Minggu, 23 Agustus 2026

Digusur PT KAI, Masyarakat Pinggir Rel Rela Berdarah Minta Direlokasi

Jumat, 01 April 2016 23:09 WIB
Digusur PT KAI, Masyarakat Pinggir Rel Rela Berdarah Minta Direlokasi
Afdal
Salah seorang warga melakukan protes terhadap PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) terkait penggusuran tempat tinggal. 
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Medan, Beritasumut.com - Pembangunan jalur double track rel kereta api oleh pihak PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) kembali mendapat perlawanan dari masyarakat yang tinggal di pinggiran rel.Warga di Jalan Gaharu Kecamatan Medan Timur misalnya, mereka menolak digusur dengan melakukan perlawanan saat buldozer hendak meratakan pemukiman mereka, Jumat (1/4/2016)

Penolakan ratusan masyarakat yang bernaung dalam Forum Komunitas Masyarakat Pinggir Rel (FK-MPR) hampir berujung bentrok. Kapolsek Medan Timur Kompol Bernard L Malau yang tiba dilokasi juga turut membantu untuk meredam ketegangan. Malau meminta warga untuk menahan diri agar tidak terjadi tindakan yang tak diinginkan."Tugas kami di sini adalah pelayanan dan pengamanan, Kalau bisa dimohon dengan sangat ini bisa bergeser," ujarnya.

Ketua FK-MPR, Joni M Naibaho menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan saat ini hanya menuntut agar mereka di relokasi karena memikirkan nasib anak mereka yang masih bersekolah."Tolong kami rakyat miskin ini diperhatikan, kita sama sekali bukan mau menghalangi pembangunan, Kami hanya ingin relokasi saja. Berikan tempat kepada anak kami yang masih sekolah. Kalau kami yang sudah tua ini, tidur di bawah kolong jembatan pun jadi," teriaknya di tengah-tengah aksi masa.

Beberapa warga juga mengaku siap mempertaruhkan nyawa mereka untuk mempertahankan rumah mereka sebelum ada solusi konkrit dari pemerintah. Menurut mereka, uang satu setengah juta yang diberikan oleh PT KAI sebagai uang tali asih bukanlah solusi.

"Uang satu setengah juta mana bisa untuk tempat tinggal, ambil saja lah itu sama PT KAI. Terlalu sulitkah untuk mendengar tuntutan kami, kami siap berdarah jika memang itu yang diinginkan," teriak ibu-ibu.

Warga akhirnya mau diajak bernegosiasi. Dalam negosiasi, warga meminta buldozer yang ada di lokasi agar mau bergeser. Denga begitu mereka akan turut bergeser."Kami mau bergeser kalau traktor itu berhenti, kami minta penggusuran ditunda sementara waktu sampai ada solusi," katanya.

Setelah bernegosiasi Petugas dari PT KAI Sarman yang ada di lokasi, memastikan kegiatan perataan lahan double track akhirnya dihentikan. "Untuk kegiatan hari ini kita berhentikan dulu," ujar Sarman.(BS04)

Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru
hit tracker