Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Dr drg Ameta Primasari Tarigan MDSc MKes mengungkapkan 30 persen masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di negara-negara lainnya di dunia, mengalami probelam bau mulut (halitosis). Hal tersebut dikatakan dr Ameta kepada wartawan saat pembukaan Klinik Halitosis di Rumah Sakit Siti Hajar, Medan, Sabtu (12/08/2017).
Ameta mengatakan, dari penelitian yang ia dapat, banyak hal yang menyebabkan halitosis ini bisa sampai terjadi. Di antaranya, akibat proses metabolisme yang terjadi di dalam perut, tidak menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta bisa juga dikarenakan oleh kondisi psikologis seseorang.
"Untuk menentukan penyebab pasti bau mulut seseorang, ada alat canggih dari Jepang yang bernama breahtron. Tujuannya agar dapat diberikan pengobatan yang sesuai dan gigi serta mulut menjadi bersih dan indah," katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Sumut), Agustama menyebutkan, persentase 20% hingga 30% penyakit bau mulut yang dialami menurutnya sudah cukup meresahkan. Sayangnya, dalam mengatasi persoalan bau mulut tersebut, selama ini masyarakat hanya mengobatinya dan mencegahnya dengan menggunakan obat kumur.
"Dinas Kesehatan Sumut menyambut positif klinik halitosis. Harapannya, keluhan bau mulut masyarakat bisa teratasi dengan baik. Dinas hanya memberi dukungan moril saja. Namun layanan ini tidak ditanggung BPJS Kesehatan," tegasnya.
Sementara itu, Dr drg Suci Erawati MKes menambahkan, di klinik halitosis pertama diluar Pulau Jawa tersebut, masyarakat akan dilayani untuk keluhan bau mulutnya. Para dokter gigi, perawat dan staf yang bertugas akan menangani secara komperhensif dalam melakukan penanganan."Pengobatan kita lakukan sesuai yang diinginkan pasien, setelah diketahui apa penyebab terjadinya bau mulut itu," pungkasnya.(BS07)
Tags
beritaTerkait
komentar