Rabu, 03 Juni 2026

50% Pasien Kanker Payudara Terlambat Berobat

Minggu, 12 Maret 2017 20:54 WIB
50% Pasien Kanker Payudara Terlambat Berobat
beritasumut.com/ilustrasi
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Sekitar 50% penderita kanker payudara (breast cancer/carcinoma mammae) terlambat untuk berobat. Mirisnya, pasien umumnya baru menyadari penyakitnya tersebut justru ketika sudah berada di stadium lanjut.
 
"50 persen orang yang berobat terdiagnosa kanker stadium lanjut.  Keterlambatan ini menyebabkan biaya perawatan dan pengobatan mahal dan dapat menurunkan harapan hidup penderita," ungkap dr Denny Rifsal Siregar SpB(K) Onk MKes, di Medan, Sabtu (11/03/2017).
 
Padahal menurut Denny, jika kanker dapat ditemukan sejak dini, penanganannya dapat lebih cepat, tepat dan memberikan kesembuhan serta harapan hidup lebih lama kepada pasien. Namun, masih banyak masyarakat yang percaya promosi pengobatan alternatif karena takut ketahuan penyakitnya.
 
"Kanker merupakan pembunuh nomor dua di Indonesia. Pada 2015 saja diperkirakan ada 231.840 kasus kanker baru. Deteksi sejak dini memang sangat penting," ucapnya.
 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, saat ini lebih dari lima juta wanita meninggal dunia akibat menderita kanker payudara. 
 
Sementara di Indonesia, Ia menyebutkan, 12 orang dari 100 ribu wanita mengidap kanker payudara dan di atas 50 persen sudah stadium lanjut.
 
Untuk itu disebutkannya, periksa payudara sendiri (SADARI) sebagai langkah deteksi dini penting. Hal ini guna mengurangi risiko terkena kanker payudara.
 
"SADARI bisa dilakukan sebulan sekali atau tujuh hari setelah menstruasi bersih. Bagi wanita menopause, pilihlah tanggal yang mudah diingat. Bila ditemukan benjolan atau perubahan payudara, segera periksakan ke dokter," imbaunya.
 
Selain itu Denny juga menyebutkan, faktor risiko kanker payudara di antaranya karena usia dan riwayat keluarga. Selain SADARI, metode lainnya bisa dilakukan dengan pemeriksaan rutin ke tenaga ahli (dokter), mammografi dan ultra sonography (USG).
 
"Segala upaya bisa dilakukan untuk menemukan kanker payudara pada stadium dini (I dan II). Penanganan medis dan profesional diperlukan untuk mendapatkan hasil kuratif dan harapan hidup yang panjang," jelasnya.
 
Kanker payudara, sambungnya, disebabkan sel dan jaringan payudara tumbuh secara berlebih dan tidak terkendali. Hal ini bisa terjadi pada wanita maupun pria. "Namun, kebanyakan orang merasa takut terhadap kanker dan enggan memeriksakannya," tandasnya.
 
Sementara itu, Laura salah seorang pasien kanker payudara menuturkan, ia menderita kanker itu sejak November 2015. Gejala awalnya ialah terasa nyeri dan sakit.
 
Laura mengaku, untuk menghilangkan rasa sakitnya itu, ia kerap mencoba menggosoknya dengan minyak angin. Namun yang ada, sakitnya justru malah semakin parah.
 
Begitu menyadari ada benjolan, Laura langsung memeriksakan diri ke unit radiologi di rumah sakit. Setelah dua kali pemeriksaan, ia ternyata divonis menderita kanker payudara stadium II.
 
Awalnya Laura mengatakan, dirinya disarankan 
teman untuk berobat alternatif. Tetapi, ia tidak mengikuti dan lebih memiih menjalani pengobatan kepada dokter.
 
"Saya langsung berfikir, orang lain bisa sembuh, kenapa saya tidak. Sekarang setelah sehat, saya tetap menjaga makanan dan menerapkan pola hidup sehat. Penderita kanker harus tetap semangat dan tidak perlu merasa cemas," pungkasnya.(BS07)

Tags
beritaTerkait
Kepala Dinas Kesehatan Tegaskan Komitmen Pelayanan Pasca-libur Lebaran
BPJS Kesehatan Pastikan Akses Layanan JKN Tetap Terbuka Selama Libur Lebaran
Sidak RSUD Djoelham, Wawako Binjai Pastikan Semua Pelayanan Setara
Wakil Walikota Medan Resmi Berkantor di Rumah Sakit Pirngadi
Walikota Medan Tekankan Pentingnya Pelayanan Kesehatan yang Humanis
Transplantasi Solusi Terbaik Penyakit Ginjal Kronis
komentar
beritaTerbaru
hit tracker