Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Kecemasan para petani yang beternak ikan Keramba Jaring Apung (KJA) di Desa Silalahi dan Paropo, semakin memuncak. Hingga saat ini, mereka menantikan hasil penelitian dari pihak pemerintah. Informasi sementara tentang penyebab kematian ratusan ton ikan nila dan ikan mas yang terjadi beberapa waktu lalu di daerah itu, masih belum menjawab keingintahuan mereka.
Salah seorang petani dari desa Silalahi I, Rudy Sidebang (43) mengungkapkan, petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kabid Perikanan Dinas Pertanian, Lamhot Silalahi sudah mengambil sampel. "Hasilnya, masih mengambang. Ketika petugas butuh data, petani bolak-balik ditelepon. Sesudah disajikan, diteleponpun tak diangkat," ungkap Rudy kepada wartawan, pertengahan pekan ini.
Ketidakpastian itu membuat warga enggan menabur benih. Sebagian besar kotak keramba terlihat masih kosong. Hal ini juga dibenarkan oleh Ketua Komisi B DPRD Dairi, Rukyatno Naingggolan, dalam kunjungannya ke Desa Silalahi, pertengahan pekan lalu.
Baca Juga:
"Para petani KJA di sana, hingga saat ini musibah kejadian luar biasa (KLB) hingga kini belum terjawab," ujar Rukyatno kepada warga.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut), Jhonny Waldi, saat dikonfirmasi wartawan pada Kamis (16/06/2016) mengatakan kalau petani Silalahi sebenarnya tak perlu khawatir menebar ikan di KJA, asalkan tidak berlebihan.
Baca Juga:
"Saat ini kalau sesuai dengan aturan dan anjuran, saya pikir tidak ada masalah petani menebar benih ikan sekarang. Yang penting ikuti aturan seperti menebar 5000 ekor bibit untuk KJA ukuran 5x5 meter, pemberian pakan tidak berlebihan, panen ikan jangan ditunda-tunda," pungkasnya. (BS03)
Tags
beritaTerkait
komentar