Sabtu, 02 Mei 2026

Masyarakat Cenderung Beralih ke Pasangan Baru dan Bersih

Kamis, 28 Februari 2013 13:05 WIB
Masyarakat Cenderung Beralih ke Pasangan Baru dan Bersih
Ist
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Medan, (beritasumut.com) – Umumnya, setiap kali ajang pemilihan kepala daerah digelar akan bermunculanlah tag line atau jargon yang menggambarkan keseriusan pasangan calon terhadap persoalan di daerahnya masing-masing. Jargon ini juga diharapkan dapat membuat pasangan calon mudah diingat oleh masyarakat. 

Menurut pengamat politik Edy Ikhsan SH MA di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (23/02/2013), kebanyakan dari jargon yang diusung setiap pasangan calon, ketika sudah berhasil duduk jargaon tersebut hanya tertuang di atas kertas, susah diwujudkan.

Seperti jargonnya pasangan Syampurno dan menjadi pemenang pada Pilkada Sumut 2008 lalu, mengatakan “Rakyat tidak lapar, tidak bodoh dan tidak sakit” sampai hari ini realisasinya masih jauh panggang dari api. Masyarakat kita masih kesulitan untuk mendapatkan akses berobat ke rumah sakit, masih banyak ditemukan anak-anak menderita gizi buruk.

Menyikapi jargon yang muncul pada ajang Pilgub Sumut tahun ini, lima pasangan calon yang akan bertarung memperebutkan Sumut 1 pada 7 Maret 2013 nanti mengusung tag line Sumut Sejahtera, Lebih Berwarna, Jujur, Berani dan Melayani, Pembangunan Dimulai dari Desa, Membangun dalam Kebhinnekaan serta Merakyat dan Melayani.

“Apabila kita mencermati kalimat-kalimat yang dimunculkan pasangan calon ini, lantas harapan masyarakat untuk memilih salah satu pasangan calon pada hari H-nya nanti jatuh pada siapa? Dari lima pasangan calon yang ada, empat diantaranya sudah tidak asing bagi masyarkat Sumatera Utara. Mereka telah berkiprah di Sumut, dan katanya telah melakukan banyak hal di Sumut. Akan tetapi berdasarkan pandangan kita mereka melakukan apa untuk Sumut,” paparnya.

Masyarakat Sumut sudah belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu, lanjut Edy Ikhsan yang juga kandidat Doktor USU ini. Katanya sudah berbuat dan memiliki pengalaman dalam memimpin, tapi berbuat apa? Masyarakat saat ini cenderung akan berpikir praktis untuk mencoba beralih pasangan calon gubernur yang baru dan bersih serta bukan kelahiran Sumut, yaitu pasangan ESJA. Pasangan ini juga sangat menjunjung tinggi pluralisme, dengan mengusung tag line “Lebih Berwarna”.

Membedah jargon yang diusung setiap pasangan calon, Sumut Sejahtera misalnya. Sejahtera ukurannya dari mana? Kalau diterjemahkan maka penjabarannya sangat melebar dan meluas, tidak ada penekanan ke salah satu bidang. Katanya akan memberdayakan ekonomi kerakyatan dengan mem­berdayakan usaha kecil dan menengah, lantas bagaimana dengan sektor lainnya?

Jargon Lebih Berwarna (Bersih, Berwibawa, Sejahtera dan Berguna) membawa kita ke sebuah ungkapan yang sangat sederhana tapi memiliki pengertian yang sangat luas. Lebih Berwarna menandakan bahwa Sumut sangat beragam dan pasangan ini sepertinya sangat mengerti dengan pluralisme yang ada di Sumut. Jargon ini diyakini memberikan sebuah pemahaman yang sangat mendalam, dimana kalimat Lebih Berwarna menjadi salah satu mercusuar dan panduan bagi kebijakan-ke­bijakan dibawahnya dalam mela­kukan banyak hal demi untuk kesejahteraan masyarakat Sumut.

“Lebih berwarna ini memberikan kesan tidak diskriminatif, saling mengawasi dan melibatkan semua orang yang bisa menjadi lampu sorot, pedoman dari kebijakan-kebijakan yang akan diturunkan,” ujarnya.

Calon Gubernur pasangan ESJA ini bukan kelahiran Sumut, tapi memiliki kerinduan untuk berkiprah di Sumut. Dari lima pasangan calon, hanya satu yang terbilang “orang baru” dan sisanya sudah berkiprah di Sumut. Pasangan ESJA dengan mottonya Jujur, Berani dan Melayani akan memberikan pemahaman baru bahwa Sumut harus terbebas dari korupsi. Korupsi yang menggerogoti uang negara yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat banyak.

Kemudian, Pembangunan Dimulai dari Desa menurut Edy Ikhsan rasanya sangat tidak mungkin terwujud apabila kewenangan gubernur masih seperti yang sekarang. Beda jauh dengan kewenangan gubernur DKI yang bisa mencopot walikota atau aparat pemerintahan dibawah kepemimpinannya. Undang-undang otonomi daerah yang berlaku membuat ke­dudukan gubernur di Sumut tidak bisa seenaknya meminta pemimpin di daerah utnuk menuruti perintahnya. Jangankan untuk memerintah, mengundang rapat ke provinsi saja yang diutus oleh kepala daerahnya adalah perwakilan setingkat SKPD. Ini yang akan menjadi kendala dalam mewujudkan pembangunan dimulai dari desa.

“Camat yang di Medan dengan camat yang di Samosir sana camatnya siapa sih? Apakah perintah gubernur berlaku bagi mereka,” tegasnya.

Lalu, jargon yang mengatakan Membangun Dalam Kebhinnekaan adalah ungkapan yang sangat umum dan sangat orde baru sekali. Siapa yang tidak tahu kalau negara kita mengenal keberagaman atau kebhinnekaan. Yang terakhir adalah Merakyat dan Melayani. Merakyat dalam kalimat sesungguhnya berarti sangat dekat dengan rakyat. Apakah selama ini mereka benar-benar sangat merakyat? Jangankan merakyat, dijumpai saja sangat susah? Melayani masyarakat itu tidak mudah. Melayani berarti harus benar-benar dan sungguh-sungguh tanpa ada beban. Bagaimana mau melayani kalau selama ini pemerintah kita tidak pernah serius dalam mendengar apa keinginan rakyatnya.

Kita berharap, pemilihan gubernur tahun ini bisa membawa perubahan bagi Sumatera Utara. Sumut butuh pemimpin yang benar-benar bisa membawa perubahan dan komit dengan apa yang telah diucapkan baik saat kampanye atau sesuai dengan jargon yang diusung, tandasnya. (BS-035)

Tags
beritaTerkait
MK Tolak Gugatan Gusman & ESJA
ESJA Bawa Gerobak Paten ke MK
Pembentukan Panwaslu Sumut Dinilai Cacat Hukum
ESJA dan Gusman Gugat Hasil Pilgub Sumut ke MK
ESJA Minta Pencoblosan Ulang di Medan
Partisipasi Pemilih di Medan Hanya 36,62 Persen
komentar
beritaTerbaru
hit tracker