Jumat, 17 Juli 2026

Nazaruddin: Intelektual dan Moral Aset Termahal di Era Digital

Rabu, 20 Februari 2019 22:30 WIB
Nazaruddin: Intelektual dan Moral Aset Termahal di Era Digital
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Intelektual dan moral aset termahal di era digital karena  belum dapat didigitalkan. Kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya faktor penentu kesuksesan, tanpa moral Intelektual merupakan rahmat Allah yang tiada ternilai. Allah hanya memberikannya  kepada  manusia, sebagai makhluk teristimewa, Maka sudah sepatutnya kita bersyukur atas keistimewaan yang diberikan Allah ini.
 
Hal tersebut diungkapkan, Nazaruddin, MLIS dosen pada Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan saat memberikan orasi ilmiah dengan tema 'Intelektual dan Moral di Era Digital' di UIN Ar-Raniry, Rabu (20/02/2019).
 
“Menurut KBBI, Intelektual adalah cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Dengan demikian jelas bahwa intelektualitas itu indikatornya bukan ijazah dan IPK. Seperti kata Rocky Gerung, ijazah itu hanya sebagai bukti anda pernah kuliah," kata Nazaruddin yang saat ini sedang menempuh program doktor dalam bidang Multimedia Management di Universiti Utara Malaysia.
 
Namun, ia menilai indikator kecerdasan intelektual yang sebenarnya adalah kemampuan memadukan ilmu dan moral untuk kebermanfaatnya bagi manusia lain dan alam semesta.Menurutnya, intelektual dan moral adalah aset termahal di era digital yang masih kita miliki, paling tidak sampai saat ini. Karena  kecerdasan  dan  moral  manusia  juga  saat  ini  sedang  bertarung dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pemenangnya sebenarnya sudah jelas, meskipun manusia masih banyak yang belum mengakui.
 
“Indikasinya dapat dilihat, di mana manusia sudah sangat tergantung pada perangkat digital berbasis kecerdasan buatan tersebut, seperti smartphone dan tablet. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh sebuah hasil penelitian disertasi di Harvard University, Amerika Serikat, pada tahun 2013. Kedekatan manusia dengan ponsel pintar telah menyebabkan kekaburan batas intelektual.Manusia sudah sulit membedakan antara pengetahuan miliknya atau pengetahuan Internet,” kata Nazaruddin.
 
"Selain itu, di era disrupsi moral manusia sebenarnya sedang di uji. Oleh karena itu kita harus pastikan bahwa kita benar-benar manusia, karena di luar sana ada Sophia, Si robot  humanoid  atau  manusia  robot yang dikembangkan oleh perusahaan Hanson Robotics berbasis di Hong Kong, pada tahun 2015. Jangan sampai moral Sophia mengalahkan moral Sapiah kita.Karena itu akan sangat berbahaya jika Sapiah kita tidak dapat lagi dipercaya," pungkasnya.(BS09)
 

Tags
beritaTerkait
Polisi Bekuk Pelaku Tunggal Pembunuh Mahasiswa UMA di Patumbak Dijerat Pasal Berlapis dan Berat
Umrah dan Haji di Tanah Suci, Tetap Terhubung dan Nyaman Bersama Tri Ibadah
Trafik Data Meningkat 21% saat Idulfitri, Indosat Hadirkan Koneksi Andal Tanpa Hambatan
Gubernur Sumut Luncurkan Mudik Gratis Lebaran Bagi Mahasiswa di Luar Sumatera
Bookber Simpel IM3 di Kota Medan Jadi Bukber Paling Seru
Ubah Lontar Jadi Pemanis Sehat: Ini Dia Inovasi Hebat Karya Mahasiswa UPER
komentar
beritaTerbaru
hit tracker