Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Medan drg Usma Polita mengungkapkan di sepanjang tahun 2016 lalu, kasus gizi buruk yang ditemukan di kota Medan mencapai angkap 120 kasus. Meksi begitu, Kadinkes menegaskan jika angka tersebut masih berada di bawah batas ambang endemis.
Menanggapi kasus tersebut, Direktur Murni Teguh, dr Mutiara MHA MKT mengungkapkan bahwa edukasi mengenai gizi buruk kepada orangtua perlu ditingkatkan. Selama masa kehamilan, sebutnya, harus memperhatikan asupan dan memberikan makanan bergizi kepada bayi.
"Jangan ibu mengikuti selera anaknya yang tidak mau makan. Kita harus turun tangan dan melihat apa saja yang menjadi masalah penyebab gizi buruk di tengah masyarakat," jelas dr Mutiara.
Sebelumnya, Deputi Bidang Keluarga Berencana (KB) dan Kesehatan Reproduksi (KR), Dr Ir Dwi Listyawardani MSc Dip Com menyatakan, sebanyak 30 persen bayi dari 4,5 juta hingga lima juta kelahiran pertahun di Indonesia menderita gizi buruk. Kondisi ini disebabkan kurangnya perawatan bayi selama ibu dalam masa kehamilan.Banyak faktor penyebab gizi buruk. Umumnya disebabkan karena ibunya terlalu muda untuk hamil.
Ia menuturkan, perempuan yang hamil terlalu muda masih dalam tahap tumbuh kembang hingga usia 21 tahun. Dalam masa tumbuh kembang, lanjutnya, wanita hamil harus mengonsumsi banyak nutrisi karena ibu dan bayi memerlukan banyak asupan makanan bergizi."Ibunya perlu gizi, bayinya juga. Mereka jadi rebutan.Ibu-ibu muda sering tidak memperhatikan asupan makanannya. Padahal ibu hamil harus cukup gizi. Inilah mengakibatkan bayi gizi buruk," katanya.
Ia mengatakan, 30 persen bayi dengan gizi buruk sangat berdampak bagi Indonesia. Generasi ini akan memiliki masa depan suram karena kondisi kesehatan dan kecerdasannya tidak berkembang optimal."Kami berupaya tidak akan ada lagi perempuan hamil di bawah usia 21 tahun dengan membentuk program Generasi Berencana (Genre). Tujuannya mengedukasi para remaja dan wanita pentingnya kesehatan reproduksi dan KB," pungkasnya. (BS03)
Tags
beritaTerkait
komentar