Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Kondisi Kinara (4), balita korban selamat dalam peristiwa pembantaian yang menewaskan lima orang dalam satu keluarga di Jalan Mangaan, Lorong Benteng, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli dikhawatirkan dapat memberikan traumatik yang mendalam bagi kejiwaannya.
Terkait hal tersebut, Direktur Minauli Counsulting Irna Minauli mengungkapkan jika Kinara perlu mendapatkan penanganan psikologis yang tepat. "Trauma yang dialami oleh anak yang selamat dari bencana yang menghabisi nyawa seluruh anggota keluarga biasanya menjadi semakin besar. Selain juga dihantui oleh ketakutan, disertai rasa bersalah karena hanya dia yang selamat," katanya kepada wartawan, Senin (10/04/2017).
Menurut dia, metode yang biasa dilakukan untuk anak biasanya dilakukan secara tidak langsung. Misalnya dengan terapi bermain (play therapy) atau menggambar (art therapy). Akan tetapi anak perlu merasa aman terlebih dahulu sehingga ia mau bekerjasama dengan pihak penyidik."Tanda-tanda trauma yang biasa muncul adalah mimpi buruk serta terjadi regresi yaitu kemunduran dalam perkembangan anak. Misalnya anak menjadi ngompol padahal sebelumnya sudah bisa ke kamar mandi sendiri," ungkapnya.
Kinara yang menjadi saksi kunci atas kasus pembunuhan terhadap seluruh keluarganya tersebut, lanjut Irna, tentu memiliki sejumlah informasi penting.Namun, karena usianya masih balita, seringkali kesaksiannya menjadi berubah tergantung jenis pertanyaan yang diajukan. Terlebih dalam kasus ini ia juga diduga akan mengalami trauma.
Karenanya Irna menilai pihak kepolisian yang menangani kasus ini harus memahami kondisi psikologis anak sehingga tidak terburu-buru untuk memperoleh informasi. Jika penanganan tidak tepat, maka trauma yang dirasakan anak akan semakin besar sehingga informasi menjadi tidak akurat."Tentu saja Kinara perlu mendapatkan perlindungan dari pemerintah atau lembaga terkait, sebab ia juga dapat terancam," katanya.
Sementara itu, Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) di Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU), mengatakan, pembunuhan keji sebagian besar dipicu perilaku agresif yang dialami seseorang. Agresif adalah perilaku membahayakan, menyakiti, melukai dan menghina orang lain."Membunuh juga terkait dengan tingkat perilaku agresif seseorang. Banyak faktor memengaruhi kondisi ini di tengah masyarakat," sebutnya.
Ia mengatakan, perilaku agresif dapat berupa verbal maupun non-verbal. Pada tingkat tertentu, kondisi ini mampu memengaruhi jiwa seseorang."Sejumlah faktor memengaruhi tingkat agresif seseorang. Di antaranya, genetik, seseorang dengan tingkat agresif yang tinggi, keturunannya cenderung akan mewarisi sifat itu. Kedua faktor biologis, yakni terkait dengan zat-zat kimia di otak," jelasnya.
Dokter Mustafa M Amin MKedKJ MSc SpKJ (K) menambahkan, asumsi sebagian besar masyarakat umumnya mengaitkan penyakit jiwa dengan kriminalitas, seperti pembunuhan."Beberapa hasil peneletian menyebutkan, pada kondisi penyakit jiwa yang umum dialami masyarakat seperti depresi, ansietas/kecemasan, gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas, tidak berhubungan dengan tindakan kriminal," jelasnya.
Penelitian di Amerika Serikat, sambungnya, menyatakan hanya 4,3 persen orang dengan gangguan jiwa yang terlibat kriminalitas, seperti pembunuhan.Dan satu persen orang dengan gangguan jiwa berat yang tidak mengkonsumsi obat secara teratur bisa melakukan pembunuhan."Apakah pelaku tindakan kriminal menderita penyakit kejiwaan atau tidak, maka harus di evaluasi oleh seorang dokter ahli jiwa atau psikiater," pungkasnya.(BS04)
Tags
beritaTerkait
komentar