Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-"Berdasarkan permintaan untuk memenuhi tenaga dokter spesialis sesuai dengan kebutuhan, bukan hanya dokter anak dan dokter bedah, tetapi kami juga sangat membutuhkan dokter paru, dokter radiologi dan dokter forensik jika memungkinkan kami diberi".
Hal tersebut diungkapkan Direktur Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Rantauprapat dr Syafril RM Harahap SpB di hadapan tim dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera saat membuka kegiatan visitasi program Wajib Kerja dokter spesialis (WKDS) di Ruang Pertemuan RSUD Rantauprapat, pertengahan pekan kemarin.
“Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat bukan hanya membutuhkan dokter anak dan dokter bedah saja tapi kami juga sangat membutuhkan dokter spesialis paru, spesialis radiologi dan dokter spesialis forensik untuk melayani kebutuhan warga masyarakat Kabupaten Labuhanbatu dan sekitarnya," kata dr Syafril dilansir dari laman labuhanbatukab.go.id, Minggu (01/07/2018).
dr Syafril sangat berharap dengan adanya program/kegiatan WKDS ini dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Rantauprapat.Kegiatan ini juga dirangkai dengan kunjungan ke ruangan-ruangan untuk melihat langsung sudah sejauh mana kesiapan RSUD Rantauprapat dalam memberikan pelayanan kesehatan yang disesuaikan dengan jumlah tenaga dokter spesialis yang ada dan fasilitas yang tersedia.
Selain kegiatan di atas, juga dilaksanakan pengumpulan data studi evaluasi deteksi tes cepat molekuler (TCM) di Indonesia yang kali ini bertempat di RSUD Rantauprapat.
Menurut dr Syafril kegiatan ini bertujuan untuk melihat langsung sejauh mana perkembangan kasus penyakit TB MDR yang disesuaikan dengan pemakaian alat pemeriksaan BTA yang sudah dimulai sejak tahun 2016 lalu.
Hadir dalam kegiatan ini, Tim dari Kemenkes RI dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara yang datang berkunjung dan menghadiri kegiatan WKDS tersebut terdiri dari Prof DR dr Delfi Lutan Sp OG, kemudian DR dr Umar Zein Sp Pd, dr Sudung Pasaribu, dr Charles SpA (IDAI) dan dr Juliani MKes.(BS09)
Tags
beritaTerkait
komentar