Rabu, 29 April 2026
Wacana Kenaikan BBM

Nasib Sopir Angkot di Ujung Tanduk

Rabu, 12 November 2014 20:27 WIB
Nasib Sopir Angkot di Ujung Tanduk
Ilustrasi. (Google)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Medan, (beritasumut.com) – Nasib para sopir angkutan umum di Kota Medan merasa bak di ujung tanduk. Hal ini menyusul rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan dilakukan Pemerintahan Jokowi-JK dalam waktu dekat.

Pemerintah memang belum menetapkan besaran kenaikan harga BBM premium dari yang berlaku sekarang Rp6.500 per liter, untuk mengurangi beban subsidi.

"Pemerintah belum menetapkan, tapi kami sudah  gelisah dengan rencana kenaikan BBM, karena dengan harga BBM yang sekarang saja kami sudah repot,” ujar sopir angkot Koperasi 07 Line Tembung-Amplas, Julius Simanjuntak (40) di Medan, Rabu (12/11/2014).

Dikatakannya, kondisi sekarang semakin susah untuk mencari penumpang, karena banyaknya masyarakat yang telah memiliki sepeda motor.

"Bandingkan saja, harga BBM sekarang Rp6.500 sedangkan tarif angkot sekarang Rp4.500 sekali pergi, makanya orang lebih memilih naik sepeda motor. Jika harga BBM dinaikkan lagi, tak ada lagi penumpang kami," jelasnya.

Ia juga mengaku, sekarang ini semakin berat mencari uang setoran setiap harinya. “Entah bagaimana nanti nasib kami setelah harga BBM naik, karena mau tidak mau tarif angkot juga naik," katanya.

Hal senada dikatakan sopir angkot Hikma 26 line Medan Mall-Amplas, Hendrik(30). Ia mengaku,  kondisi masyarakat selama ini jauh dari sejahtera, bukannya sedikit tertolong dengan kinerja pemerintah, malah semakin merasa terjepit dengan keputusan dinaikkannya harga BBM.

"Kami dengan ekonomi yang serba pas-pasan selama ini sudah sangat terbebani dengan harga bahan bakar minyak yang mencapai Rp6.500 per liternya, sangat disayangkan bukannya ada penurunan harga yang terjadi justru kenaikan harga BBM lagi yang akan dilakukan pemerintah yang jauh dari kemampuan kami," katanya.

Kabar akan dinaikkannya harga BBM membuat dirinya merasa sangat cemas. Bagaimana tidak, untuk mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari saja mereka sudah kebingungan apalagi ditambah dengan naiknya harga bahan bakar minyak.

"Kami dan rakyat di negeri ini sepertinya memang tidak akan pernah lagi bisa bernafas lega. Pemerintah seolah menjadi pahlawan penyelamat anggaran agar tidak defisit. Tetapi mereka tidak melihat, hal ini justru akan membuat beban hidup kami semakin berat," katanya.

Sementara, Dini (17) pelajar kelas II SMA di Medan meminta Jokowi-JK tidak menaikkan harga BBM karena akan berdampak besar bagi masyarakat termasuk pelajar.

"Bayangkan saja bang,  uang jajan dikasih orang tua hanya Rp15.000, jika BBM jadi naik maka ongkos yang kami keluarkan bertambah besar. Sedangka uang yang dikasih orang tua sudah semua disitu. Aku sekolah sampai siang dan langsung ditambah pergi les lagi," katanya. (BS-031)

Tags
beritaTerkait
Perjuangkan Nasib PPPK, Plt Bupati Langkat Temui Dirjen GTK Kemendikbudristek RI di Jakarta
Plt Bupati Langkat Ingin Guru Ngaji Menerima Imbalan Semestinya
Kecam Penembakan Iwan Nasib, Kontras Sumut Kritik Implementasi Prinsip dan Standar HAM Kepolisian
Dugaan Penipuan, Nasib Mantan Calon Walikota Siantar Ditentukan Pekan Depan
Usai Beli Sabu di Kampung Kubur, Sopir Angkot Ditangkap Polisi
Nasib Hasyim Tak Sebagus Perolehan Suaranya
komentar
beritaTerbaru
hit tracker