Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Pasien berinisial SY (62) akhirnya menghembuskan nafasnya setelah tujuh bulan melakukan transplantasi hati di RSUP H Adam Malik akhir pekan lalu.
"Meninggalnya pasien yang mendapatkan donor hati dari anaknya YF (31), disebabkan terjadinya trombosis vena hepatika dan vena porta. Trombosis itu adalah bekuan darah di dalam pembuluh darah. Karena menggumpal, maka aliran darah ke dalam dan keluar hati terganggu, sehingga fungsi hatinya juga terganggu," ujar Ketua Tim Transplantasi dr Budi Irwan, Kamis (21/04/2016).
Tim transplantasi lanjutnya, sudah berupaya melakukan berbagai opsi untuk memperbaiki kondisinya ketika itu. Di antaranya dengan melakukan dua opsi, yakni sudah melakukan stanting pembuluh darah secara endo vaskuler (tidak operasi terbuka namun dipasang alat melalui pembuluh darah), lalu melakukan pengobatan secara sistemik dengan menggunakan obat anti trombosis.
"Jadi ada dua langkah yang dilakukan, pertama perbaikan secara lokal dan kedua menyeluruh. Sayangnya, pengobatan yang dilakukan tidak membuahkan hasil, akhirnya pasien meninggal," jelasnya.
Pada dasarnya, penyebab meninggalnya karena gagal organ, lebih banyak gagal pada proses metabolisma darah. Fungsi hati dari proses pertama dan kedua langkah penanganan yang dilakukan kepada pasien relatif membaik. "Namun dampak dari pengobatan yang diberikan itu yang menyebabkan organnya jadi tidak berfungsi seperti jantung, paru-paru dan otak," terangnya.
Memang diakui, dari sejak awal melakukan tindakan terhadap pasien tersebut tim dokter sudah tahu resiko yang bakal dihadapi. "Tapi kan tidak mungkin juga dokter tidak melakukan apa-apa terhadap pasien tersebut," tuturnya.
Karena operasi transplantasi hati ini baru pertama sekali dilakukan di RSUP H Adam Malik, tim dokter yang terdiri dari berbagai dokter spesialis yang menangani pasien tersebut terus melakukan pemantauan. "Setiap hari tim dokter yang terdiri dari berbagai spesialisasi duduk bersama mendiskusikan kasus pasien itu," katanya.
Terkait meninggalnya pasien karena kegagalan tim dokter melakukan transplantasi Budi Irwan membantah. Kalau dari sudut pandang bedah, transplantasi itu berhasil dilakukan tim dokter. Karena secara teknis, tim dokter sudah berhasil memotong, mencangkok dan merawat pasien pasca operasi bahkan si pasien berobat jalan.
"Tapi program ini kan tidak hanya sekadar operasi. Perlu follow up ke depan. Bahkan, sampai tujuh bulan operasi pasien aman dari infeksi atau hal-hal yang ditakutkan tim dokter tidak terjadi," paparnya.
Hal senada juga diungkapkan dr Erjan. Pasca operasi, pasien bersama tim dokter sempat bertemu dengan Menteri Kesehatan. "Ketika itu, tim dokter, pasien dan Dirut dr Yusirwan Yusup bertemu dengan menteri melaporkan apa yang sudah dilakukan. Setelah tujuh bulan, pasien komplikasi dan akhirnya meninggal," ujarnya.
Direktur Medik dan Keperawatan dr Mardianto SpPD membenarkan bahwa pasien transplantasi tersebut meninggal Minggu pekan lalu di ruang ICCU jantung, lantai III RSUP H Adam Malik.(BS02)
Tags
beritaTerkait
komentar