Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritasumut.com
+ Gabung
Beritasumut.com-Dihadapan para ulama yang tergabung dalam seminar bertajuk 'Islam dan Nasionalisme Menuju Persatuan Bangsa' yang diselenggarakan oleh Dar el-Fatwa Lebanon, Menteri Agama (Menag) Indonesia hadir sebagai salah satu Keynote Speech. Menag, Lukman Hakim Saifuddin yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Beirut, Lebanon, diminta menjadi salah satu pembicara yang menjelaskan tentang pentingnya rasa cinta tanah air dihadapan para ulama, pertengahan pekan ini.
Dalam kesempatan itu, Menag menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman penjajah kolonial tidak terlepas dari peran tokoh, ulama, dan pemuka agama. Mereka berperan penting sekaligus berada pada garda terdepan dalam melakukan perlawanan untuk membebaskan negeri dari penjajahan.
"Semangat perjuangan para ulama didasari pada kecintaan terhadap tanah air seperti ungkapan hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman)," tegas Menag, pertengahan pekan lalu, malam waktu Beirut. Sebagaimana yang dilansir dari laman resmi kemenag.go.id.
Baca Juga:
Menurutnya, meski ungkapan tersebut bukanlah hadis sahih, tetapi makna dan substansinya sejalan dan sangat dianjurkan agama. Apalagi jika dipahami, lanjut Menag, tanah air yang menjadi tempat menetap juga merupakan tempat menjalankan ajaran agama.
"Rasulullah sendiri adalah orang yang sangat mencintai tanah kelahirannya, Mekkah. Oleh karenanya, beliau sedih ketika terpaksa harus meninggalkan Mekkah dalam keadaan terusir. Kecintaan terhadap tanah air yang bersifat fitrah ini mendapat respon positif dari Allah, dengan menurunkan wahyu yang menginformasikan bahwa Allah berjanji mengembalikan beliau ke Kota Mekkah," paparnya.
Baca Juga:
Dikatakan Menag, saat kaum penjajah kolonial datang di awal abad 16 Masehi, Islam sudah mengakar dalam hati bangsa Indonesia. Bahkan saat itu dan satu-dua abad berikutnya, sudah berdiri beberapa kerajaan Islam, antara lain: Samudera Pasai, Perlak, Demak, Banten, Mataram, Gowa dan sebagainya. Kerajaan-kerajaan itu melakukan perlawanan terhadap penjajah untuk meraih kemerdekaan.
"Para ulama dan pemuka agama berperan penting dalam upaya membebaskan negeri dari penjajahan," imbuhnya. Dia juga mengatakan, ulama memiliki minimal dua peran, yaitu sebagai pengajar, pemikir, atau pembaharu, juga sebagai panglima atau pemimpin perang melawan imperialisme Barat.
"Semangat juang (jihad) membela negara dan tanah air mereka kobarkan," pungkasnya. (BS02)
Tags
beritaTerkait
komentar