Sabtu, 08 Agustus 2026

Yayasan TIFA Bersama Yayasan Kampung Halaman Luncurkan Film Dokumenter Ahu Parmalim

Selasa, 14 November 2017 00:30 WIB
Yayasan TIFA Bersama Yayasan Kampung Halaman Luncurkan Film Dokumenter Ahu Parmalim
BERITASUMUT.COM/IST
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Masyarakat dengan agama minoritas dan penganut aliran kepercayaan adalah bagian keragaman Indonesia. Selain 6 agama yang diakui, Indonesia juga memiliki ratusan agama kepercayaan. Berdasarkan data dari Direktur Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan  Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2104, tercatat ada 239 Organisasi Penghayat terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 
 
Data lain di tahun yang sama dari Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kementerian Dalam Negeri mencatat jumlah yang lebih banyak yakni 295 organisasi dengan jumlah penghayat 9.976.720 orang. Namun demikian, jumlah penghayat di seluruh Indonesia diperkirakan lebih besar karena banyak penghayat yang memilih tidak melaporkan kepada pemerintah atau terpaksa memilih satu dari 6 agama mayoritas agar tidak terkendala persoalan administrasi kependudukan.
 
Sampai saat ini, warga penghayat masih menghadapi banyak tantangan di Indonesia, termasuk remaja penghayat yang menjadi bagian di dalamnya. Remaja-remaja ini juga membutuhkan akses yang sama seperti remaja Indonesia lainnya untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan yang diimpikan, kemandirian secara ekonomi dan usaha untuk meneruskan pengetahuan. Hingga saat ini, diperkirakan sedikitnya ada sekitar 2,5 juta remaja penghayat dari 63 juta remaja Indonesia dan mereka adalah bagian dari bonus demografi.
 
Untuk mempromosikan hak-hak warga penghayat termasuk anggota masyarakat remaja, Yayasan TIFA bekerja sama dengan Yayasan Kampung Halaman (YKH), akan meluncurkan sebuah film dokumenter pendek berjudul 'Ahu Parmalim' pada 16 November 2017, bertepatan dengan peringatan Hari Toleransi Internasional. 
 
Film Ahu Parmalim ini mulai diproduksi pada Februari 2017 melalui proses kolaborasi pembuat film dengan remaja mengenai isu yang dianggap penting dan genting oleh remaja. Carles, adalah remaja penghayat Parmalim yang menjalani dua peran besar sebagai anak laki-laki dan remaja yang kemudian dituturkan melalui cara pandang/kreativitas pembuat film.
 
“Pertanyaan besar saya tentang bagaimana remaja Parmalim menjalani kehidupannya terjawab lewat Carles. Remaja 17 tahun ini sudah berusaha menyeimbangkan diri, antara berbakti pada keluarga dan memenuhi keinginan pribadinya. Carles mengurus dirinya sebaik yang dia usahakan. Saya percaya sikap Carles tersebut berkaitan dengan apa yang Carles yakini sebagai Parmalim,” ungkap Cicilia Maharani, sutradara Ahu Parmalim dalam siaran persnya, Senin (13/11/2017). (Rel)
 

Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru
hit tracker