Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Panyabungan, (beritasumut.com)
Curah hujan yang semakin tinggi di Kabupaten Mandailing Natal
(Madina) mengkibatkan banjir dan longsor di berbagai kecamatan sehingga
menimbulkan bencana. Bahaya juga mengancam jiwa manusia di Kecamatan
Hutabargot dan Nagajuang yang melakukan penambangan selama dua tahun
terakhir. Sebab perut bumi tersebut sudah penuh rongga lubang yang cukup
besar dan punya potensi longsor.
Muammar Nasution warga Kecamatan Hutabargot mengakui ribuan orang
beraktivitas sebagai penambang di perbukitan Hutabargot setiap hari.
Kemudian ratusan orang seriap harinya berada di dalam lubang tanah
mengambil bebatuan yang bercampur dengan biji emas.
“Kita melihat dengan adanya penambangan yang dilakukan oleh
masyarakat selama ini di perbukitan Kecamatan Hutabargot secara kasat
mata telah terlihat transaksi uang setiap hari di wilayah ini meningkat
secara drastis dan ekonomi masyarakat juga beranjak naik akibat dan
berbagai lapangan kerja terbuka. Namun warga tidak pernah melihat
keselamatan manusia juga terancam akibat perut bumi yang setiap hari
terus digali yang akan memberikan dampak longsor secara besar-besaran
nantinya, tentu juga akan diikuti oleh banjir,†sebutnya di
Hutabargot, Kamis (20/12/2012).
Baca Juga:
Dikatakan, sudah banyak contoh seperti yang terjadi di Provinsi Jawa
Barat maupun di Mandailing Natal sendiri. Misalnya pada Tahun 2005
terjadi longsor di Kecamatan Muara Sipongi dengan puluhan korban jiwa
yang diduga akibat perut bumi sudah kosong dan penuh rongga karena
penambangan warga di masa lalu.
“Kemungkinan potensi tersebut bisa saja terjadi di Hubargot dan
Nagajuang karena ratusan lubang besar yang dibuat warga di perbukitan.
Hal tersebut harus menjadi sebuah pemikiran bagi warga yang melakukan
penambangan agar tidak menimbulkan bahaya bencana besar di dua kecamatan
ini,†katanya.
Baca Juga:
Menurutnya, ada pepatah mengatakan bahwa siapa yang menanam tentu dia
yang akan menuai. Coba kita lihat banjir yang terjadi wilayah Kecamatan
Panyabungan yang menghanyutkan sejumlah rumah dan merusak sejumlah
tempat ibadah dan sekolah serta jembatan penghubung antar lintas
Sumatera yang kemudian berdampak secara ekonomi bagi warga dengan
berkepanjangan. Tentu itu terjadi akibat ulah manusia yang melakukan
penebangan hutan di hulu sungai. Oleh karena itu hal tersebut harus
diantisipasi jangan sampai terjadi kepada para penambang yang tidak
memiliki standar keamanan dan dampak lingkungan saat melakukan
penggalian.
“Pemerintah daerah juga harus segera berperan untuk melihat dan
mengambil langkah terhadap apa yang telah dilakukan warga di dua
kecamatan selama ini karena tidak memenuhi standar keamanan dan dampak
lingkungan. Kita tidak mau terjadi bencana yang luar biasa di Madina ini
yang bisa mengakibatkan korban jiwa karena penambang tersebut adalah
saudara kita juga,†sebutnya. (BS-026)
Tags
beritaTerkait
komentar