Minggu, 23 Agustus 2026

Di Myanmar Biksu Picu Kekerasan, di Indonesia Biksu Bantu Muslim Rohingya

Senin, 08 Juni 2015 18:14 WIB
Di Myanmar Biksu Picu Kekerasan, di Indonesia Biksu Bantu Muslim Rohingya
Istimewa
Dua orang biksu berbincang dengan pengungsi Muslim Rohingya.
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com - Ada pemandangan tidak biasa di pengungsian warga Rohingya dan Bangladesh di Hotel Pelangi International, Medan, Senin (8/6/2015). 

Sejumlah biksu yang tergabung dalam Perwakilan Umat Buda Indonesia (Walubi) Sumatera Utara (Sumut) memberikan bantuan kepada pengungsi.

Para biksu dan biksuni itu berinteraksi langsung dengan pengungsi Rohingya. Tidak terlihat kebencian dalam pertemuan ini.

Kunjungan biksu dan biksuni ini memberi arti tersendiri, karena pengungsi muslim Rohingya terpaksa pergi dari Myanmar menyusul kekerasan dipicu kebencian etnis dan agama yang disebarkan biksu antimuslim, Ashin Wirathu.

Para biksu dan biksuni ini datang bersama sejumlah Pengurus Walubi Sumut dan Kepala Staf Kodam I Bukit Barisan Brigjen Cucu Sumantri. Saat bertemu pengungsi Rohingya, para biksu dan biksuni memberikan bantuan berupa 2 goni sarung dan sejumlah makanan.

"Pesan yang ingin kita sampaikan, bahwasanya di sini kan teman-teman dari Walubi yang notabene beda agama juga membantu. Yang  di sana ada bermasalah, yang di kita tidak bermasalah, malah ini mereka membantu," kata Cucu.

Pemberian bantuan dari Walubi itu juga dinilai sebagai pesan kepada Myanmar. "Bahwa jangan agama dijadikan permasalahan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ucap Cucu.

Dia menambahkan, penanganan pengungsi Rohingya sudah dirapatkan di Kantor Gubernur Sumut dipimpin Menko Polhukam Tedjo Edy Purdijatno. 

Kata Cucu, mereka sudah mengundang UNHCR untuk berkoordinasi soal penyaluran pengungsi ke negara-negara yang ingin dituju. 

"Jadi intinya nanti bagaimana PBB, dalam hal ini UNHCR. Kita memfasilitasi dan siap membantu pengungsi ini," jelas Cucu.

Sebelumnya, Menko Polhukam Tedjo Edy Purdijatno mengatakan, berbeda dengan pengungsi Rohingya, pencari kerja asal Bangladesh akan dikembalikan ke negaranya. 

"Kalau untuk pengungsi Rohingya, aparat tidak mengundang mereka masuk ke dalam, tapi kalau sudah masuk harus ditangani dengan baik bersama IOM dan UNHCR untuk menyelesaikan masalah ini selama satu tahun," kata Tedjo.

Pemerintah menuntut lembaga PBB itu untuk menangani seluruh pengungsi yang ada di Indonesia. Sebab, saat ini jumlahnya sudah 11.000 orang. "Ini beban mereka," jelas Tedjo.

Persoalan pengungsi ini menjadi perhatian karena hal itu bisa memunculkan masalah sosial baru. 

"Jika mereka menganggur dan dibiayai negara, akan memunculkan kecemburuan masyarakat di sekitar," ujar Tedjo. (BS-001)

Tags
beritaTerkait
Pemprov Sumut Pulangkan 141 Korban TPPO dari Myanmar
Piala AFF 2024, Indonesia Menang 1-0 Atas Myanmar
TNI AU Berhasil Emban Misi Kemanusiaan dengan Membawa 14 WNI dari Myanmar
Kantor Atase Pertahanan Indonesia di Myanmar Evakuasi 14 WNI Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang
Serukan Penghentian Kekerasan di Myanmar, Presiden: Mari Cari Solusi Bersama
Presiden: Pemerintah Segera Upayakan Evakuasi 20 WNI Korban TPPO dari Myanmar
komentar
beritaTerbaru
hit tracker