Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Negeri Medan yang bekerjasama dengan Universitas Medan Area (UMA) dan Pemkab Serdang Bedagai melanjutkan program Iptek Bagi Wilayah (IBW) tahun kedua dengan memberdayakan potensi masyarakat Serdang Bedagai melalui inovasi mangrove.
Dilansir dari laman resmi humas.unimed.ac.id, Dr Kustoro Budiarto selaku Ketua LPM Unimed menegaskan Iptek bagi wilayah ini adalah program pemberdayaan masyarakat di daerah binaan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat secara ekonomi melalui inovasi dan teknologi.
“Tahun lalu kita memberdayakan posyandu holistik di 10 desa di Sergai. Caranya kita memberi pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga agar memanfaatkan waktu mereka memproduksi barang-barang yang bisa dijual. Ada income generate (penghasilan tambahan) membantu ekonomi keluarga,” kata Kustoro, awal pekan ini.
“Nah kemarin, kita memberi pelatihan kepada kelompok usaha bertempat di balai desa Desa Besar II Terjun Serdang Bedagai. Tahun ini kita fokus di ekologi mangrove yang punya nilai ekonomis,” tambahnya.
Seperti tahun lalu, dua dosen FE Unimed memfasilitasi kegiatan ini yaitu Zulkarnain Siregar yang bulan ini akan melaksanakan ujian terbuka program doktor di USU dan satu lagi Armin Rahmansyah Nasution.Dalam Ipteks Bagi Wilayah (IBW) yang diadakan di Desa Besar II Terjun Sergai itu dibuka Kepala Bappeda Sergai Taufik Batubara, Kepala Desa Besar II Terjun Sulaiman Syah, narasumber Meilinda Suryani dari technical manager Yayasan Gajah Sumatera (Yagasu), kemudian pembimbing teknis juga dari Yagasu.
Kepala Bappeda Sergai, Taufik Batubara menyatakan pelatihan yang diberikan kepada para perajin mangrove di Sergai sebagai bentuk sinergi perguruan tinggi meningkatkan kemampuan masyarakat desa. “Kita memang menggagas desa yang inovatif. Di Sergai ini semua ada. Tuhan memberi Sergai daerah darat dan laut yang luas. Khusus laut, semua sumber dayanya ada di Serdang Bedagai yang merupakan pinggiran pantai,” paparnya.
Selain pelatihan kelompok, perajin juga mendapat bantuan peralatan dan bahan baku mengolah mangrove. Zulkarnain Siregar menyatakan setelah pelatihan ini, akan ada evaluasi dan peninjauan tiga minggu ke depan sudah seperti apa tindak lanjut dari hasil yang mereka terima. “Kita ingin lihat apa ada yang terkendala atau butuh bimbingan lagi. Sampai kemudian mereka bisa menjual produknya,” pungkasnya. (BS02)
Tags
beritaTerkait
komentar