Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Kaum perempuan merupakan subjek yang dapat dikembangkan potensinya dalam rangka meningkatkan peran dan tanggungjawab dalam pembangunan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Pemberdayaan perempuan merupakan hal penting yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat melalui lembaga Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Salah satunya ada di Desa Barung-Barung, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batubara, Sumut.
Kepala Desa (Kades) Barung-Barung, Ilyas Efendi mengungkapkan, pihaknya serius untuk melakukan pemberdayaan bagi kaum wanita yang ada di desa. Bentuk keseriusannya yaitu dengan mengalokasikan anggaran bersumber dari dana desa untuk memberdayakan kaum perempuan. “Sasaran pemerintah adalah meningkatkan pembangunan desa yang juga diperlukan Rumah Tangga pedesaan meliputi segala kegiatan anggotanya. Sumber penghasilan dan berbagai masalah yang dihadapi oleh perempuan desa dengan memberikan kegiatan-kegiatan dalam kelompok, seperti memberi keterampilan di desa," ujarnya melalui siaran pers Unimed, Senin (14/10/2019).
Dijelaskan Ilyas, keterampilan yang dimiliki perempuan dapat dikembangkan menjadi sebuah usaha rumah tangga khususnya di desa. "Salah satunya keterampilan menjahit dan membordir. Adanya dana desa tersebut sudah dimanfaatkan untuk membeli 3 buah mesin bordir. Harapannya dapat membangun kreativitas perempuan serta upaya peningkatan perekonomian," terangnya.
Dia menyebut, cukup senang melihat kondisi perkembangan kerajinan PKK Desa Barung-Barung, akan tetapi belum puas karena harus ada inovasi yang dikembangkan agar kebudayaan ini dapat maju dan bersaing dengan produk-produk sejenis. "Oleh karena itu, kami gandenglah pakar di bidang tata busana dari Unimed yang secara kebetulan juga melakukan pendampingan di desa ini. Dampaknya, selain memiliki modal semangat kreasi dan inovasi modrenitas kain songket dapat terlihat. Tak hanya itu, limbah songket yang selama ini terbuang, ternyata dapat bermanfaat menjadi asesoris yang memiliki nilai ekonomis,” papar Kepala Desa Inovatif di kabupaten Batubara tersebut.
Sementara itu, Ketua Program Kemitraan FT Unimed, Dra Halida Hanim MPd mengungkapkan bahwa Kabupaten Batubara adalah penghasil kain songket terbesar di Sumatera Utara. “Songket Batubara merupakan bagian dari warisan budaya melayu yang harus tetap lestari. Akan tetapi apabila tidak dikombinasikan dengan daya kreasi dan inovasi, akan menjadi produk yang dilupakan oleh masyarakat moderen, karena tidak ada variasi bentuk yang kekinian. Oleh karena itu kita sedikit meberikan warna kreasi pada produk dan olahan limbah, sehingga menjadi produk yang diminati masyarakat,” sebut Dosen Tata Busana Unimed tersebut.
Didampingi anggota Tim Dra Armaini Rambe MSi dan Fauziah Agustini SE MBA, Dra Halida Hanim MPd menuturkan, Program Kementerian Riset Dikti yang dilaksanakan oleh Dosen Unimed akan melakukan pendampingan sehingga kain songket menjadi produk unggulan Batubara. “Target kita untuk mengembangkan Songket melayu menjadi tuan di negeri sendiri. Sinergis dengan program kabupaten Batubara, tinggal memberikan keyakinan kepada Ibu Rumah Tangga bahwa hasil dari menenun songket, dapat menjadi mata pencarian," pungkasnya. (Rel)
Tags
beritaTerkait
komentar