Jumat, 03 Juli 2026

USAID PRIORITAS : Studi Baru Terkait Supply and Demand Guru Kelas di Sekolah Dasar

Sabtu, 29 April 2017 17:30 WIB
USAID PRIORITAS : Studi Baru Terkait Supply and Demand Guru Kelas di Sekolah Dasar
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Direktur Program USAID PRIORITAS Stuart Weston, mengatakan berdasarkan data Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2015, Indonesia masih kekurangan guru kelas PNS sebesar 282.224 guru. Namun jumlah ini belum memasukkan guru bukan PNS atau guru honor. Jika data guru bukan PNS ikut dihitung, maka ada kelebihan 82.245 guru kelas. Sementara itu pada tahun yang sama, sebanyak 415 lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK), akan meluluskan 91.247 orang dari Program PGSD. Itu artinya sampai 2025, diproyeksikan lulusan Program PGSD mencapai 444.551 lulusan.
 
”Dengan mengetahui data guru kelas di sekolah dasar maka LPTK dapat mempertimbangkan kuota mahasiswanya sesuai kebutuhan guru kelas baru di sekolah dasar,” kata Stuart melalui release USAID PRIORITAS, Sabtu (29/04/2017).
 
Menurut Stuart, studi ini menemukan bahwa kebutuhan guru kelas baru di SD akan meningkat seiring berjalannya waktu, seperti guru yang pensiun, semakin sedikit guru baru yang masuk ke dalam sistem, dan jumlah siswa di sekolah yang meningkat. Dengan ini, USAID berpandangan, ke depan dengan perubahan populasi penduduk, jumlah siswa di SD akan stabil dalam waktu sekitar lima tahun.
 
"Jika sistem berlanjut seperti saat ini, tanpa usaha untuk meningkatkan efisiensi dalam penyebaran guru, maka kita dapat mengharapkan adanya penurunan jumlah suplai guru kelas baru selama tahun-tahun mendatang," imbuhnya.
 
Sementara itu, Ketua tim studi Mark Heyward PhD menyebut empat skenario yang bisa dilakukan untuk mengurangi kesenjangan kebutuhan kelas SD. Pertama, skenario normal atau tidak melakukan kebijakan apapun. Kedua, melakukan skenario penggabungan sekolah atau kelas rangkap. Ketiga, melakukan skenario alih fungsi guru mata pelajaran menjadi guru kelas. Keempat, melakukan skenario gabungan kedua dan ketiga.
 
Kebutuhan guru baru akan terus meningkat sejalan dengan jumlah guru yang pensiun dan bertambahnya penduduk usia sekolah. Jika mengikuti skenario yang disampaikan tim studi, maka proyeksi kebutuhan guru di tahun 2045 akan berbeda-beda. Kebutuhan guru baru bersarkan skenario 1 diproyeksikan sebesar 560.003 guru, skenario 2 sebesar 516.794 guru, skenario 3 438.058, dan skenario 4 sebanyak 394.914.
 
Sedangkan dari segi suplai lulusan PGSD terjadi ketimpangan berdasarkan wilayah. Anggota tim studi, Aos Santosa menyebut LPTK yang ada di Jawa memberikan suplai lulusan PGSD paling besar. “Membandingkan suplai dan kebutuhan guru kelas SD dengan asumsi tidak melakukan skenario efisiensi, di wilayah Jawa baru mengalami kekurangan suplai pada tahun 2023, wilayah Sulawesi pada tahun 2019, wilayah Sumatra pada tahun 2017. Wilayah yang mengalami kekurangan suplai  sejak tahun 2017 adalah wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua,” tutup Aos. (Rel)

Tags
beritaTerkait
Legimin Raharjo dan Iksan Chan Motivasi Pemain Muda Akademi Sekolah Sepak Bola
Kualitas Pendidikan di Sumatera Utara Masih Timpang, Akademisi Tawarkan Solusi Strategis
Dari Budaya ke Kelas, Penguatan Pendidikan Anti Korupsi dalam Kurikulum Merdeka di Sumatera Utara
Dimanja AI, Daya Juang Belajar Siswa di Sumatera Utara Perlu Dibangkitkan
Arus Balik Lebaran, Pertamina Sumbagut Bersama Staf Khusus Menteri ESDM Pastikan Kesiapan Layanan Energi
Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Sukses Gelar PKM, Guru SD di Medan Kini Lebih Kompeten Cegah Stunting
komentar
beritaTerbaru
hit tracker