Senin, 17 Agustus 2026

Komunitas Punk : Yang Negatif Itu Oknum, Bukan Budayanya

Sabtu, 28 Mei 2016 22:22 WIB
Komunitas Punk : Yang Negatif Itu Oknum, Bukan Budayanya
Beritasumut.com/Ist
Komunitas anak punk
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung

Beritasumut.com-Banyak alasan mengapa seseorang tertarik bergabung menjadi komunitas Punk. Salah satu alasannya, mereka tertarik dengan ideologi kebebasan dan perlawanan yang sudah jadi ciri khas Punk.

Menurut Alex, salah seorang dari komunitas Punk, mengatakan alasan terbesar dirinya menjadi anak Punk adalah karena ingin melawan, Sebab perlawanannya beragam. Mulai dari ketidakpuasan terhadap keadaan, status sosial, keretakan hubungan keluarga, jenuh dengan aturan, dan lainnya. “Banyak kawan-kawan gabung di sini karena broken home gitu,” ujar Alex.

Psikolog di Medan, Ummu, mengatakan alasan mengapa komunitas Punk ini lebih banyak diisi oleh para remaja adalah karena keinginan untuk diakui. Ummu berpendapat, usia remaja biasanya seorang anak minta perhatian lebih dari keluarganya untuk aktualisasi diri. Namun jika perhatian itu tidak didapat dari keluarga, mereka akan mencari perhatian tersebut di tempat lain, salah satunya melalui komunitas Punk. “Karena di komunitas Punk kebersamaan begitu erat, makanya mereka nyaman,” terangnya.

Baca Juga:

Alex yang sudah belasan tahun bergabung di komunitas Street Punk, berpendapat, bergabung di komunitas Punk itu gampang-gampang sulit. "Biasanya kalau ada orang yang mau gabung di Punk itu diajak nongkrong dan dicuekin dulu. Tujuannya mereka mau lihat dulu motif yang melatarbelakanginya buat gabung. Bagi yang betul-betul serius bakal tahan dengan kehidupan di jalanan ala street punk," jelas Alex.

Alex mengakui, selama ini banyak cerita miring di masyarakat seputar komunitas Punk. Perilaku maupun dari keseharian pakaian mereka dicap jelek dalam kebiasaan di masyarakat. “Cuma satu atau dua orang yang gitu, kebetulan aja mereka pakai dandanan ala Punk, makanya anak Punk sering dicap negatif,” ujar Alex yang beristri juga dari kalangan Punk.

Baca Juga:

Dia mengatakan, di kalangan Punk sendiri mereka juga mewanti-wanti anggotanya untuk tidak berbuat macam-macam. "Kalaupun ada akan mereka akan ditegur oleh kawannya sesama anak punk," tambahnya lagi.

Sementara itu, Ummu, psikolog yang pernah mengamati perilaku anak punk juga berkesimpulan sama. Dia pernah menguji tingkat agresivitas anak Punk di jalan dengan cara tidak memberi uang ketika anak Punk mengamen di becak yang dia tumpangi.

“Ternyata si anak punk itu tidak bereaksi negatif walalupun nggak dikasih duit,” ujar Ummu. Dari peristiwa itu, dia berkesimpulan bahwa yang berperilaku negatif adalah oknum bukan budaya Punk. (BS02)

 

Tags
beritaTerkait
Diamankan Saat Razia, 10 Anak Punk dan Waria Diserahkan ke Dinsos
Terjaring Razia, Anak Jalanan Ini Hamil 5 Bulan
TPS dan PKL Penyebab Kota Medan Gagal Meraih Adipura
Diteror Bunuh OTK, Rajudin Minta Kecurangan Dunia Pendidikan di Medan Direspon Semua Pihak
Poldasu Belum Terima Laporan Terkait Teror Kepada Anggota DPRD Medan
Gagal Rampok Tas Perempuan, Andre Nyaris Tewas Dihakimi Massa
komentar
beritaTerbaru
hit tracker