Jumat, 26 Juni 2026

Spirit Venny Mandasari Isa: Distonia dan Menulis Itu Sejalan, Keduanya Butuh Ketenangan

Rabu, 14 Oktober 2020 21:30 WIB
Spirit Venny Mandasari Isa: Distonia dan Menulis Itu Sejalan, Keduanya Butuh Ketenangan
BERITASUMUT.COM/BS02
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung

Beritasumut.com-Distonia bukanlah penyakit umum, referensi dan penelitian tentang penyakit langka ini juga lebih banyak dalam bahasa asing. Namun bagi seorang penulis asal kota Medan, Venny Mandasari Isa, distonia adalah bagian dari perjalanan hidupnya yang istimewa.

Melansir dari Halodoc.com, distonia adalah gangguan pada pergerakan otot yang menyebabkan otot berkontraksi tanpa diinginkan secara berulang-ulang. Gangguan ini bisa terjadi pada satu bagian tubuh (distonia fokal), dua atau lebih bagian tubuh yang saling berkaitan (distonia segmental), ataupun seluruh bagian tubuh (distonia general). Gerakan yang berulang-ulang ini menyebabkan pengidap distonia biasanya memiliki postur tubuh yang tidak normal dan kadang-kadang gemetaran (tremor).

Pekan ini, Beritasumut.com pada Rabu (14/10/2020) berkesempatan untuk berdiskusi dengan penulis perempuan berbakat Venny Mandasari Isa. Venny, gadis kelahiran 28 Februari 1986 ini sudah mengidap distonia general sejak balita. Usai menamatkan sekolahnya di SMA Swasta UISU Medan (2006) dengan prestasi akademik yang baik, Venny sempat patah hati karena tidak bisa lanjut berkuliah, Kampus terang-terangan menolak kondisi fisiknya. Keadaan pahit inilah yang akhirnya membuat Venny mulai mengasah kompetensi lain yang dimilikinya, menulis prosa.

Sebagai cerpenis yang karya-karyanya telah dimuat di media lokal dan nasional, cetak maupun siber, Venny ternyata punya kiat khusus. Menurutnya, modal terbesar dalam karir kepenulisannya adalah semangat untuk terus belajar. "Berdasarkan pengalaman, modal saya menjadi penulis adalah rajin sekali membaca. Meski sulit di awal, namun jika ada kemauan dan niat semua pasti bisa. Perlu dorongan dari hati untuk mencapai impian," ujarnya.

Venny mengungkapkan, karya-karya telah diterbitkan dalam antalogi cerpen bersama "A Cup Of Tea: Menggapai Mimpi" (Stiletto Book 2012), "Ironi-Ironi Kehidupan" (Disbudpar Sumut 2014), "18 Surat Terpilih, Inspirasi Kartini" (Kayumanis Foundaton 2018), "Sempadan Cinta" (Obelia Publisher 2019). Kisahnya bersama distonia juga pernah tayang di Stasiun TVRI berjudul "Jangan Sebelah Mata, Getaran Jemari Venny" (25 Februari 2015) dan DAAI TV "Bingkai Sumatera, Inspirasi" (6 Oktober 2012). "Menyusul novel saya, insya Allah ini sedang dalam proses," sambungnya sambil tersenyum.

Penggemar lagu-lagu Melly Goeslaw ini mengaku, hobinya membaca buku terpaksa dilakukan di rumah saja, sebab selama ini fasilitas perpustakaan ataupun toko buku belum ada yang memadai untuk kaum difabel. "Memang selama pandemi Covid-19 ini saya tidak pernah ke Perpustakaan atau ke Toko Buku. Terlebih sejak setahun ini saya fokus menjaga Mamak (Ibu) yang sakit stroke. Namun pengalaman di Perpustakaan atau Toko Buku, saya masih jadi tontonan. Kurang tahu apa tergantung pegawainya ya. Beberapa saya pernah menemukan yang ramah. Namun setiap orang perlu dihargai, termasuk kaum difabel," ungkap Venny.

Dia bercerita, kondisinya yang selalu gemetaran membuatnya kemana-mana harus didampingi. Satu kisah di perpustakaan yang paling diingatnya adalah ditegur oleh pegawai perpustakaan. "Yang disuruh teman saya, agar menaruh kembali buku yang saya pegang. Padahal saya selalu mengembalikan buku yang saya lihat-lihat di rak buku dengan baik. Mungkin karena keterbatasan saya ini yang membuat pegawainya berpikir akan jadi berantakan," curhat Venny.

Sebagai penulis dan pembaca aktif, dia berharap ruang literasi di Medan menjadi tempat yang ramah pada kaum difabel. "Saya berharap, suatu hari nanti alangkah baiknya disediakan kursi untuk kaum difabel. Sering kan, kita terpaksa berjongkok di Toko Buku untuk memilih-milih buku yang ingin dibeli. Eh malah ditegur pegawai nggak boleh jongkok, padahal badan saya nggak tahan kalau berdiri lama," bebernya.

Saat ditanya soal siapa inspirasinya, Venny dengan tegas menjawab Mamak, Mamak, Mamak, lalu Almarhum Papa. "Bagi saya membanggakan Orangtua adalah tujuan hidup. Kenapa Mamak sampai tiga kali? Saya terinspirasi dari sabda Rasulullah. Dari kecil sampai sekarang saya selalu bersama Mamak. Mamak selalu menguatkan saya, Mamak yang tidak membiarkan siapa pun meremehkan saya, saya cinta Mamak banyak-banyak," sebut putri daerah Sumatera Utara yang belum pernah sekalipun melihat Danau Toba ini. "Hehehe ada-ada saja, saya memang anak rumahan, kalau cita-cita pengen sekali melihat langsung Danau Toba atau Berastagi. Katanya di sana indah, tapi saya lihat dari internet saja. Tidak mau merepotkan orang," imbuhnya.

Kepada penderita distonia lainnya, Venny berpesan agar mengisi rohani dengan mengingat Allah dan membaca buku-buku agama. Kestabilkan emosi sangat berpengaruh pada gerak tubuh dan fokus pikiran. "Sebab distonia dan menulis itu sejalan, keduanya butuh ketenangan. Pikiran yang tidak tenang akan membuat getaran kita semakin kuat. Jangan kalah dengan keterbatasan. Tunjukkan kita benar-benar istimewa. Dengan keterbatasan kita bisa melakukan apa yang kita bisa," pesannya. (BS02)

Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru
hit tracker