Rezky Ginting Rilis Single Debut “Till My Heart Gives Up”
Solois asal Medan Rezky Ginting merilis single debut &ldquoTill My Heart Gives Up&rdquo bergenre dream pop tentang sisi rentan manusia.
Hiburan
Beritasumut.com - Dua Gubernur menghadiri diskusi kelompok terarah membahas Pengaruh Politik Identitas Terhadap Demokrasi di Indonesia, yang digelar oleh Tim Pengkajian Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI di Hotel Radisson Medan, Jalan H Adam Malik Medan, Rabu (17/03/2021). Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menjadi tujuan kajian, karena memiliki karakteristik kebhinekaan yang membedakannya dengan daerah lain.
Keduanya adalah Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dan Gubernur Sumut Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi. Bersama dengan para akademisi di Sumut, seperti Dr Shohibul Ansor Siregar selaku moderator, Prof Hasan Bakti Nasution mewakili FKUB, Dr Warjio selaku pakar sosial dan politik, Prof Reni Mayerni (Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI), serta sejumlah pejabat. Tampak hadir Ketua Kadin Medan Arman Chandra yang merupakan Alumni Lemhannas RI tahun 2020.
Gubernur Lemhannas RI Agus Widjojo menyebutkan, kehadiran lembaga ini di Sumut dalam konteks kajian jangka panjang tentang politik identitas dan dampaknya terhadap demokrasi. Medan (Sumut) dipilih bersama dengan beberapa daerah lainnya, karena ada beberapa karakteristik yang bisa membedakannya dengan daerah lain dan itu direspons cukup positif.
Baca Juga:
Baca Juga : Sampaikan LKPj 2020 ke DPRD Sumut, Gubernur Sebut Tiga Sektor Berbasis Desa Menjadi Unggulan
“Reputasi Sumut yang bisa menekan konflik ini pada tingkat maksimal, artinya apapun pilihan rakyat, tidak menimbulkan korban. Ini mungkin yang perlu dijadikan sumbangan positif dan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan untuk dijadikan sebagai model (contoh) bagi daerah lain di Indonesia. Medan bisa dikatakan sebagai daerah yang punya masyarakat bercirikan kebhinekaan. Tentunya hal itu memberikan tantangan tentang pengelolaannya agar tidak lepas kendali,†ujar Agus kepada wartawan di sela kegiatan diskusi.
Baca Juga:
[br] Upaya kajian ini, sambung Agus, membuat pihaknya meminta masukan dari para pakar yang memahami bagaimana kondisi sosial politik di Sumut. Hal ini agar politik identitas tidak menjurus kepada penekanan perbedaan, tetapi lebih kepada upaya mencari persamaan dari perbedaan tersebut. Sebab, menurutnya, dalam masyarakat yang homogen seperti Jepang dan Korea, tetap bisa dikelompokkan dengan identitas tertentu.
“Di sini dikaitkan dengan demokrasi. Yakni praktek-praktek identitas sebagai sumber daya dan sarana politik dalam rangka mempengaruhi kebijakan dan kompetisi merebut kekuasaan dengan cara konstitusional dalam bentuk pemilu. Yang dapat mengingkari prinsip-prinsip yang diamanatkan oleh demokrasi, yaitu membatasi kebebasan untuk memilih,†jelasnya.
Bahwa identitas dimaksud dalam kajian politik ini, lanjut Agus, adalah keniscayaan yang bisa mengarah kepada negatif atau positif. Untuk demokrasi, jika politik identitas kemudian membatasi kebebasan memilih, maka ada persoalan yang membuat terjadinya krisis (identitas). Muaranya adalah polarisasi di masyarakat.
Baca Juga : Edy Rahmayadi Bocorkan Rahasia untuk Bisa Menjadi Jenderal kepada Taruna Akmil
“Bila dibiarkan dalam jangka panjang, ini akan membentuk sebuah karakteristik permanen kepada bangsa yang akan menghalangi pembangunan karakter kebangsaan kita. Sebab amanat pendiri bangsa, Negara ini dibentuk berdasarkan kesepakatan, bukan komposisi mayoritas-minoritas (identitas),†tambah Agus.
Sementara itu, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi pun mengakui, bahwa provinsi ini dihuni oleh beragam etnis, suku dan agama. Karena itu, dapat dijadikan masukan dan cocok sebagai contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Edy menyebut, pengalaman daerah ini menghadapi berbagai pemilihan baik Pileg, Pilpres, Pilgub, hingga Pilkada, perlu diwaspadai di masa mendatang, agar politik identitas yang bisa menyebabkan polarisasi di masyarakat, mengarah kepada penajaman perbedaan yang mengkhawatirkan. “Memang kita masih banyak pemilih yang rasional, tetapi kita tetap harus waspadai ke depan seperti apa. Jadi kondisi ini seperti itu (polarisasi) tidak bisa dibiarkan,†katanya.
[br] Bagi Edy, sistem demokrasi yang berlaku di sebuah negara bergantung pada kebutuhan atau penyesuaian terhadap perkembangan sosial politik yang berjalan. Beberapa bentuk di antaranya seperti demokrasi langsung, tidak langsung (representatif), parlementer, presidensial, otorier, partisipatif, demokrasi Islam, dan sosial. Berbeda negara, berbeda bentuk demokrasinya.
“Cocokkan kita dengan one man one vote? Kenapa tidak?. Demokrasi kan ada bermacam-macam. Apakah demokrasi jelek? Tidak. Tergantung siapa yang melakukannya,†jelas Edy Rahmayadi.
Karenanya Edy meminta agar para narasumber dan penanggap dalam diskusi tersebut untuk membuka diri dalam berdiskusi melihat seperti apa kondisi demokrasi dan kaitannya dengan politik identitas di Sumut. Agar gambaran ini bisa disampaikan dan menjadi catatan penting bagaimana formulasi jangka panjang untuk mengelola iklim demokrasi, terutama dalam hal pengambilan kebijakan sosial politik oleh penyelenggara negara.
Baca Juga : Gubernur Sumut Ajak Kapolda Ukir Sejarah dan Berbuat Terbaik untuk Sumut
“Saya minta silakan disampaikan secara terbuka di dalam forum ini. Karena ini kan ranah akademis, jadi jangan dibatasi. Namanya juga kajian, harus menyeluruh dan dinamis,†harapnya.
Usai pembukaan diskusi tersebut, Edy Rahmayadi dan Agus Widjojo saling bertukar cenderamata sebagai tanda penghormatan. Apalagi Edy mengakui bahwa Gubernur Lemhanas RI saat ini adalah gurunya pada saat masih dinas di TNI AD.
Edy pun mengundang rombongan Lemhanas RI untuk hadir di Rumah Dinas Gubernur Sumut di Jalan Sudirman 41 Medan untuk makan siang bersama. Turut diundang Pangdam I/BB Mayjen TNI Hassanudin, Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak dan unsur Forkopimda lainnya. (BS03)
Solois asal Medan Rezky Ginting merilis single debut &ldquoTill My Heart Gives Up&rdquo bergenre dream pop tentang sisi rentan manusia.
Hiburan
beritasumut.com Stadion Utama Sumatera Utara (SUSU) dipastikan menjadi panggung pertarungan menarik ketika PSMS Medan menjamu Persiraja Ban
Olahraga
beritasumut.com Ketua Umum (Ketum) Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA), Agustinus Sirait, bersama jajaran komisioner, Dewan Pem
Peristiwa
beritasumut.com PSMS Medan mengawali kiprahnya di I.League Cup 2026/2027 dengan hasil imbang 11 menghadapi Persija Jakarta. Bermain di had
Olahraga
beritasumut.com PSMS Medan tidak ingin sekadar menjadi pelengkap pada pertandingan pembuka I.League Cup 2026/2027. Menghadapi Persija Jakar
Olahraga
beritasumut.com Sekolah Sepak Bola (SSB) Tunas Muda Medan kelahiran tahun 2014/2015 meraih juara II Piala di Lapangan Sentis Kecamatan Perc
Olahraga
Anindya Bakrie menyebut investasi PMDN hampir Rp2.000 triliun memperkuat peran pengusaha nasional dan ketahanan ekonomi Indonesia.
Ekonomi
beritasumut.com Pelatih PSMS Medan, Eko Purdjianto, bersyukur atas hasil positif yang diraih anak asuhnya, terlebih kemenangan tersebut dip
Olahraga
beritasumut.com PSMS Medan berhasil mencuri tiga poin penting di kandang PSGC Ciamis, setelah menaklukkan tuan rumah dengan skor 21 dalam
Olahraga
beritasumut.com Setiap awal bulan, ruang kerja Riska Januta Siregar di Perguruan Islam AnNizam tak pernah sepi dari tumpukan berkas keuang
Ekonomi