Sabtu, 02 Mei 2026
Ephorus Emiritus HKBP Pdt Dr JR Hutauruk:

Tidak Baik Melupakan Yang Teruji dan Terpuji Seperti RE Nainggolan

Kamis, 28 Februari 2013 11:11 WIB
Tidak Baik Melupakan Yang Teruji dan Terpuji Seperti RE Nainggolan
Ist
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Medan, (beritasumut.com) – Ephorus Emiritus HKBP Pdt Dr Jubil Raplan Hutauruk mengajak para pendeta agar tidak mengibarkan bendera agama, apalagi sampai melakukan tindakan yang dapat dikategorikan “menjual” gereja dalam menyikapi Pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Sedangkan warga HKBP diajak untuk tetap menjaga rasa hormatnya kepada pendeta-pendeta sebagai pelayan gereja, walau tidak harus mengikuti anjuran, propaganda dan kampanyenya terhadap salah seorang kandidat.

Ajakan itu disampaikan JR Hutauruk menanggapi pertanyaan wartawan tentang munculnya keraguan jemaat HKBP dalam menentukan pilihan menyusul keluarnya pernyataan sikap sekelompok pendeta HKBP yang mendukung salah satu pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Sumut 2013-2018.  Sejumlah wartawan menemui Ephorus HKBP Periode 1998-2004 ini di kediamannya, Tanjung Sari, Medan, Sumatera Utara, Senin (25/02/2013).

 “Pernyataan sikap seperti itu sudah kebablasan. Mudah-mudahan jemaat kita adalah jemaat yang dewasa, yang tidak mudah diombang-ambingkan informasi yang tidak benar, sekalipun itu disampaikan pendeta. Ucapan pendeta harus dipilah-pilah, apa sudah benar menurut firman Tuhan,” ujar JR Hutauruk yang didampingi istrinya Dumaris Br Simorangkir.

Sebagai warga gereja, lanjut JR Hutauruk, hormat kepada pendeta, bukan berarti harus mengikuti  semua langkah dan pemikirannya. Perlu ditimbang secara matang dan kritis, sebagaimana Yesus menjawab secara kritis, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”.

Dia melanjutkan, sebagai  jemaat gereja dan pelayan gereja ada garis politik yang harus diikuti.  “Kita mengenal politik kesejahteraan, politik keadilan dan politik kebebasan. Jangan memilih seseorang atas pertimbangan pemilikan materi, kaya atau miskin. Namun yang harus diperhatikan adalah track record (rekam jejak) si calon itu sendiri,” ujarnya.
 
Ditanya mengenai pendapat pribadinya terhadap lima pasang kandidat yang akan bersaing di Pilgub Sumut, JR Hutauruk mengaku sudah banyak melihat dan mendengar sepak terjang calon-calon pemimpin Sumut lima tahun ke depan itu.

“Untuk menilai calon mana yang paling layak dipercaya memimpin Sumut, saya membedakan antara politik secara ideologis, dengan politik praktis. Dalam politik ideologis, yang paling ditonjolkan adalah kesejahteraan, keadilan dan kesetaraan, bukan kekuasaan. Kriteria ini tercermin dalam diri RE Nainggolan,” ujarnya.

JR Hutauruk melanjutkan, dalam berbagai tempat dan kesempatan, ia banyak mendengar kerinduan warga HKBP terhadap kemajuan Sumut. “Kalau kita benar-benar rindu terhadap kemajuan Sumut, kemajuan Taput, Danau Toba, sudah seharusnya kita melihat jejak-jejak siapa yang pernah berbuat di sana,” kata JR Hutauruk.

Menurut JR Hutauruk, RE Nainggolan sangat layak diberi kesempatan untuk memimpin Sumut bersama-sama dengan Amri Tambunan. RE Nainggolan memulai karir dari Staf Kantor Camat Pahae Jae, Tapanuli Utara. Karirnya terus meningkat hingga Sekretaris Daerah Dairi dan Bupati Tapanuli Utara. Dari sana, RE Nainggolan dipercaya  di berbagai posisi strategis di Pemprov Sumut dan pensiun saat menjabat  Sekretaris Daerah Sumut, yang merupakan puncak karir tertinggi PNS di sebuah provinsi.  

“Saat saya Ephorus HKBP, banyak program peningkatan kesejahteraan masyarakat desa yang dikerjasamakan dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, dimana RE Nainggolan sebagai bupati. Proyek air minum, perbaikan gedung-gedung sekolah, pengiriman pelajar ke Bali guna mempelajadi kerajinan tangan dan pembinaan petani dan peternak di pedesaan,” terang JR Hutauruk.

Khusus menyangkut kegiatan gerejani, Hutauruk mengatakan bahwa RE Nainggolan baik sebagai jemaat maupun sebagai pejabat daerah, selalu sungguh-sungguh mendukung program-program gereja.  Sekalipun dikenal sebagai jemaat yang taat, RE Nainggolan juga dikenal sebagai tokoh yang pluralis dengan ikut mendukung penuh program-program agama lain, baik sebagai tokoh masyarakat maupun sebagai pejabat daerah.

“Saya saksikan sendiri, ketika beliau Bupati Taput, saat open house maupun dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan yang diikutinya, jika di sana ada pendeta, pasti ada ustadz. Tentu ini menggambarkan keterbukaannya dan jiwa toleransinya yang begitu dalam,” ujar JR Hutauruk.

Menanggapi adanya upaya melemahkan dukungan terhadap RE Nainggolan dengan menggembar-gemborkan kalimat “Jika bisa jadi kepala, kenapa pilih ekor” atau “Kalau ada nomor satu kenapa pilih nomor dua,” JR Hutauruk mengatakan, RE Nainggolan mau jadi Gubernur atau Wakil Gubernur sama saja. Karena, dalam posisi apapun, RE Nainggolan adalah seorang pribadi sekaligus abdi negara yang selalu memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.   

“Yang mau kita pilih adalah kapasitasnya, bukan jabatannya. Tidak mungkin seorang gubernur akan sukses jika wakilnya tidak mampu, tidak berpengalaman, tangguh dan berkualitas. Lihat Jokowi dan Ahok, mereka juga saling melengkapi. Ingat juga tentang Yusuf, yang diutus Allah menyelematkan Mesir dari bahaya kelaparan,” kata JR Hutauruk.

Karena itu, lanjut JR Hutauruk, sangat tidak baik melupakan yang teruji dan terpuji seperti RE Nainggolan, hanya gara-gara ada calon yang tiba-tiba datang ke Sumut. “Jangan karena kenikmatan sesaat dalam pilkada, kita seperti Judas yang menjual Yesus,” ujar JR Hutauruk.  (BS-001)

Tags
beritaTerkait
Pemberian Bantuan Keuangan Provinsi Perlu Parameter Jelas
RE Foundation Gelar Seminar Tentang Bantuan Keuangan Provinsi
Inilah Aktivitas Kandidat Pasca Pilgub Sumut
Sekjen DPP PDS Konsisten Bersama RE Nainggolan
Ganteng Dituding Manipulasi Data Kerusakan Jalan di Sumut
Puluhan Ribu Massa Pendukung Hadiri Kampanye Amri-RE di Kisaran
komentar
beritaTerbaru
hit tracker