Senin, 18 Mei 2026

Hampir 80% Bencana di Indonesia Terkait Hidroklimatologi

Minggu, 21 April 2019 08:15 WIB
Hampir 80% Bencana di Indonesia Terkait Hidroklimatologi
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, dr. Achmad Yurianto mengatakan bencana di Indonesia dominan berkaitan dengan hidroklimatologi. Menurutnya, hampir 80 % bencana di Indonesia terkait dengan hidroklimatologi.
 
"Artinya bisa diprediksi. Bencana yang predictable sebenarnya bisa diprediksi juga jatuhnya korban,'' ujar dr Yuri seperti dilansir dari laman depkes.go.id, Minggu (21/04/2019).
 
Bencana yang berkaitan dengan hidroklimatologi itu, kata dr. Yuri, adalah bencana 'sopan' karena ada prediksi yang bisa kita manfaatkan untuk antisipasi risiko dengan baik. Tidak seperti bencana gempa besar yang terjadi tiba-tiba. Kejadian bencana hidroklimatologi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, angin puting beliung, dan gelombang pasang/badai.
 
Maka, hidroklimatologi adalah langkah awal bagaimana terjadinya risiko pada manusia akibat gempa. Hidroklimatologi membuat kesiapsiagaan manusia mengurangi risiko.''Karena itu yang menggugurkan definisi bencana adalah tidak adanya korban jiwa. Kami (Kemenkes) berkolaborasi dengan BMKG soal kerawanan bencana,'' ucap dr. Yuri.
 
Bencana yang berkaitan dengan hidroklimatologi akan menjadi lebih parah ketika ada ulah manusia yang merusak alam.dr. Yuri mencontohkan pada bencana banjir bandang di Bangka Belitung pada 5 Februari 2019.''Kalau itu menyalahkan climate change, kenapa tidak terjadi di zaman Sriwijaya. Ternyata penyebabnya ada pergeseran struktur tanah akibat pengerukan timah. Ini bukan masalah cuacanya, ini ulah manusia. Kalau kita meyakini ini (bencana diakibatkan juga oleh manusia) maka pencegahan terjadinya risiko akibat ulah manusia bisa dilakukan,'' kata dr. Yuri.
 
Hidroklimatologi harus dijadikan sebagai early warning system untuk mengelola bencana. Selain itu, keterkaitan antara iklim dengan wabah penyakit baru ditemukan pada wabah DBD.
 
Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan, BMKG, Marjuki, MSi menjelaskan keterkaitan iklim dengan DBD baru di skala DKI Jakarta. Keterkaitan itu terjadi pada saat mulai peningkatan jumlah kasus DBD di diawali dengan kenaikan kelembaban (RH) >75%.Data update pada 15 April 2019 tingkat kelembaban wilayah DKI Jakarta pada level tinggi, yakni Jakarta Selatan (RH 82%), Jakarta Timur (RH 80%), Jakarta Pusat (RH 77%), Jakarta Barat (RH 81%), dan Jakarta Utara (RH 76%).
 
Adanya keterkaitan ini, maka BMKG beserta Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Institut Teknologi Bandung (ITB) membangun Kewaspadaan dini DBD berbasis iklim (DBDKlim) untuk memberikan informasi prediksi pada periode yang akan datang, sehingga dapat dilakukan tindak lanjut oleh Dinas Kesehatan dan jajarannya.''Informasi prediksi kasus DBD seharusnya sudah disampaikan sebelum kejadian DBD meningkat, sehingga dapat dilakukan intervensi lebih dini. Namun, sistem peringatan dini ini baru dilakukan setelah kasus DBD sudah mulai meningkat (Desember 2018),'' kata Marjuki.(BS09)

Tags
beritaTerkait
Resmikan Desa Siaga Bencana, PLN UID Sumut Serah Terima Bantuan Program
Sarana Air Bersih dan 1.577 Tabung Bright Gas Disalurkan ke Warga Terdampak Bencana di Pidie Jaya
Yayasan IKAL Peduli Nusantara Salurkan Bantuan Banjir di Pangkalan Susu dan Tanjung Pura
Bank Sumut Rayakan Natal: Semangat Kasih Perkuat Empati Sosial, Etos Kerja, dan Persaudaraan
Peduli Korban Banjir Bandang, Anindya Bakrie Salurkan Bantuan Kadin ke Aceh, Sumut, dan Sumbar
Arman Chandra Salurkan 500 Paket Makanan ke Korban Banjir Medan dan Langkat, Komitmen Bantu Pengungsi
komentar
beritaTerbaru
hit tracker