Senin, 20 April 2026

Pustakawan Berpotensi Jadi Gerakan Anti Hoaks Kesehatan

Minggu, 18 Maret 2018 09:15 WIB
Pustakawan Berpotensi Jadi Gerakan Anti Hoaks Kesehatan
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Hoaks kesehatan paling banyak ditemukan selain hoax tentang politik. Digitalisasi karya ilmiah tentang kesehatan pun diyakini mampu menangkalnya.Pernyataan tersebut muncul setelah survei Persatuan Wartawan Indonesia pada tahun 2017 lalu dilansir. Setelah ada data bahwa  44 persen lebih masyarakat mengonsumsi berita hoaks, Kemenkes kerjasama dengan KPI untuk menghentikan iklan pengobatan alternatif
 
"Kita harus bisa membantu gerakan antihoaks dengan membuka akses ilmu pengetahuan," ungkap pakar teknologi informasi Ismail Fahmi dalam Pertemuan Perpustakaan Kesehatan seperti dilansir dari laman depkes.go.id, Minggu (18/03/2018).
 
Keyakinan inisiator Indonesia OneSearch bahwa hoaks kesehatan penting untuk segera diberantas muncul ketika ia menilik Search Engine Optimization (SEO) halaman pertama mesin pencari. Pencarian pertama mengarah ke pengobatan kanker, herbal, lalu pengobatan alternatif. Sama halnya ketika ia melakukan pencarian di Youtube.
 
Upaya-upaya pengobatan non medis pun terlanjur dipercaya sebagai cara ampuh karena sumber informasi masyarakat sebatas googling. Muncullah ide Fahmi untuk memakai keilmuan sebagai penangkal hoaks."Di perpustakaan banyak riset tentang hal-hal (pengobatan) tersebut. Kenapa malah tidak muncul di SEO? Maka, misi kita sekarang bagaimana publik dapat informasi benar dan otoritatif tentang pengobatan medis," terang Fahmi.
 
Secara khusus, ia merancang mesin pencari yang terhubung dengan seluruh perpustakaan, khususnya perpustakaan di lingkungan kesehatan. Terlebih dahulu perpustakaan Kemenkes yang tergabung dengan laman Katalog Induk Nasional Kesehatan (KINK). Perpustakaan Kemenkes sendiri menaungi sekitar 300 perpustakaan, seperti di Badan Litbang, pendidikan politeknik kesehatan, rumah sakit, perpustakaan lokal litbang dan lain sebagainya.
 
"Pemanfaatan kink.onesearch.id memudahkan publik mencari ke seluruh repositori dan tak mencari beberapa kali ke tempat berbeda. Bedanya onesearch bisa di handphone," jelas Fahmi.
 
Terbukanya akses karya ilmiah yang diyakini menangkal hoaks kesehatan juga diungkapkan oleh Ketua Forum Perpustakaan Digital Prof Zainal Arifin Hasibuan PhD.Ia mengungkapkan fakta bahwa seringkali pengetahuan tidak terekam ataupun tidak terbuka. Kalaupun terbuka, masyarakat tidak tahu kalau ada pengetahuan di dalamnya. 
 
"Digitalisasi itu keniscayaan bahwa sehari-hari kita tak terlepas dari mobile technology. Memerangi hoaks butuh peran pustakawan yang mengeksplisitkan ilmu," kata Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia ini.Apalagi, katanya, jika ilmu pengetahuan tak disebarkan bakal lenyap dengan sendirinya. Tantangannya juga terletak di kultur masyarakat Indonesia yang cenderung suka mengoceh. Dari kajian yang ia lakukan, konten pengetahuan di Indonesia di dunia maya memang sangat minim. Sehingga ia pun mulai mengembang-kan Indonesia Open e-Resource sebagai salah satu sumber referensi ilmu.
 
Sementara itu, Kabag Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI drg Widyawati MKM pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi jejaring perpustakaan kesehatan untuk bergabung dengan kink.onesearch.id."Supaya semua karya cetak dapat dibuka untuk umum dan kami berupaya mendigitalkan semua karya tersebut karena kami meyakini, digitalisasi karya ilmiah kesehatan dapat menangkal hoaks," jelas Widyawati.(BS02)
 

Tags
beritaTerkait
Kepala Dinas Kesehatan Tegaskan Komitmen Pelayanan Pasca-libur Lebaran
BPJS Kesehatan Pastikan Akses Layanan JKN Tetap Terbuka Selama Libur Lebaran
Sidak RSUD Djoelham, Wawako Binjai Pastikan Semua Pelayanan Setara
Wakil Walikota Medan Resmi Berkantor di Rumah Sakit Pirngadi
Walikota Medan Tekankan Pentingnya Pelayanan Kesehatan yang Humanis
Gubernur Sumut Gerak Cepat Beri Solusi Masalah Kesehatan di Nias Utara
komentar
beritaTerbaru
hit tracker