Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Sahabat RE Nainggolan adalah sebuah komunitas lintas etnis, agama, golongan dan partai yang didirikan oleh tokoh-tokoh yang peduli kepada Sumatera Utara, seperti Lundu Panjaitan SH, Nelson Parapat SH, JA Ferdinands, Drs S Is Sihotang MM, Dr Polin R Pospos, Prof Dr Sukaria Sinulingga, Dr Edward Simanjuntak, dr H Marzuki Nainggolan, Ustadz H Hisyam Dalimunthe, Rapotan Tambunan, Sihar Cibro, Dr Januari Siregar, Victor Siahaan, SH, Jannerson Girsang, Tony Silvaraj, Ir Ronald Naibaho, Ny Sahat Panggabean Boru Pardede, drg Annita, dan tokoh lainnya.
Komunitas ini melihat dan mengenal dengan sangat baik sosok Dr Rustam Effendy Nainggolan MM; figur dengan pengalaman birokrasi yang luar biasa, dengan rekam jejak karier yang lengkap dari level bawah, staf kantor camat di Tapanuli Utara, sampai ke posisi tertinggi, menjadi Sekdaprov Sumut.
Dia juga punya latar belakang pendidikan sangat baik, seorang doktor lulusan Universitas Sumatera Utara, bahkan menjadi dosen program pascasarjana di Universitas HKBP Nommensen dan Universitas Dharma Agung.
Tetapi lebih penting dari semua itu, komunitas ini sudah melihat banyak bukti betapa RE Nainggolan, memiliki rasa cinta dan kepedulian kepada daerah ini.
Yang tidak kalah mengesankan, RE Nainggolan bukanlah sosok yang gila jabatan. Semua tahu bagaimana dia menolak maju untuk periode kedua Bupati Tapanuli Utara, juga menolak perpanjangan masa tugas saat menjadi Sekdaprov Sumut.
Atas dasar itu, komunitas inilah, bersama dengan komponen masyarakat lintas etnis dan agama lainnya, yang sejak awal mendorong agar RE Nainggolan ikut mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatera Utara, dalam Pilkada Tahun 2013.
RE Nainggolan yang awalnya sudah berencana menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak cucu setelah pensiun, akhirnya bisa diyakinkan bahwa tenaga dan pikirannya masih sangat dibutuhkan.
RE Nainggolan yang bukan seorang politisi, membutuhkan dukungan partai politik untuk bisa mencalonkan diri. Dari berbagai pertimbangan, RE Nainggolan bersama para sahabat melihat PDI Perjuangan adalah partai yang paling tepat untuk dimintai dukungan. Di sisi lain, PDI Perjuangan juga memberikan sinyal yang sangat positif untuk bekerja sama. Sebelumnya, Partai Damai Sejahtera (PDS) yang memiliki 5 kursi di DPRD Sumut juga sudah memutuskan secara resmi untuk mendukungnya, sehingga RE Nainggolan adalah calon pertama yang secara resmi mengantongi dukungan partai, meskipun belum cukup untuk mencalonkan diri.
RE Nainggolan berupaya sungguh-sungguh untuk mengikuti semua prosedur yang ditentukan oleh PDIP, mulai dari tingkat DPD di Sumut, sampai DPP di Jakarta. Serangkaian uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) diikuti dengan kesungguhan, termasuk dengan menahan diri untuk tidak membuka komunikasi politik dengan partai lain, selain PDS dan PPRN yang diproyeksikan menjadi rekan koalisi PDIP.
RE bahkan mengikuti saran tokoh-tokoh DPP PDIP untuk tidak melakukan pendekatan kepada Partai Gerindra, karena konon hubungan kedua partai kurang harmonis pasca Pilkada Jakarta. Padahal, DPD Gerindra Sumut sebenarnya telah merekomendasikan RE sebagai calon tunggal ke DPP.
Tetapi ketika KPU Sumut telah mulai membuka pendaftaran, PDIP secara mengejutkan memutuskan mencalonkan nama yang sama sekali tidak pernah ikut mendaftar baik di DPD PDIP Sumut, maupun di DPP.
Di saat bersamaan, PDS juga menarik dukungan, setelah sehari sebelumnya mereka menyatakan akan mendukung RE Nainggolan sampai titik darah penghabisan.
Sebagai komunitas yang mengedepankan intelektualitas dan konsern terhadap pendidikan politik, Sahabat RE Nainggolan sadar betul akan proses politik di Indonesia secara khusus di Sumatera Utara untuk terus dimaknai dengan nilai nilai yang mengedepankan etika dan mematuhi konstitusi sebagai aturan main. Oleh karenanya Sahabat RE sekalipun merasa sangat terkejut dengan kenyataan itu tetap saja dengan elegan menerima keputusan politik yang menyakitkan yang dialami oleh RE Nainggolan.
Ternyata tidak hanya sahabat RE Nainggolan yang bisa melihat potensi pada diri mantan Bupati Tapanuli Utara ini, tetapi juga kekuatan politik besar di Sumut dan Indonesia. Partai Demokrat membuka pintu, begitu melihat RE Nainggolan tersisih, atau lebih tepatnya disisihkan dari PDI Perjuangan.
RE Nainggolan pada awalnya menyatakan keengganan. “Kepada semua pendukung, saya sudah berjanji akan maju menjadi calon gubernur, bukan wakil,” katanya.
Sekali lagi para sahabat harus meyakinkannya bahwa ini pilihan terbaik, karena kompetensi dan pengalamannya sangat dibutuhkan. Semua tahu, gagal menjadi calon gubernur sama sekali bukan kemauan RE Nainggolan sendiri. RE Nainggolan sudah melakukan apa yang dia bisa, semampunya, sekuat tenaganya untuk memenuhi janji kepada pendukung menjadi calon gubenur, tetapi keputusan di tangan pemilik partai, terlepas dari kenyataan bahwa mereka melanggar aturan yang mereka buat sendiri.
RE Nainggolan dan Tim Sahabat RE, melalui pertimbangan matang di tengah waktu yang begitu sempit, akhirnya memutuskan untuk maju menjadi calon wakil gubernur, mendampingi Drs H Amri Tambunan, sahabatnya sejak bersama-sama satu kelas di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri, Medan, Tahun 1972.
Selain berbagai pertimbangan lain, persahabatan mereka yang telah terjalin puluhan tahun, membuat RE Nainggolan memilih bersama dengan Amri Tambunan, meski calon lain sesungguhnya juga memberi sinyal untuknya.
Dukungan Sahabat RE Nainggolan tidak pernah surut hanya karena proses politik seperti itu. “Mungkin memang benar bahwa politik itu kejam, tetapi kita tidak boleh menyerah dengan sebuah kekejaman,” tegas Nelson Parapat, Tim Sahabat RE Sumut.
Para sahabat yakin, RE Nainggolan di posisi sebagai wakil gubernur tetap akan mendatangkan manfaat bagi Sumatera Utara, membantu dan bekerja sama dengan Amri Tambunan; dua tokoh Sumut berlatarbelakang birokrat, yang sama-sama sudah teruji kemampuan dan pengabdiannya.
Akhirnya, seluruh sahabat RE Nainggolan, menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru 1 Januari 2013. Semoga di tahun mendatang, kita semua beroleh anugerah dan karunia yang lebih besar dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Sumut menemukan pemimpin yang mengerti, berpengalaman, berkemampuan, dan mencintai Sumut lebih dari siapapun. Semoga!
(BS-002)
Tags
beritaTerkait
komentar