Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Medan, (beritasumut.com) – Seribuan massa gabungan organisasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Forum Rakyat Bersatu (FRB), Forum Ummat Islam (FUI), serta organisasi petani, menyerbu Kantor Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) di Gedung Uniland Plaza, Jalan MT Haryono, Medan, Senin (17/6/2013).
Kedatangan massa yang hadir secara bertahap dimulai pukul 11.00 WIB, membuat jalanan terpaksa ditutup. Kepolisian pun akhirnya mengalihkan pengendara untuk masuk ke Jalan Palangkaraya.
Massa dalam aksinya menuding, intervensi Pemerintah AS terhadap Pemerintahan SBY-Boediono sangat kuat. Naiknya harga BBM tak terlepas dari pengaruh asing (AS).
Setelah melakukan aksi selama lebih kurang satu jam lebih, massa tampak melaksanakan Shalat Zuhur. "Saudara-saudara ku. Kini sudah masuk waktu Shalat Zuhur. Mari kita istirahat sejenak untuk shalat," teriak Komando Aksi Indra Suhaeri sembari menyerukan agar massa dari umat muslim, untuk bertayamum (mengambil wudhu melalui media debu).
Satu persatu massa yang dikomandoi Indra pun terlihat bertayamun dengan menempelkan kedua tangan mereka di dinding sebuah restoran yang terletak tepat di depan Gedung Uniland Plaza. Usai shalat, ribuan massa yang sudah berkumpul, langsung melakukan orasi kembali.
Tercatat, hari itu terjadi kali kedua aksi bakar ban oleh massa. Kekuatan massa yang lebih banyak ketimbang petugas kepolisian yang berjaga di dalam gedung, membuat massa mulai melakukan aksi lebih anarkis, berupa mendobrak gerbang Gedung Uniland Plaza.
Sempat terjadi delapan kali aksi dobrak pagar yang dilakukan massa. Pengunci pagar sebelah kanan (terlihat dari luar gedung) sempat rusak dan terbuka. Melihat kejadian tersebut, kepolisian yang dibantu sekuriti gedung, berusaha menahan pagar yang terus-terusan didorong oleh massa.
"Kita berjuang sampai mati di sini kawan-kawan. BBM tidak boleh naik. SBY harus turun. Turun wahai SBY. Masyarakat menderita. Saya baru mendapatkan kabar, Konjen AS tidak berada di gedung ini karena tengah menghadiri prosesi pelantikan Gatot sebagai gubernur. Kita sudah katakan akan melakukan aksi hari ini di sini, kenapa dia (Konjen) malah tidak ada," teriak perwakilan massa dari atas mobil pick up dengan menggunakan mikrofon.
Di sela-sela aksinya, massa yang diwakili Indra Suheri pun sempat meminta kepolisian berkoordinasi yang baik dengan pihaknya, dengan melepaskan rekan-rekan mereka yang ditilang di kawasan Polonia, saat mengendarai sepeda motor menuju lokasi demonstrasi.
"Kawan-kawan kami sedang ditilang di Polonia yang ingin bergabung dengan kami di sini. Mohon koordinasinya. Kita dapat informasi kawan-kawan seperjuangan di Polonia diangkat dan ditilang. Jangan sampai memicu. Kami minta kepada Kapolresta yang baru kita menjaga koordinasi dan kemitraan kenapa teman-teman kami ditahan," ujar Indra.
Pimpinan massa lainnya, juga sempat meminta waktu lima menit kepada kepolisian agar segera melepaskan teman-teman mereka yang ditahan di Polonia. "Atau kami yang ke Polonia sekarang. Kami siap melumpuhkan Kota Medan hari ini. Sepakat kawan-kawan," teriaknya.
Sementara Ketua Umum Forum Rakyat Bersatu Rabualam Syahputra dalam orasinya menyatakan harga bahan pangan (sembako) sekarang saja sudah mahal, tak mampu terbeli apalagi BBM dinaikkan menjadi Rp6.500 per liter, maka warga miskin akan semakin susah. Selain itu ongkos transportasi semakin mahal otomatis kejahatan akan meningkat.
Puas meluapkan aksi di Uniland Plaza dengan membakar ban dan mendobrak pagar (tidak sampai roboh), massa balik kanan dan menuju Bandara Polonia. Namun sayang, massa yang hadir dengan menggunakan sepeda motor, mobil truk, pick up dan berjalan kaki, dihentikan langkahnya oleh ratusan petugas Polresta Medan bersenjata lengkap.
Jumlah massa yang hadir menuju Bandara Polonia pun tampak menjadi lebih sedikit ketimbang saat melakukan aksi di Uniland Plaza. Meski demikian, massa yang tergabung dalam Kongres Rakyat Sumatera Utara terus berupaya melakukan orasi meminta pihak kepolisian membuka akses bagi massa untuk maju ke arah Bandara Polonia.
Langkah massa terhenti tepat dipersimpangan lampu merah Jalan Juanda-Imam Bonjol Medan. Petugas Samapta dibantu Brimob, membentuk pagar betis hingga tiga lapis. Dua pagar betis dibuat oleh personel Polresta Medan dan paling belakang satu pagar betis dilakukan oleh personel Brimob.
Massa yang terus melakukan orasinya, perlahan-lahan merangsek masuk sekitar 500 meter dari simpang lampu merah Jalan Juanda (tepatnya di depan Masjid Dirgantara Pangkalan TNI AU Soewondo, arah Bandara Polonia Medan). Untuk mengantisipasi massa, Kapolresta Medan AKBP Nico Afinta tampak mengatur anak buahnya.
Di sini, massa gabungan pun sempat melakukan aksi bakar ban. Ditutupnya Jalan Imam Bonjol arah ke Bandara Polonia, sempat terlihat beberapa penumpang dari lampu merah Jalan Juanda berjalan kaki sembari menenteng barang bawaannya menuju Polonia. Seperti diketahui, akses menuju Polonia ada tiga. Pertama Jalan Imam Bonjol, kedua masuk dari kawasan Avros dan ketiga masuk dari Jalan Mongonsidi. Dan hari itu, masa berhasil menutut akses utama ke Polonia yakni Jalan Imam Bonjol.
"Kalau BBM naik kami akan menduduki Bandara Polonia. Siap turunkan SBY. Ganti rezim SBY. Alasan pemerintah bahwa anggaran BBM bersubsidi terus membengkak sehingga membebani APBN cenderung menyesatkan dan membodohi rakyat. Karena yang membebani APBN adalah utang luar negeri maupun bunganya, fasilitas para pejabat dan anggota DPR, termasuk kendaraan dinas," ujar Pimpinan Aksi Kongres Rakyat Sumut Rahmatsyah Putra.
Rahmat mengatakan, kalau Pemerintah SBY-Boediono tidak mampu mengendalikan dan mempertahankan harga BBM, maka lebih baik mundur. Menurutnya itu lebih baik dan bijak, daripada akhirnya akan dipaksa mundur oleh rakyat Indonesia yang kian terjepit dan tertindas dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang hanya menyiksa rakyat.
(BS-024)
Tags
beritaTerkait
komentar