Sabtu, 25 April 2026

Premium Langka di SPBU, LAPK Tagih Tanggungjawab Pertamina

Rabu, 11 Januari 2017 21:30 WIB
Premium Langka di SPBU, LAPK Tagih Tanggungjawab Pertamina
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Premium Habis
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Terjadinya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium di semua SPBU di Kota Medan dan Binjai menyebabkan pengendara yang ingin mengisi Premium terpaksa beralih ke Pertalite dan Pertamax, Rabu (11/01/2017). Kelangkaan premium ini disinyalir sebab tidak didistribusinya dari depot BBM di Belawan dan depot lain di Sumatera Utara (Sumut). Tak hanya di SPBU kecil, bahkan di SPBU COCO milik Pertamina yang notabenenya SPBU yang dipastikan stoknya tetap tersedia, ternyata juga mengalami kelangkaan.
 
Terkait kelangkaan Premium, pihak SPBU COCO Putri Hijau mengatakan alasan premium langka sebab tidak didistribusikan lagi premium ke SPBU dan akan dihapuskan. Informasi premium langka dan akan dihapuskan tentu mengagetkan masyarakat karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan secara langsung baik dari Pemerintah maupun Pertamina.
 
"Idealnya Pertamina harus menjelaskan kepada masyarakat, mengapa terjadi kelangkaan premium di Medan-Binjai? Jangan sampai masyarakat menduga-duga sehingga muncul informasi yang simpang siur. Pertamina jangan membuat kegaduhan dengan tidak memberikan informasi yang jelas mengenai kelangkaan premium. Sesungguhnya penyebab premium langka harus disampaikan secara jelas, apakah karena BBM non-subsidi naik kemudian pengendara beralih ke premium sehingga jadi langka atau ada kebijakan lain yang memaksa pengendara harus beralih ke BBM non-subsidi," kata Sekretaris Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK), Padian Adi Siregar kepada wartawan, Rabu (11/01/2017).
 
Jika pun benar pemerintah akan menghapus premium dan mengalihkan pemakaian premium ke pertalite atau pertamax, sambungnya, maka pemerintah melalui Pertamina tidak boleh mengeluarkan kebijakan penghapusan premium, tanpa dilakukan sosialisasi terlebih dahulu.
 
"Masyarakat tidak boleh dikorbankan dengan kebijakan penghapusan BBM subsidi dan memaksa masyarakat ke BBM non-subsidi," tegas Padian.
 
Dia menilai, persoalan kelangkaan premium yang terjadi di SPBU, Pertamina tidak boleh lempar tanggungjawab dan mencari kambing hitam. Karena Pertamina memiliki kecenderungan selalu mengalihkan tanggungjawab kepada pemerintah, apabila timbul permasalahan yang berkaitan dengan kebijakan yang tidak populer.
 
"Mulai pencabutan subsidi BBM, kenaikan harga, mengurangi pompa premium hingga lahirnya produk pertalite, Pertamina selalu menyatakan kebijakan itu adalah keinginan pemerintah dan Pertamina hanya menjalankan saja sebagai operator. Pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap kelangkaan premium terjadi, karena Pertamina bersikap tidak profesional dalam melakukan distribusi premium ke SPBU," sebutnya. 
 
Jika kelangkaan premium pun terjadi di SPBU COCO yang dikenal sebagai ‘role model’ manajemen pelayanan SPBU, jelasnya, dapat dipastikan kelangkaan premium sudah pasti terjadi di seluruh SPBU lain. Akhirnya, masyarakat juga yang akan dikorbankan dan dirugikan dengan kondisi premium langka. Idealnya, kelangkaan BBM subsidi tidak boleh terjadi diakibatkan naiknya harga BBM non-subsisi.
 
"Pemerintah bersama Pertamina harus hadir menjamin ketersediaan premium walaupun kurs dan harga minyak dunia naik. Jangan gara-gara premium adalah BBM subsidi yang membebani kas Negara dan tidak memberikan kontribusi keuntungan bagi Pertamina, lantas premium dibiarkan langka," pungkasnya. (BS04)

Tags
beritaTerkait
Jaga Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Pertamina Sumbagut Borong 12 PROPER Hijau
Pertamina Sumbagut Dorong Kemandirian Ekonomi Warga, Hadirkan Foodcourt UMKM di Aceh Besar
Pertamina Sumbagut Gandeng BKKBN Dukung Pembangunan Keluarga dan Kesejahteraan Pekerja
Pertamina Sumbagut Pastikan Stok BBM Aman, Penyaluran di Medan Berjalan Normal
Tidak Ada Perubahan Harga BBM di SPBU Pertamina pada 1 April 2026
Pertamina Sumbagut Perkuat Keandalan Distribusi Energi, Dorong Penggunaan Lebih Bijak
komentar
beritaTerbaru
hit tracker