Selasa, 30 Juni 2026

Pecahkan Rekor, Inilah Doktor Termuda Indonesia Berusia 24 Tahun

Sabtu, 23 September 2017 12:15 WIB
Pecahkan Rekor, Inilah Doktor Termuda Indonesia Berusia 24 Tahun
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Grandprix Thomryes Marth Kadja, mahasiswa S3 Kimia ITB menjadi calon doktor muda, gelar yang diraihnya pada sidang tertutup 6 September lalu pada usia 24 tahun, dan resmi disematkan pada rangkaian sidang kedua yakni sidang terbuka pada Jumat (22/09/2017) kemarin. 
 
Capaian Grandprix ukir sejarah baru dalam dunia pendidikan Indonesia lantaran prestasinya ini tercatat memecahkan rekor MURI sebagai pemegang gelar doktor termuda di Indonesia. Pria kelahiran Kupang ini merupakan lulusan S1 Kimia Universitas Indonesia dan melanjutkan S2 pada program studi yang sama di ITB. 
 
Dilansir dari laman resmi ristekdikti.go.id, Sabtu (23/09/2017), sebelum ke bangku kuliah, Grandprix bercerita bahwa ia masuk SD pada umur 5 tahun dan lanjut ke kelas akselerasi di SMA sehingga usianya pada waktu masuk kuliah S1 adalah 16 tahun. Lulus S1 di umur 19 tahun, ia melanjutkan S2-nya dengan beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Kemenristekdikti.
 
Selama studi S3 di ITB, waktu yang ada digunakan untuk melakukan penelitian secara penuh. Untuk disertasinya sendiri Grandprix menjelaskan bahwa ia mengangkat topik tentang zeolite sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5. Dibimbing oleh Dr. Rino Mukti, Dr. Veinardi Suendo, Prof. Ismunandar, dan Dr. I Nyoman Marsih sebagai promotornya, Grandprix menjelaskan bahwa secara garis besar penelitiannya tersebut berfokus pada material yang banyak dipakai di industri seperti petrokimia dan pengolahan biomassa.
 
Capaian luar biasa Grandprix ini tak lepas dari kerja keras dan keinginan yang kuat dalam meraih mimpi. Diakui oleh pria yang telah menerbitkan 9 publikasi ilmiah berskala nasional dan internasional ini bahwa jalannya selama masa penelitian-penelitian tidak selalu mulus. Proses yang sulit dan memakan waktu menjadi kendala. “Atau jika ada instrumen analisis yang tidak tersedia atau hasil penelitian yang tidak sesuai ekspektasi,” ujarnya.
 
Kendati demikian, kecintaannya pada bidang yang ditekuninya ini membuatnya tetap menjalani segala sesuatu, baik suka maupun duka, dengan senang hati. Kepuasan tersendiri, aku Grandprix, terutama ketika hipotesisnya berhasil dibuktikan.
 
Lebih lanjut terkait prestasinya, Grandprix berharap akademisi Indonesia dapat ikut terdorong untuk memajukan dunia penelitian yang dimotori oleh orang-orang muda Indonesia. “Jangan minder karena masih muda. Justru (yang muda) yang harus menjadi contoh bagi orang lain,” jelasnya. 
 
Selain itu, dia juga ingin agar program-program beasiswa seperti PMDSU dapat diteruskan eksistensinya dan diperbesar skalanya untuk menjaring peneliti dan doktor Indonesia dengan kemampuan dan daya saing kualitas internasional.(BS02)
 

Tags
beritaTerkait
Ratusan Petugas Dikerahkan, PLN Sumut Perkuat Siaga Kelistrikan Akibat Cuaca Ekstrem
Guru Madrasah Asal Sumut Raih Rekor MURI Penulisan Buku Antologi Puisi Etnik Nusantara
Hari Pahlawan, PLN Dorong Guru SMK Jadi Pelopor Konversi Motor Listrik di Kota Medan
WALUBI Medan Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan Lewat Diskusi “Merawat Kerukunan” di UINSU
Walikota dan LD FEB UI Bahas RPJMD Kota Pematangsiantar 2025-2029
Buka Sosialisasi, Walikota Dukung Hadirnya Aplikasi BKMQU yang Digagas MUI Kota Medan
komentar
beritaTerbaru
hit tracker