Minggu, 31 Mei 2026

Badai, Banjir dan Longsor Potensi Kerawanan Pilkada

Kamis, 05 November 2015 15:11 WIB
Badai, Banjir dan Longsor Potensi Kerawanan Pilkada
Dokumentasi
Aulia Andri.
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com - Curah hujan tinggi dan badai di bulan Desember menjadi potensi gangguan pendistribusian logistik. Banjir kiriman hingga serangan binatang buas juga harus diantisipsi, agar pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 9 Desember berjalan lancar.

"Bawaslu memetakan berbagai potensi kendala dihadapi saat pendistribusian logistik. Melihat dan menilai tingkat resiko, bagaimana meminimalisir hal-hal yang mengganggu tahapan Pilkada," kata Anggota Bawaslu Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Aulia Andri, di Medan, Kamis (5/11/2015).

Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Panitia Pengawas Pemilihan (Panwas) dilaksanakan 2-4 November, Bawaslu Sumut sudah menghimpun kerawanan yang berpotensi mengganggu tahapan. Beberapa daerah dianggap sangat rawan harus jdi perhatian Komisi Pemilihan Umum (KPU), pemerintah daerah dan institusi pemerintah lainya.

Laporan Panwas Nias Selatan, ada tujuh dari 31 kecamatan berada di kepulauan. Dari Teluk Dalam (ibukota Nias Selatan) butuh waktu 6-8 jam menggunakan moda trasportasi perahu cepat (speed boat). 

"Desember badai di Samudera India cenderung lebih besar. Pengalaman Pemilu 2004 pemungutan suara susulan akibat badai. Ini jadi perhatian," katanya dan menambahkan gangguan badai juga berpotensi di titik kepulauan lainya yang ada di Sumut, seperti kawasan Mandailing Natal dan Serdang Bedagai.

Intensitas hujan cenderung tinggi pada Desember, berpotensi mengganggu kelancaran pemungutan suara bagi daerah yang dilintasi aliran sungai. Banyak daerah terpencil yang ditempuh melalui alur sungai. Masih ada kawasan yang belum memiliki jembatan di kepulauan Nias, ada juga yang harus melalui alur sungai di Labuhan Batu Selatan, Muara Batang Gadis Madina. 

"Tak bisa lewat kalau bajir," katanya.

Kawasan kota di hilir sungai seperti Medan, Asahan dan Tanjungbalai juga berpotensi menghadapi gangguan banjir kiriman. Pemilu sebelumnya dibangun tempat pemungutan suara (TPS) terapung di Kabupaten Asahan akibat sungai Asahan meluap.

Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu Sumut ini menambahkan, daerah terpencil di kawasan pegunungan juga harus menjadi perhatian. Beberapa titik di Kabupaten Karo, Humbang Hasundutan, Madina, Labuhan Selatan dan kawasan pegunungan lainya.

Selain itu, jalanan di kawasan perkebunan yang cenderung nasih tanah. Musim hujan,tak jarang kendaraan tak bisa melintas, karena ban terbenam di lumpur.

Tak hanya gangguan alam, di daerah terpencil dan belum bisa diakses menggunakan kendaraan potensi gangguan keamanan. Di Madina, gangguan binatang buas seperti harimau dan beruang. 

"Ada juga yang rawan karena sepi penduduk. Gangguan dari pihak-pihak terhadap hasil pemungutan suara," katanya.

Saat ini, KPU sedang menyiapkan berbagai keperluan pemungutan suara. Pendistribusian logistik diperkirakan mulai akhir November dan kotak suara paling lama satu hari sudah diterima oleh Panitia Pemugutan Suara.

"Pemetaan kerawasan pendistribusian logistik ini akan disampaikan Panwas Kabupaten/Kota kepada KPU Kab/Kkota, sehingga stakeholder di daerah dapat menyusun langkah guna mengantisipasi potensi yang tidak bisa diperkirakan waktu terjadinya," kata Aulia. (BS-001)

Tags
beritaTerkait
Badai PHK Hantam Industri RI, Istana Kasih Pembelaan
Satgas TNI Penanggulangan Bencana di Filipina Sentuh Langsung Penduduk Terdampak Badai
Pemko Medan Apresiasi Launching Buku Inspiratif "Menghadang Badai Kehidupan"
93 Wisatawan Cina Terjebak Badai di Pulau Lihaga Berhasil Dievakuasi KN Gajah Laut Bakamla RI
Hujan dan Angin Kencang Bakal Melanda Sumut Hingga Juni Mendatang
Cuaca Buruk Berbahaya Bagi Nelayan
komentar
beritaTerbaru
hit tracker