Kamis, 02 April 2026

Dimanja AI, Daya Juang Belajar Siswa di Sumatera Utara Perlu Dibangkitkan

Rabu, 01 April 2026 17:49 WIB
Dimanja AI, Daya Juang Belajar Siswa di Sumatera Utara Perlu Dibangkitkan
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung

beritasumut.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Siswa kini dapat mengakses informasi dengan sangat cepat dan mudah. Tugas-tugas sekolah yang dahulu membutuhkan waktu lama, kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit. Kemudahan ini tentu menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, di balik itu, muncul tantangan baru yang perlu mendapat perhatian bersama, yaitu menurunnya kebiasaan belajar mandiri pada sebagian siswa.

Baca Juga:

Gambaran ini mulai terlihat di SD Negeri 064990 Medan. Berdasarkan pengamatan sederhana pada siswa kelas IV hingga VI, sebagian siswa diketahui mulai terbiasa menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan tugas sekolah. Dari sekitar 30 siswa, lebih dari setengahnya pernah menggunakan AI, dan sekitar 40 persen di antaranya langsung mencari jawaban tanpa mencoba memahami soal terlebih dahulu. Ketika diminta menjelaskan kembali jawaban yang mereka tulis, tidak sedikit siswa yang masih kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa kemudahan teknologi belum sepenuhnya diiringi dengan penguatan proses berpikir. Siswa memang dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tetapi belum tentu memahami isi dari apa yang mereka kerjakan.

Baca Juga:

Ketua Tim Peneliti, Dinda Yarshal, melihat fenomena ini sebagai bagian dari perubahan yang perlu disikapi secara bijak. Menurutnya, penggunaan AI bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu diarahkan dengan tepat. "Penggunaan AI oleh siswa sebenarnya bukan masalah utama. Yang menjadi perhatian adalah ketika AI digunakan sebagai jalan pintas tanpa proses berpikir. Jika ini terus terjadi, kemampuan dasar seperti memahami dan menganalisis bisa melemah," ujarnya, Rabu (01/04/2026).

Dinda menekankan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses belajar itu sendiri. "Sekolah tidak perlu melarang teknologi, tetapi perlu mengarahkan penggunaannya. Di sinilah peran guru sangat penting untuk membangun kembali budaya berpikir di kelas," tambahnya.

Masukan serupa juga disampaikan oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah Difusi Inovasi Pendidikan Dasar, Prof. Dr. Hasratuddin, M.Pd. Ia menilai bahwa kehadiran teknologi seperti AI merupakan bagian dari inovasi pendidikan yang tidak bisa dihindari, tetapi harus dikelola dengan pendekatan yang tepat. "Dalam perspektif difusi inovasi, teknologi seperti AI seharusnya tidak hanya diadopsi, tetapi juga diadaptasi sesuai dengan tujuan pembelajaran. Jika tidak, inovasi justru bisa menimbulkan dampak yang tidak diharapkan," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa peran guru sangat penting sebagai pengarah dalam penggunaan teknologi. "Guru perlu memastikan bahwa siswa tetap terlibat aktif dalam proses belajar. AI harus digunakan untuk memperdalam pemahaman, bukan menggantikan proses berpikir siswa," tegasnya.

Di sisi lain, pihak sekolah menyambut temuan ini sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kepala SD Negeri 064990 Medan, Suci Dirma Ayu menyampaikan bahwa perubahan pendekatan belajar memang perlu dilakukan seiring perkembangan zaman. "Kami memahami bahwa teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan siswa. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan cara mengajar agar siswa tetap aktif dan berpikir," ungkapnya.

Kepsek menambahkan bahwa sekolah mulai mendorong guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna. "Ke depan, kami akan memperkuat pembelajaran melalui diskusi, tanya jawab, dan penugasan yang menuntut pemahaman. Harapannya, siswa tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi benar-benar belajar," jelasnya.

Dinda yang juga mahasiswa S3 Pendidikan Dasar, Universitas Negeri Medan (UNIMED) ini menilai bahwa fenomena ini menjadi pengingat bahwa tantangan pendidikan saat ini bukan lagi sekadar keterbatasan akses informasi, melainkan bagaimana membentuk kemampuan berpikir di tengah melimpahnya informasi. Siswa tidak lagi kesulitan menemukan jawaban, tetapi justru perlu dibimbing untuk memahami makna dari jawaban tersebut. Secara lebih luas, kondisi ini juga sejalan dengan gambaran pendidikan di Sumatera Utara. Meskipun tingkat melek huruf sudah sangat tinggi, kualitas pemahaman belajar masih perlu terus diperkuat. Jika kebiasaan belajar yang kurang optimal sudah terbentuk sejak sekolah dasar, maka dampaknya dapat berlanjut hingga jenjang pendidikan berikutnya.

Oleh karena itu, harap Dinda, diperlukan upaya bersama untuk menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan penguatan proses belajar. Guru, sekolah, dan orang tua memiliki peran penting dalam membimbing siswa agar tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga memahami dan mengolah informasi secara mandiri. "Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang menemukan jawaban dengan cepat, tetapi tentang bagaimana siswa mampu berpikir, memahami, dan menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindari, menjaga semangat belajar menjadi kunci utama. Dengan pendampingan yang tepat, AI justru dapat menjadi sarana untuk memperkaya pembelajaran, bukan menggantikannya," pungkasnya. (Rel)

Tags
beritaTerkait
Dari Budaya ke Kelas, Penguatan Pendidikan Anti Korupsi dalam Kurikulum Merdeka di Sumatera Utara
Pegadaian Kanwil 1 Medan Lepas 250 Pemudik Lebaran
HONOR X7d dan HONOR X6c Diluncurkan, Smartphone Miliki Daya Tahan Baterai Besar dan Pengalaman AI
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Cek SPBU dan SPPBE, Pastikan Layanan Energi Sesuai Standar
Sarana Air Bersih dan 1.577 Tabung Bright Gas Disalurkan ke Warga Terdampak Bencana di Pidie Jaya
Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Sukses Gelar PKM, Guru SD di Medan Kini Lebih Kompeten Cegah Stunting
komentar
beritaTerbaru
hit tracker