Kamis, 30 April 2026

Penting Bagi Anak Anda! Tak Suka Sayur, Anak Beresiko Tinggi Terkena Usus Buntu

Rabu, 19 Juli 2017 22:45 WIB
Penting Bagi Anak Anda! Tak Suka Sayur, Anak Beresiko Tinggi Terkena Usus Buntu
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Anak-anak usia 3 sampai 12 tahun sangat rentan terserang penyakit usus buntu. Padahal di usia tersebut, dinding usus mereka masih tipis dan mudah bocor. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya konsumsi sayur.
 
Dokter spesialis bedah anak, dr Erjan Fikri SpBA mengatakan, jika mengalami peradangan atau pencernaannya terganggu, usus pada anak memang sangat mudah bocor. Penyebabnya beragam, di antaranya infeksi, sumbatan, dan secara teoritis tidak mengonsumsi makanan yang mengandung banyak serat."Kita ketahui anak-anak kan susah makan sayur. Padahal yang seperti ini risiko terkena usus buntunya lebih tinggi," ujarnya kepada wartawan, Rabu (19/07/2017).
 
Menurutnya, gejala penyakit usus buntu pada anak sangat jahat, karena tidak khas, yakni hanya sekadar mual dan sakit perut biasa. Kondisi ini sering dianggap sepele dan tidak bisa dideteksi sejak awal."Setelah mual dan sakit perut, besoknya sakitnya akan menetap di kanan bawah posisi apendiks dan sudah tergolong usus buntu tingkat parah. Mulai sekarang, orangtua tidak boleh menganggap sepele mual pada anak," tegasnya.
 
Sementara itu pada orang dewasa, usus buntu sudah memiliki pengaman yang disebut omentum, sehingga ketika bocor masih bisa dilindungi. Sedangkan pada anak, omentumnya masih pendek dan bertumbuh, serta belum mampu melindungi dinding usus."Rentan memang di usia anak karena omentumnya masih tumbuh. Artinya, daerah yang menghubungkan lambung dan usus besar masih menggantung," jelasnya.
 
Karenanya ia mengimbau agar orangtua bisa lebih tegas untuk menyuruh anak makan sayur. Jika mual dan sakit perut supaya segera diperiksakan.Usus buntu pada anak, sambungnya, termasuk salah satu kasus yang banyak ditangani. Penyakit ini tampak ringan, padahal bahaya dan bisa menyebabkan kematian."Umumnya yang datang berobat ada yang sudah sepsis (infeksi berat). Makin kecil anak makin rentan karena daya tahan tubuhnya masih lemah," terang dr Erjan.
 
Di tempat terpisah, dr Rita Evalina SpA(K) menambahkan, gejala usus buntu pada anak biasanya berupa rasa nyeri di perut kanan bawah diikuti demam. Kadang sakitnya tidak terlalu menonjol, tetapi kadang sangat mengganggu sehingga si anak harus berjalan membungkuk akibat rasa sakit."Kalau ususnya sudah pecah, biasanya sangat sakit. Perut tegang, tidak bisa buang angin atau buang air besar (BAB)," katanya.
 
Ia menjelaskan, usus buntu merupakan bagian dari usus besar paling bawah berbentuk tabung kecil disebut apendiks. Jika bagian itu meradang maka disebut apendisitis, yakni peradangan dari apendiks.
 
Untuk mencegah apendisitis, lanjutnya, BAB harus lancar. Jika tidak, kotoran yang tidak keluar bisa mengisi apendiks dan menyebabkan reaksi radang."Kita ketahui anak-anak pada usia tersebut memang sulit makan sayur atau serat. Mereka suka pilih-pilih saat makan sehingga asupan serat berkurang dan mempertinggi risiko terjadinya usus buntu," pungkasnya.(BS07)
 

Tags
beritaTerkait
Peringati HUT ke-29, Pertamina Sumbagut Gelar Nuzulul Qur’an dan Santuni Anak Yatim
Sambut Ramadan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Salurkan Santunan bagi Anak Yatim
Wakil Walikota Medan Apresiasi Kepedulian DPD REI Sumut kepada Anak Yatim Piatu dan Dhuafa
Wujudkan Pemenuhan Hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian, Pemko Binjai Bersama PA Kota Binjai Laksanakan Penandatanganan Kerjasama
Serahkan Bantuan ke UPTD PS Anak dan Balita Medan, Kepala Dinas Sosial Sumut Apresiasi IWABA Medan
Lanjutkan Program UHC-JKMB, Rico Waas Apresiasi Lomba Karya Tulis Jurnalis KoJAM
komentar
beritaTerbaru
hit tracker