Minggu, 19 April 2026

Turunkan Angka Stunting, KemenPPPA Dukung Tersedianya Akses Air Bersih Bagi Masyarakat di Serang

Selasa, 23 Maret 2021 18:30 WIB
Turunkan Angka Stunting, KemenPPPA Dukung Tersedianya Akses Air Bersih Bagi Masyarakat di Serang
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung

Beritasumut.com - Bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga bersama Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendi meninjau pembangunan alat penyediaan air minum bersih dan sanitasi perdesaan berbasis masyarakat (PAMSIMAS) di Desa Sindangsari, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, awal pekan ini.

Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan tersedianya kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang menjadi salah satu indikator penting dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting.

“Saya berpesan kepada seluruh keluarga yang memiliki anak dengan kondisi stunting serta para pendamping desa untuk terus mendampingi dan mengedukasi masyarakat khususnya para ibu terkait dampak dari bahaya stunting. Mengingat persoalan ini tidak terlepas dari peran penting Ibu dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan dengan optimal,” ungkap Menteri Bintang, dilansir dari Kemenpppa.go.id, Selasa (23/03/2021).

Baca Juga:

Baca Juga : Cegah Stunting, Menko PMK Kampanye Gerakan Makan Ikan untuk Masyarakat Nias Barat

Menteri Bintang menegaskan, dibutuhkan peran suami untuk mendukung istri mereka masing-masing untuk menurunkan angka stunting dan menghasilkan anak sebagai generasi masa depan bangsa yang berkualitas. "Hal ini tidak terlepas dari peran penting perempuan sebagai garda terdepan dalam melindungi anak dari stunting karena 1000 hari pertama kehidupan anak begitu penting dalam menentukan masa depannya. 1000 hari pertama tersebut dimulai dari masa kehamilan hingga anak lahir dan tumbuh berkembang hingga usia 2 tahun," ujarnya.

Baca Juga:

[br] Terjadinya stunting, sambung Menteri Bintang, disebabkan karena adanya ketimpangan gender dalam keluarga, seperti masih terdapat budaya yang membiasakan perempuan/ibu harus makan setelah anggota keluarga lainnya selesai, pemahaman diet yang menyimpang, pantangan makan yang salah bagi ibu hamil. Hal ini mengakibatkan 1 (satu) dari 3 (tiga) ibu hamil mengalami anemia hingga menyebabkan anak yang dilahirkan kekurangan gizi.

Kemen PPPA terus berupaya menangani persoalan ini dengan melakukan pendampingan pada Kementerian/Lembaga terkait untuk mengimplementasikan strategi pengarusutamaan gender (PUG) dalam pembangunan, serta menyusun Pedoman dan melakukan Pelatihan Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) untuk pencegahan stunting.

Selain itu, Kemen PPPA bersinergi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat telah melaksanakan program Kampung Anak Sejahtera (KAS) sebagai model yang dapat direplikasi oleh daerah lainnya di Indonesia untuk mengedukasi para Ibu tentang bagaimana memberikan pola asuh yang baik, serta memenuhi kebutuhan gizi anak dalam mencegah dan menurunkan stunting.

Baca Juga : Presiden Tunjuk Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Percepat Penanganan Stunting

“Tidak hanya melalui peran pemerintah, komitmen dan sinergi seluruh pihak sangatlah penting dalam mewujudkan desa bebas stunting. Tentunya melalui sinergi untuk berkolaborasi dan berinovasi dalam menurunkan angka stunting ini,” tambah Menteri Bintang.

Pada rangkaian acara ini, Menteri Bintang turut menyaksikan acara penandatanganan Deklarasi Kabupaten Ramah Perempuan dan Layak Anak oleh Bupati Kabupaten Serang, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Kependudukan, dan Keluarga Bencana (DP3AKKB) Provinsi Banten dan Dinas terkait lainnya. “Deklarasi ini diharapkan dapat menjadi komitmen bagi seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Serang dalam mencegah dan menurunkan angka stunting,” tegas Menteri Bintang.

[br] Senada dengan Menteri Bintang, Menko PMK Muhadjir Effendi menuturkan stunting merupakan ancaman serius yang menghambat tumbuh kembang anak, seperti berat badan anak yang tidak cukup, perkembangan otak yang terhambat, sehingga anak tidak tumbuh berkembang dengan baik. Hal ini dapat menghambat anak sebagai calon pemimpin bangsa dalam mencapai cita-citanya.

Pada acara dialog bersama para kepala desa dari 10 desa dengan tingkat stunting tertinggi di Kabupaten Serang, Menko PMK Muhadjir mencatat masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan fasilitas air bersih yang layak dan belum memiliki fasilitas mandi cuci kakus (MCK). Hal ini ditengarai menyebabkan banyak anak mengalami stunting. “Saya mendapat info bahwa kasus stunting di Desa Sindangsari ada 9 kasus dari 600 kelahiran atau kurang dari 1 persen. Hal ini sudah bagus namun harus terus ditingkatkan,” ujar Menko PMK.

Baca Juga : Kepala Bappenas: Kolaborasi Multisektor Penting untuk Perbaiki Gizi dan Penurunan Stunting

Untuk itu, Menko PMK meminta kepada seluruh K/L terkait untuk bersinergi dalam menangani persoalan tersebut. Selain itu, beliau berharap seluruh keluarga dengan anak stunting dapat dimasukan ke dalam penerima manfaat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang diberikan melalui Kementerian Sosial.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo menjelaskan stunting dapat dicegah baik melalui imunisasi dan pemenuhan gizi yang cukup melalui makanan yang kaya akan protein dalam 1000 hari pertama masa emas kehidupan anak. “Stunting masih bisa disembuhkan saat anak belum menginjak usia 1 tahun. Untuk itu, kita perlu bergotong royong menyediakan pemberian makanan tambahan (PMT) yang baik, demi menurunkan angka stunting,” terang Hasto.

[br] Sementara itu, Wakil Gubernur Provinsi Banten, Andika Hazrumy mengungkapkan terkait penanganan stunting di Provinsi Banten, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan kabupaten dan kota terkait dengan memetakan lokus daerah yang memiliki kasus stunting tertinggi. “Kami juga memberikan berbagai bantuan tidak hanya berupa sembako, tapi juga program penyediaan air bersih dan lainnya,” tegas Andika.

Bupati Kabupaten Serang, Ratu Tatu Chasanah mengungkapkan dari 726 desa di 29 kecamatan yang ada di Kabupaten Serang, terdapat 10 desa dengan kasus stunting tertinggi. Terkait penanganan kesehatan, Ratu Tatu menyampaikan sudah bersinergi dengan pihak puskesmas terkait dan kepala desa yang senantiasa mendukung program prioritas pemerintah Serang dan Banten.

Baca Juga : Sekdaprov Sumut Sabrina Harapkan Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten/Kota

“Hambatan yang kami hadapi dalam penanganan stunting ini yaitu sulitnya menyosialisasikan pola hidup bersih di masyarakat. Namun, kami terus berupaya mengedukasi masyarakat terkait pentingnya hidup bersih dan sehat, pentingnya pemeriksaan kehamilan, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, serta memeriksakan kesehatan anak secara berkala di posyandu,” tutur Ratu Tatu.

Pada rangkaian kunjungan kerja di Banten hari ini, Kemen PPPA bersama Kemenko PMK, Baznas, dan perwakilan dari dunia usaha turut memberikan pemenuhan kebutuhan spesifik bagi perempuan dan anak antara lain makanan pendukung, alat sekolah, mainan anak dan sanitarian kit demi mendukung percepatan penurunan stunting di Kabupaten Serang, Banten. (BS09)

Tags
beritaTerkait
Sarana Air Bersih dan 1.577 Tabung Bright Gas Disalurkan ke Warga Terdampak Bencana di Pidie Jaya
Sistem Sanitasi Barengkok, Mahasiswa UPER Sediakan Air Bersih bagi 150 Rumah Tangga
Warga Keluhkan Air Bersih, Gubernur Sumut Bobby Nasution Pertemukan Plt Dirut Tirtanadi
Wamen Isyana Jelaskan Alasan Ibu Hamil Juga Dapat Makan Bergizi Gratis
Pj Sekda Medan Ajak Pengurus GKPI Air Bersih Mendoktrin Bahaya Narkoba kepada Pemuda-Pemudi
Panglima TNI Hadiri Rakor Tingkat Menteri Dipimpin Menko PMK
komentar
beritaTerbaru
hit tracker