Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Padangsidimpuan terus berbenah. Pembenahan dilakukan di banyak sektor, mulai dari bangunan gedung baru untuk perkuliahan, gedung Ma’had Jami’ah putra-putri, hingga pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pengelola dan dosen pengajar.
Pengembangan IAIN Padangsidimpuan di bawah komando Rektor Ibrahim Siregar ini mengusung 'Dalihan Natolu' sebagai simbol integrasi keilmuan di kampus kebanggaan masyarakat Mandailing bagian selatan ini.
“Berdasarkan PMA Nomor 93 tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja IAIN Padangsidimpuan pasal 62 tentang pengembangan Ma’had Jami’ah dan diperkuat Perdirjen Pendis nomor Dj.I/Dt.I.IV/PP.00.9/2374/2014 tanggal 30 September 2014, kita bangun IAIN Padangsidimpuan menuju kampus yang lebih baik,” ujar Ibrahim dilansir dari laman kemenag, Rabu (11/04/2018).
Selain itu, kata Ibrahim, bentuk bangunan-bangunan gedung kampus menampilkan simbol 'Dalihan Natolu' dipucuk gedung untuk mensosialisasikan kearifan lokal. Simbol itu juga untuk mengejawantahkan fungsi kampus yang memiliki kewajiban untuk menjelaskan kepada dunia bahwa ajaran-ajaran Islam pada masa kejayaan Daulah Abbasiyah telah melakukan integrasi keilmuan dalam memajukan peradaban.
“IAIN Padangsidimpuan memiliki visi menjadi institusi pendidikan Islam yang integratif dan berbasis riset untuk menghasilkan lulusan yang berwawasan keilmuan, keislaman, keindonesiaan, dan kearifan lokal yang inter-konektif,” kata Ibrahim.
Dijelaskan Ibrahim, bahwa masyarakat batak Angkola merupakan salah satu sub suku batak yang memiliki seperangkat struktur dan sistem sosial yang diakui adat secara turun temurun sebagai warisan yang berasal dari leluhur.
“Struktur dan sistem sosial tersebut mengatur kehidupan bermasyarakat baik dalam tata hubungan sesama anggota masyarakat, kerabat dekat, kerabat secara luas, saudara semarga, saudara beda marga serta masyarakat umum yang dikenal dengan istilah dalihan natolu,” kata Ibrahim.
Wakil Rektor III Sumper Mulia Harahap menjelaskan bahwa konsep Dalihan Natolu dalam konteks integrasi keilmuan yang diusung IAIN Padangsidimpuan untuk mengkonstruk lambang integrasi keilmuan yang diharmonisasikan dengan adat istiadat setempat. Sebab, Dalihan Natolu dianggap dapat menjadi wacana, karena posisi dalihan natolu itu sendiri yang begitu kokoh tatkala satu dengan lainnya terintegrasi secara kuat.
“Dalam konteks integrasi, keilmuan yang mesti dibangun para akademisi di lingkungan IAIN Padangsidimpuan harus berupaya semaksimal mungkin untuk membangunnya dengan memperhatikan paradigma tauhidnya,” kata Sumper.
Sebagaimana diketahui, lanjut Sumper, IAIN Padangsidimpuan memiliki Program Studi Matematika, Bahasa Inggris, Perbankan dan Ekonomi Syariah, Program Studi umum. "Ini semuanya tentu harus memperhatikan dimensi ketuhanan, Alam Semesta dan Manusia agar terintegrasi satu dengan lain,” sebut Sumper.
Bagi Doktor hukum ini, mengabaikan salah satu dimensi dalihan natolu dengan keilmuan keagamaan tersebut mengakibatkan terjadinya dis-integrasi yang dapat membawa dampak negatif dalam sistem sosial dan terkikisnya nilai falsafah dalihan natolu sebagai rujukan dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sosial masyarakat Batak Angkola.(BS09)
Tags
beritaTerkait
komentar