Selasa, 18 Agustus 2026

Jaya Arjuna Sebut Tata Kelola Banjir Jangan Kampungan

Selasa, 05 Desember 2017 18:30 WIB
Jaya Arjuna Sebut Tata Kelola Banjir Jangan Kampungan
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Teknologi mestinya menjawab dan menyelesaikan permasalahan lingkungan, jika masih menerapkan cara-cara lama untuk zaman yang kekinian, berarti masih 'kampungan', demikian ujar Pengamat lingkungan Sumatera Utara (Sumut) Jaya Arjuna.
 
Jaya menilai, tata kelola banjir yang dilakukan di provinsi Sumut terutama Kota Medan selama ini terkesan kampungan. Padahal untuk mengatasi banjir, ungkap Jaya, saat ini sudah banyak teknologi yang tersedia untuk dapat digunakan. "Masih kampungan. Padahal sudah ada teknologi, tapi kenapa masih harus banjir. Berarti memang tidak ada dipakai teknologi itu," katanya kepada wartawan, Selasa (05/12/2017).
 
Jaya mengakui, untuk mengatasi banjir pemerintah memang telah banyak melakukan perbaikan pada saluran air. Namun nyatanya, genangan air masih saja tetap terjadi, bahkan sampai menyebabkan banjir, khususnya setelah hujan deras yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir. "Sudah ada dilakukan pengggalian. Tapi airnya juga tidak mengalir meskipun sudah diperbaiki," sambungnya.
 
Harusnya pemerintah dapat belajar dari Negara Belanda, kata Jaya, yang meski berada di 14 meter di bawah permukaan laut, namun negara kincir angin tersebut tidak pernah mengalami banjir. Bahkan, di Kota Medan sendiri, lanjut dia, pada masa lalu Belanda juga mampu meminimalisir terjadinya banjir, dengan membuat gorong-gorong besar di kawasan Kesawan, serta membangun hingga 7 buah kanal.
 
"Sebab alam tidak bisa kita lawan, melainkan yang bisa kita kerjakan ialah meminimalisir dampaknya. Kalau curah hujan tinggi maka perbaiki saluran. Kalau tidak bisa, maka percepat laju air dengan menggunakan pompa. Tapi tentunya dalam melakukan hal ini kita harus punya data base terkait lokasi banjir," jelasnya.
 
Selain itu, terang Jaya, tak kalah penting ialah melakukan perbaikan pada kawasan hulu. Bila memang ada ditemukan kerusakan, hal itu harus dapat segera diperbaiki. "Pokoknya air tidak boleh turun ke bawah. Itulah makanya diperlukan teknologi dalam mengatasinya. Seperti, dalam memperbaiki parit, volume, kecepatan, dan laluan air harus dihitung dengan cermat. Itulah mengapa teknologi diajari kepada manusia untuk dipakai, jangan hanya mengharapkan dari Tuhan," tegasnya.
 
Apalagi, sambung Jaya, metode tersebut sebetulnya sudah umum dan teknologinya juga sudah mudah karena telah tersedia. Hanya saja permasalahannya, imbuh Jaya, teknologi tersebut yang tidak dipakai. "Jadi harus kita sesuaikan. Kalau kita merusak alam, maka perbaikilah. Itulah peran teknologi untuk memperbaiknya," tandas pria yang juga penulis senior ini. (BS07)

Tags
beritaTerkait
Gandeng Aparat Penegak Hukum, Pemprov Sumut Perkuat Pengawasan dan Penertiban Tambang Ilegal
Jaga Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Pertamina Sumbagut Borong 12 PROPER Hijau
Yayasan IKAL Peduli Nusantara Salurkan Bantuan Banjir di Pangkalan Susu dan Tanjung Pura
Arman Chandra Salurkan 500 Paket Makanan ke Korban Banjir Medan dan Langkat, Komitmen Bantu Pengungsi
Ratusan Petugas Dikerahkan, PLN Sumut Perkuat Siaga Kelistrikan Akibat Cuaca Ekstrem
Empat Kabupaten di Sumut Dilanda Bencana Banjir dan Longsor Secara Bersamaan, 8 Orang Meninggal
komentar
beritaTerbaru
hit tracker