anak terbukti infeksi bakteri barulah harus diberi antibiotik," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Hari Paraton, SpOG (K) sebelumnya menyebutkan, penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak sesuai indikasi, jenis, dosis dan lamanya, serta kurangnya kepatuhan merupakan penyebab resistensi tersebut. Penyebab banyaknya kasus resistensi antibiotik, salah satunya dipicu oleh mudahnya masyarakat membeli antibiotik tanpa resep dokter, baik di apotek, kios atau warung.
"Seharusnya, antibiotik tidak dijual bebas dan harus berdasarkan resep dokter. Menyimpan antibiotik di rumah merupakan kebiasaan yang banyak dijumpai di masyarakat. Padahal ini dapat mendorong terjadinya resistensi antibiotik," pungkasnya.(BS07)
Tags
beritaTerkait
komentar