Rabu, 06 Mei 2026

BNPB dan BPBD Siapkan Rencana Kontinjensi Antisipasi Kekeringan

Kamis, 28 Mei 2015 23:21 WIB
BNPB dan BPBD Siapkan Rencana Kontinjensi Antisipasi Kekeringan
Istimewa
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com - Musim kemarau Tahun 2015 ini diperkirakan normal. BMKG telah memprediksikan fenomena El Nino tidak menguat, masih dalam normal hingga sedang sehingga musim kemarau tidak akan berkepanjangan. Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau sejak bulan Mei dan Juni. Puncak kemarau diperkirakan September.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/5/2015).

Meskipun kemarau normal, namun kekeringan dan krisis air diperkirakan terjadi di beberapa wilayah yang kondisi alamnya memang kering. Juga karena ketersediaan airnya sudah defisit dibandingkan dengan kebutuhan air. Beberapa daerah di Jawa, Bali, NTT, NTB, Lampung dan sebagian di Sumatera diperkirakan akan mengalami krisis air seperti Purwakarta, Wonogiri, Purwodadi, Pacitan, Boyolali, Pantura Jawa, Tuban, dan lainnya seperti tahun sebelumnya yang memang rawan kekeringan.

Masih menurut Sutopo, Kepala BNPB Syamsul Maarif telah meminta jajaran di BNPB dan BPBD menyiapkan langkah-langkah antisipasi. Rencana kontinjensi disusun untuk mengatur strategi penanganan darurat kekeringan. Kekeringan bersifat slow on set. Artinya berlangsung secara perlahan sehingga lebih mudah mengatasinya. Untuk kelangkaan air dilakukan dengan pengerahan tangki air dan logistik ke daerah rawan kekeringan. Himbauan hemat air dan pengaturan air untuk irigasi pertanian. Gerakan pemanenan hujan, restorasi sungai, pengurangan risiko bencana dan perbaikan lingkungan lebih ditingkatkan. Solusi jangka panjang mengatasi kekeringan perlu mitigasi struktural secara masif dengan pembangunan embung, bendung dan waduk. Tugas ini adalah kewenangan oleh Kementerian PU Pera dan Kemen Pertanian.

Dampak kemarau lain adalah potensi kebakaran hutan dan lahan yang akan terus meningkat. Umumnya pola hotspot di Sumatera dan Kalimantan akan banyak hotspot selama Juni-Oktober. Untuk itu antisipasi karhutla terus dilakukan bersama dengan Kemen LH dan Kehutanan dan Pemda, pungkas Sutopo. (BS-001)

Tags
beritaTerkait
Perlu Waspada, Sumut Merupakan Provinsi Kelima Terbanyak Bencana
Siaga Hadapi Karhutla, Musim Mas Kolaborasi dengan Para Pemangku Kepentingan
Dukung Percepatan Penanganan Bencana, Pemerintah Indonesia Dorong Bantuan Kemanusiaan Tahap Dua ke Turki
 Dorong Transformasi BNPB, Presiden Jokowi Tekankan Lima Hal
BNPB dan Utusan Khusus PBB Tinjau Sekolah Aman Bencana SDN 13 Klender Jakarta
Penanggulangan Erupsi Semeru, Dansatgas Fokus Pembangunan Insfrastruktur dan Pemukiman
komentar
beritaTerbaru
hit tracker