Kamis, 14 Mei 2026

Teroris Asal Malaysia Beraksi di Medan

Sabtu, 08 Juni 2013 20:08 WIB
Teroris Asal Malaysia Beraksi di Medan
Ist
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Medan, (beritasumut.com) – Kelompok Abdul Kemprut, jaringan teroris asal Malaysia, beraksi di Medan, Jumat (7/6/2013).

Kronologisnya, jaringan Abdul Kemprut berhasil membajak kapal laut niaga berbendera Malaysia yang sedang berlayar di Selat Malaka dari India menuju Sabah dibelokkan ke Belawan, Medan, Sumatera Utara. 

Tidak lama kemudian kelompok yang sama telah berhasil membajak pesawat milik maskapai Malaysia Airlines yang sedang terbang dari Colombo menuju Kuala Lumpur dan dibelokkan oleh jaringan kelompok Kemprut ke Medan dan mendarat di Bandara, Polonia.

Kelompok Kemprut yang sudah membajak pesawat terbang dan kapal niaga, juga menyandera staf Kedutaan Malaysia beserta keluarganya di Medan.

Rangkaian penyanderaan  teroris kelompok jaringan Abdul Kemprut terhadap fasilitas umum milik Malaysia yang terjadi di wilayah terotorial Indonesia merupakan sekenario latihan Geladi Posko  Latgabma Malindo Darsasa-8AB/2013 yang dibuka Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di Lapangan Apel Lanud Soewondo, Medan, Jumat (7/6/2013).

Jaringan Abdul Kemprut kemudian berusaha menghubungi Pemerintah Indonesia melalui telepon. Jaringan Kemprut berhasil menghubungi Kementerian Luar Negeri yang diterima salah satu staf Kemlu yang tidak mau disebutkan identitasnya. 

Informasi telah terjadi serangan teroris disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia dan Presiden langsung menghubungi Perdana Menteri Malaysia untuk menyampaikan rasa prihatin terhadap serangan teror yang dilakukan terhadap aset dan rakyat Malaysia sekaligus menyampaikan tawaran untuk membentuk Komando Gabungan Bersama Malaysia-Indonesia dalam menghadapi serangan teror yang sedang berlangsung. Perdana Menteri menyambut baik tawaran bapak Presiden Indonesia.

Jaringan Abdul Kemprut menuntut dibebaskanya Abdul Kemprut beserta pengikutnya yang ditahan oleh Pemerintah Malaysia karena telah melakukan teror sebelumnya di Malaysia satu tahun lalu di pusat kota Kualalumpur, Malaysia. Apa bila tuntutan tersebut tidak segera dipenuhi satu persatu sandera akan dibunuh, tegas pimpinan teroris.

Informasinya, sandera yang berada di pesawat Malaysia Airlines sebanyak 30 orang 25 orang warga Negara Malaysia dan sisanya berasal dari India dan Pakistan. Sedangkan terorisnya sebanyak 5 orang bersenjata api laras panjang dan membawa bahan peledak yang sudah siap meledak.

Sementara pembajakan kapal milik Malaysia belum diketahui jumlah yang disandera. Namun penyanderan keluarga Kedubes Malaysia di Medan, satu orang bapak, satu orang ibu dua orang anak dan satu pembatu rumah tangga.

Selanjutnya Presiden Indonesia mengadakan rapat terbatas dengan Panglima TNI untuk membicarakan peristiwa terorisme di Medan, sehingga peristiwa teror Medan segera ditangani secara militer. Sementara Perdana Menteri Malaysia melakukan hal yang sama memangil Panglima Angkatan Perang Malaysia untuk segera koordinasi dengan Panglima TNI membicarakan penanganan teroris dengan segera membentuk Komando Gabungan bersama yaitu Malindo Darsasa (Darat, Samudera dan Angkasa), sehingga kedua Panglima bertemu di Jakarta Indonesia guna membicarakan pembentukan Combined Joint Task Force-Counter Terrorism (CJTF-CT) CONPLAN/RENKON anti penanggulangan teroris Malindo.

Setelah dipanggil Presiden ke Istana, Jalan Merdeka Utara, Panglima TNI langsung mengadakan rapat setaaf beserta para Asisten Panglima dan para Kabalak Mabes TNI guna untuk segera pembentukan satuan gabungan dengan pihak Tentara Malaysia untuk menghadapi dan menyelamatkan sandera yang berada di tangan teroris dari kelompok jaringan Abdul Kemprut yang berasal dari Malaysia. Panglima TNI mendapatkan masukan dari Asintel Panglima TNI tentang anatomi teroris yang sedang menyandera di Medan dan dari Asops Panglima TNI.

Selanjutnya Panglima TNI memberikan taklimat agar segera merencanakan pembebasan sandera di Medan bersama pasukan dari Malaysia. Panglima TNI memberikan batas waktu 7 hari agar sandera-sandera segera dibebaskan dalam keadaan selamat.

Sementara teroris minta disiapkan makanan karena di dalam pesawat persediaan makanan sudah habis. Permintaan teroris sementara dipenuhi guna untuk menyelamatkan para sandera yang berada di Pesawat Malaysia Airlines sambil menyusupkan seorang agen untuk melakukan observasi.

Proses upaya negosiator dilaksanakan oleh pihak Malindo telah gagal karena pihak teroris mengetahui bahwa negosiasi yang dilaksanakan semata-mata hanya untuk mengulur waktu. Maka teroris mulai membunuh seorang sandera asal Malaysia di pesawat terbang. Setelah ada sandera yang telah dibunuh apa reaksi dari Malindo? (BS-001)

Tags
beritaTerkait
Komjen Pol Tito Karnavian: Masyarakat Jangan Takut Kelompok Terorisme!
 Ini Alasan BNPT Latih Pemuda di Kota Medan
Besok, BNPT Latih Pemuda Anti Radikalisme Pro-Kekerasan
Pelaku Bom Mall Alam Sutera Runtuhkan Stigma Terorisme Islam
Uni Emirat Arab Tetapkan Ikhwanul Muslimin Organisasi Teroris
Antisipasi ISIS, 4 Napi Teroris di Medan Mendapat Pengawasan Khusus
komentar
beritaTerbaru
hit tracker