Minggu, 02 Agustus 2026

Metode Pengobatan Sudah Seharusnya Berkembang dari Waktu ke Waktu

Jumat, 06 April 2018 13:48 WIB
Metode Pengobatan Sudah Seharusnya Berkembang dari Waktu ke Waktu
beritasumut.com/ist
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Metode cuci otak dengan Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dilakukan dokter Terawan dalam pengobatan stroke, menarik perhatian anggota komisi IX DPR yang juga berprofesi sebagai dokter, Adang Sudrajat. 
 
Dokter Adang Sudrajat menilai Metode dari dokter Terawan, bisa dianggap terlalu jauh dalam konteks Radiologi intervensi, karena melakukan tindakan therapy yang selama ini tidak ada dalam wewenang profesi Radiolog. Namun, menurut legislator FPKS ini, ada pengecualian untuk tindakan radiotherapy,  sangat perlu dilakukan dengan adanya rujukan dari ahli oncologi baik penyakit dalam maupun bedah. Sedangkan dokter Terawan melakukan tindakan therapeutik tanpa adanya rujukan dari Neurolog ataupun Neurosurgeon.
 
Legislator daerah pemilihan Kabupaten Bandung dan Bandung Barat ini menjelaskan, bahwa pertanggungjawaban keabsahan metodologi dokter Terawan bisa di uji dengan Evidence Base Clinical Trial. Selama hasilnya bisa dipertanggungjawabkan, secara cost and benefit, maka komunitas kesehatan harus bisa menerimanya sebagai sebuah metode pengobatan yang memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
 
“Tidak ada satupun metode pengobatan yang sempurna, artinya paling efektif menyembuhkan tapi tanpa resiko sama sekali. Setiap metode diukur dengan potensi manfaat dengan potensi resiko yang mungkin terjadi,” ucap dokter Adang.
 
Dengan demikian, lanjut Adang,  mungkin perlu dibuka kembali suasana dialogis yang dapat menghasilkan suasana keterbukaan satu sama lain. Dengan lebih membuka diri pada sesuatu hal yang baru, yang rujukan tex book-nya belum di dapatkan. Apabila memang sebuah metode memiliki manfaat yang besar dengan resiko yang jauh lebih kecil  dengan Clinical Trial yang dapat dipertanggungjawabkan kenapa tidak dapat menerimanya.
 
“Pemerintah mulai saat ini semestinya memberikan fasilatas anak-anak bangsa yang berpotensi besar membesarkan bangsa. Seandainya Clinical Trial ini memakan biaya tinggi, sudah seharusnya pemerintah mengalokasikan anggaran, agar hasil karya anak bangsa terus berkembang. Bukan hal yang mustahil Indonesia akan menjadi salah satu negara pelopor dalam pengembangan metode pengobatan baru. Bukan hanya sebagai pengekor seperti selama ini,” pungkas dokter Adang Sudrajat.(rel)

Tags
beritaTerkait
Dinkes Medan Targetkan Obati 18.000 Penderita TB
Sumut Lampaui Target Pengobatan TBC
Sosialisasi Kanker di Nias, Nawal Lubis : Jangan Takut Periksa dan Berobat, Kami Akan Bantu
Pemko Medan Apresiasi Hadirnya RAS Smiling Kids
Ada 14 Kasus Gangguan Ginjal Akut di Sumut, Gubernur Edy Rahmayadi Gelar Rakor Siapkan RS dan Gratiskan Pengobatan
 Satgas Pamtas Yonif 126/KC Berikan Pengobatan Keliling Kampung
komentar
beritaTerbaru
hit tracker