Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Sumatera Utara, beritasumut.com - Matahari pagi baru beranjak ke atas. Sengatannya sudah menembus kulit. Namun tak menghilangkan niat Saya untuk pergi ke Pulau Kampai.Butuh waktu hampir 3 jam dari Kota Medan untuk sampai di tempat tersebut. Tujuan Saya adalah kuburan panjang di Pulau Kampai. Kuburan yang menyimpan beragam nilai sejarah, misteri dan juga budaya bagi masyarakat Pulau Kampai.
Bagi sebagian masyarakat di Sumatera Utara, Pulau Kampai identik dengan terasi. Ya… Pulau ini adalah salah satu daerah penghasil terasi terbaik di Indonesia. Bahkan, konon terasi Pulau Kampai sudah sampai ke negeri jiran.
Kepopuleran terasi ini jugalah yang mengangkat nama pulau ini. Apakah Pulau Kampai hanya populer karena terasi saja? Ternyata tidak. Pasalnya jika Anda mengunjungi pulau ini, Anda juga akan melihat beberapa peninggalan budaya yang menyimpan beragam nilai sejarah yang masih misterius.
Sampai di Stabat, perjalanan dilanjutkan menuju dermaga Pangkalansusu untuk menyeberang ke Pulau Kampai.Pulau Kampai adalah nama sebuah pulau yang terletak di Kabupaten tingkat II Langkat, Kecamatan Pangkalansusu. Sebelum kaki ini menginjak di tanah Pulau Kampai, kita harus menyeberang lautan dengan menggunakan speed boat. Ongkosnya cukup murah. Sekali naik para penumpang hanya ditarik 10 ribu rupiah. Jika kita membawa sepeda motor dikenakan tambahan biaya 5 ribu rupiah.
"Setiap hari kita melayani rute perjalanan dari dermaga ini ke Pulau Kampai. Ada juga penumpang yang menuju ke Pulau Sembilan," ujar Buyung salah seorang pemilik boat.
Kuburan "Misterius"
Setelah kurang lebih 40 menit menikmati pemandangan lautan. Kami pun akhirnya sampai ke Pulau Kampai. Sambutan hangat penduduk Pulau Kampai membuat kami merasa nyaman. Menurut Buyung, salah seorang masyarakat setempat, Pulau Kampai didiami oleh beberapa suku. Di antaranya Jawa, Aceh, Melayu, perantau dari Malaysia dan Karo. Warga Tionghoa juga ada walaupun jumlahnya tidak sebanyak dulu."Saat ini yang tinggal adalah orangtua dan anak-anak. Kalau yang remaja sudah banyak yang mencari kerja ke luar," terang Buyung.
Usai berbincang sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju kuburan "misterius". Orang-orang di sini menyebutnya dengan Kuburan Keramat Panjang. Dari dermaga Pulau Kampai, kuburan tersebut hanya berjarak sekitar 300 meter.
Sebuah bangunan berpagar kayu menyergap langkah kami. Rasa penasaran pun langsung menyeruak dalam hati. Apakah betul kuburan itu memiliki ukuran yang berbeda dengan kuburan lain. Ternyata benar, di dalam bangunan berjejer dua buah nisan. Yang satu memiliki ukuran sekitar 6 meter dan yan satunya lagi 8 meter. Di kedua nisan tersebut tidak ada satu pun identitas yang bisa dijadikan bukti kuburan siapa sebenarnya.
Masyarakat di sini percaya jika kuburan ini sudah ada sebelum zaman penjajahan Belanda. Hingga saat ini, kuburan keramat panjang ini masih sering dikunjungi oleh masyarakat untuk berdoa."Sebagai salah seorang yang sejak kecil tinggal di sin, saya tidak pernah tahu kuburan siapa sebenarnya. Orang tertua di sini saja juga tidak tahu," ungkap Buyung menjelaskan.
Menurutnya, kuburan ini sebelumnya pernah diteliti ilmuan dari Belanda. Namun hasilnya nihil. Ukiran di batu nisan yang mirip dengan tulisan China, sempat diyakini masyarakat jika kuburan ini adalah kuburan etnik Tionghoa. Tapi lagi-lagi, teori tersebut masih belum bisa dipercayai seratus persen masyarakat sini.
Kemisteriusan Kuburan Panjang ini bukan hanya ini saja. Pasalnya, kuburan ini menurut warga memiliki penjaga khusus, yakni seekor harimau berwarna putih."Dulu harimau putih itu sering dilihat oleh warga sini. Selain itu, dulunya di sini juga pernah ada orang yang meninggal, gara-gara memindahkan batu pusara yang ada di atas kuburan ini," papar Yusuf menambahkan.
Hingga saat ini kuburan ini tetap masih menyimpan misteri. Namun meski begitu, dari beberapa data didapat penjelasan bahwa sesuai dengan namanya, Kuburan Keramat Panjang. Kuburan ini mengacu pada nama Teuku Keramat Panjang dan nama tersebut sudah dilafal sejak dari tiga generasi sebelum mereka. Sebuah nama yang juga memiliki hubungan erat dengan ulama besar dari Langsa.
Nama asli dari Teuku Keramat Panjang adalah Teuku Sulthan Muhammad. Ia berasal dari Pakistan dan seorang ulama besar. Saat tiba di Pulau Kampai, ia berusia 13 tahun dan menetap di Pulau Kampai sampai akhir hayatnya. Di Pulau Kampai ia bekerja menjadi pedagang, seperti jual-beli emas, kain dll.
Di samping sebagai pedagang, ia juga membuka perpustakaan seraya menulis buku-buku agama, bahan-bahannya beliau ambil dari Mesir. Mengingat ilmu agama beliau sangat luas, beliau juga berdakwah di Pulau Kampai.
Teuku Sulthan Muhammad menikah dengan seorang wanita berumur 14 tahun di Pulau Kampai, istri beliau bernama "Siti Bahara Silalahi". Ayah Siti Bahara Silalahi berasal dari Kabanjahe yang semasa hidupnya ayah Siti Bahara Silalahi juga seorang pedagang Sedangkan ibu Siti Bahara Silalahi, berasal dari tanah Deli.(BS02)
Tags
beritaTerkait
komentar