Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Medan, (beritasumut.com) – Wakil Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Medan Tony Chandra SH mengemukakan, sosok Tjong A Fie sebagai tokoh multikulturalisme tidak bisa dipisahkan dari sejarah Kota Medan. Apalagi jasanya cukup besar terhadap kedamaian dan terciptanya kebhinekaan multi etnis di daerah ini. Bahkan, nama Tjong A Fie masih terukir dalam rangkaian sejarah keberadaan Kota Medan maupun di Provinsi Sumatera Utara dan di luar daerah.
"Nama Tjong A Fie, bila terkait dengan sejarah Kota Medan, adalah wajar untuk diangkat menjadi nama jalan di daerah ini, selain kediamannya di Jalan Ahmad Yani menjadi bangunan cagar budaya yang mengandung nilai budaya, pengetahuan dan sejarah," kata Tony Chandra SH yang juga Ketua Gabungan Rakyat Dukung Prabowo (Gardu Prabowo) Kota Medan di Kantor Gardu Prabowo Kota Medan, Jalan Gaperta, Medan, Senin (4/11/2013).
Menjelang Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November 2013 ini, Tony Chandra SH yang juga Calon Legislatif DPRD Provinsi Sumut dari Partai Gerindra dengan Daerah Pemilihan Sumut 2 meliputi (Medan Helvetia, Medan Sunggal, Medan Polonia, Medan Maimun, Medan Johor, Medan Petisah, Medan Barat, Medan Selayang, Medan Tuntungan), berharap Pemerintah Kota Medan dan DPRD Medan dapat mempertimbangkan nama Tjong A Fie menjadi nama jalan di Kota Medan, selain rumah Tjong A Fie menjadi bangunan cagar budaya yang berada di Jalan Ahmad Yani Nomor 105, Medan.
Tony juga berharap Pemko Medan dan DPRD dapat memaknai Hari Pahlawan dengan semangat dan kemauan untuk berbuat yang terbaik, terkait nama Tjong A Fie menjadi nama Jalan. Sebelumnya nama Tjong A Fie pernah diusulkan dan dijadikan sebagai nama jalan di Kota Medan, namun hal itu dibatalkan tanpa sebab dan sekarang nama jalan itu menjadi Jalan KH Ahmad Dahlan.
Ketika ditanya wartawan soal lokasi usulan nama Jalan Tjong A Fie yang cocok, disebutkan Tony Chandra, lokasi nama jalan itu ideal adalah di wilayah yang tidak jauh dari rumah Tjong A Fie, yakni Jalan Perniagaan dirubah menjadi nama Jalan Tjong A Fie. Alasannya, Jalan Perniagaan sangat identik dengan karier Tjong A Fie yang dimulai dari seorang penjaga toko kelontong sehingga menjadi saudagar kaya, dan juga punya kekuatan politik karena kedekatannya dengan Sultan Deli.
"Kalau bukan sekarang, kapan lagi dan kalau bukan kita, siapa lagi yang akan peduli dengan sosok Tjong A Fie, dimana beliau (Tjong A Fie) sangat dikenal sifatnya yang dermawan dan toleransi tinggi tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama dan asal-usul, serta senantiasa dikenang masyarakat Medan dan sekitarnya dan juga dikenal diwilayah Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaya, Singapura dan Pulau Jawa," ungkap Tony Chandra SH.
Di sisi lain disebutkannya, sejarah mencatat, kesuksesan Tjong A Fie sebelum meninggal pada 4 Februari 1921 silam di Medan, yang telah merambah bidang sosial dan politik. Buktinya, pada awal abad ke 20 Kesultanan Deli memberi kepercayaan menjadi anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (dewan kebudayaan) di Medan. Bahkan, dimasa hidupnya, Tjong A Fie memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap kepentingan religi, budaya dan ekonomi di Medan, dalam melestarikan budaya Melayu-Cina.
Bukti kontribusi yang cukup besar terhadap Kota Medan, seperti turut andilnya Tokoh Multikulturalisme ini dalam pembangunan Masjid Raya Al-Mashum, Istana Maimoon, Kereta Api Deli (DSM), Masjid Gang Bengkok, Gereja di Jalan Uskup Agung Sugiopranoto, Balai Kota Lama, Kuil Budha China di Brayan, Kuil Hindu, dan Jembatan Kebajikan di Jalan Zainul Arifin, serta mendirikan rumah sakit pertama di Medan, namanya Tjie On Jie Jan, dan membangun kuburan khusus untuk orang-orang Cina di daerah Pulo Brayan, serta membangun Bank saat itu yang di beri nama Bank Kesawan, Batavia Bank dan Deli Bank.
Peninggalan Tjong A Fie di Kota Medan paling mengesankan adalah sumbangan sebuah jam besar kepada Kotapraja Medan pada tahun 1913. Jam itu sampai sekarang masih dipajang di Balai Kota Medan, kata Tony Chandra, mengkisahkan sejarah Tokoh Multikulturalisme ini dengan tujuan agar masyarakat, khususnya Pemko dan DPRD Medan bisa mewujudkan nama Jalan Tjong A Fie yang sempat tertunda.
Kepada generasi muda saat ini, Tony Chandra berharap, agar lebih banyak belajar tentang sejarah serta melahirkan sifat-sifat baik seperti tokoh Tjong A fie,sehingga pola pikir dalam membangun kebhinekaaan dalam suatu bangsa dapat tumbuh baik dan tetap membangun bangsa ini berdasarkan toleransi yang tinggi, generasi muda harus lebih banyak lagi belajar tentang siapa saja tokoh-tokoh penting dalam sejarah pembangunan Sumut pada umumnya dan Kota Medan pada khususnya. Karena suatu bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan para pahlawannya, tandasnya. (BS-022)
Tags
beritaTerkait
komentar